04 May 2007

Museum Mpu Tantular dan Von Vaber


Museum Mpu Tantular di Desa Sidokerto, Buduran, Sidoarjo, punya galeri baru. Galeri Von Faber dimaksudkan untuk mengenang Godfried Hariowald Von Vaber (1899-1955), BAPAK MUSEUM di Jawa Timur.

Oleh LAMBERTUS L. HUREK


BAGI pembaca serial Soerabaia Tempo Doeloe (STD), nama GH Von Vaber tentu tak asing lagi. Pria campuran Belanda-Jerman ini merupakan wartawan dan penulis buku klasik Oud Soerabaia dan Niew Soerabaia, dua kitab yang menjadi rujukan utama Dukut Imam Widodo, penulis kisah STD.

Ternyata, pria kelahiran Surabaya 1 Desember 1899, meninggal juga di Surabaya 29 September 1955, itu tercatat sebagai perintis museum di Jawa Timur. Makam Von Vaber di Kembang Kuning, Surabaya, telah ‘ditemukan’ tim STD bersama RADAR Surabaya dan kini telah dipugar oleh Pemkot Surabaya.

Lalu, kenapa nama Von Vaber diabadikan sebagai nama galeri utama di Museum Mpu Tantular, Buduran?

Menurut Himawan, kepala museum, pihaknya sengaja mengabadikan nama GH Von Vaber untuk mengenang jasa-jasa besar beliau di bidang permuseuman. Museum seluas 3,5 hektare di Buduran, Sidoarjo, itu memang kelanjutan dari museum lama di Taman Mayangkara, Surabaya.

Kalau ditarik ke belakang, maka kita akan ketemu nama Von Vaber. Dialah perintis berdirinya museum di Jawa Timur.

Mengutip catatan sejarah, Himawan mengatakan, Von Vaber mendirikan perkumpulan museum sejarah kota (Stedelijk Historisch Museum) pada 6 Mei 1933. Museum ini menggambarkan pengetahuan Von Vaber yang luas di bidang sejarah. Von Vaber itu pencinta sejarah yang sulit dicari bandingannya. Museum perintis ini dimulai dengan koleksi pribadi Von Vaber kecil-kecilan.

Setahun kemudian, 20 Oktober 1934, museum provinsi Jawa Timur dibuka dan Von Vaber diangkat sebagai ketua. Tahun 1949 dua museum itu digabung menjadi Universeel Cultureel Centrum voor Volksontwikkeling [Yayasan Pusat Pendidikan Umum untuk Kebudayaan] di Surabaya. Warga menyebut museum ini dengan nama Museum Von Vaber. Lokasinya di Jl Simpang 3 Surabaya, sekarang kompleks SMA Trimurti.

Singkat cerita, Museum Von Vaber kemudian bermetamorfosa menjadi Mpu Tantular. Lokasinya mula-mula di Jalan Pemuda 3 Surabaya.

Pada 12 Agustus 1977 pindah ke Taman Mayangkara 6 Surabaya. Karena koleksi makin banyak, sementara kapasitas terbatas, Pemerintah Jawa Timur mendirikan museum yang lebih luas di kawasan Buduran, Sidoarjo.

Ditandai wayang kulit semalam suntuk, Museum Mpu Tantular (dulu Museum Von Vaber) resmi beroperasi di Sidoarjo sejak 14 Mei 2004.

Masyarakat kita mudah lupa. Jasa besar seorang Von Vaber pun nyaris terabaikan oleh masyarakat dan pemerintah. Baru setelah tulisan Surabaia Tempo Doeloe (versi Dukut Imam Widodo) dimuat panjang lebar di koran Radar Surabaya, nama Von Vaber mencuat lagi. Makamnya di Kembang Kuning, Surabaya, dicari dan akhirnya ketemu di Blok X Nomor 806 C.

Pihak Museum Mpu Tantular pun mengabadikan nama Von Vaber untuk mengenang penulis besar serta pelopor museum itu. Dalam beberapa kesempatan Himawan, bos museum sekarang, mengajak masyarakat untuk tidak segan-segan datang menikmati tamasya sejarah di Museum Mpu Tantular.

Begitu banyak koleksi menarik di Buduran, yang menjadi saksi bisu peristiwa-peristiwa sejarah masa lalu. Ingat nama Von Vaber, kita seakan-akan diajak mengingat sejarah.

Presiden Sukarno bilang: “Jangan sekali-kali melupakan sejarah!”

3 comments:

  1. Dear Lambertus,

    In your blog entry on von Faber:

    http://hurek.blogspot.com/2007/05/museum-mpu-tantular-dan-von-vaber.html

    There is a photo of the "Galeri von Faber".

    Can I ask you for the location of this gallery as I would be interested to see it and I live in Surabaya?

    Thanks for your interesting article.

    KInd regards,

    Graeme Steel

    ReplyDelete
  2. thanks ya dari dulu saya pangen liat2 ke museum mpu tantular, tapi setiap teman yang saya tanya selalu jawab tidak tau lagi sekarang masih di buka atau tidak...dgn begini kan saya jadi tau kalo museumnya masih ada, karena jujur saya ini pengemar berat bangunan2 lama...termasuk apa saja yang berbau klasik...

    ReplyDelete