01 May 2007

Mgr Sutikno dan Mama


Menjelang Paskah 2007, umat Katolik di Keuskupan mendapat kado istimewa. Mgr Leopoldo Girelli, Duta Besar Vatikan untuk Republik Indonesia, yang mewakili Paus Benediktus XVI, membawa kabar gembira tentang penunjukan Romo Vincentius Sutikno Wisaksono Pr sebagai Uskup Surabaya yang baru pengganti Mgr Johanes Hadiwikarta Pr yang meninggal dunia pada 13 Desember 2003.

Oleh HETI PALESTINA YUNANI

Selasa (3/4/2007), Keuskupan Surabaya di Jalan Polisi Istimewa 15 Surabaya mendadak mendapat tamu istimewa, Mgr Leopold Girelli. Hari itu juga bertepatan dengan Rekoleksi Para Imam se-Keuskupan Surabaya yang dipimpin Mgr Aloysius Sutrisnaatmaka MSF, Uskup Palangkaraya).

Bersama para imam se-Keuskupan Surabaya, Mgr Girelli merayakan Misa Krisma, tradisi menjelang trihari suci. Pada perayaan ekaristi Janji Imamat dan Pemberkatan Minyak Krisma yang juga dipimpin bersama Romo Julius Haryanto CM (Administrator Diosesan Surabaya) dan Romo Gabriel Dasi SVD itu terasa benar persekutuan para imam dengan uskup.

''Misa itu menunjukkan kesatuan imamat yang kental,'' kata Romo Alf Boedi Prasetijo Pr, Ketua Komunikasi Sosial Keuskupan Surabaya, saat jumpa pers, Rabu (4/4/2007).

Saat misa di Gereja Hati Kudus Yesus (Katedral) Surabaya itulah, Pronuncio (duta besar Vatikan untuk Indonesia) menyampaikan kabar yang menggembirakan umat Katolik.

"Saya tahu bahwa kalian merayakan Misa Krisma tanpa uskup Anda sendiri. Itulah sebabnya, Mgr Sutrisnaatmaka dan uskup-uskup lain datang membantu Keuskupan Surabaya dalam tugas uskup sejak 2003 sampai sekarang.

"Karena itu, dalam kaitan ini, saya dengan gembira memberitakan kepada Anda bahwa Bapa Suci Paus Benediktus XVI telah menunjuk Romo Vincentius Sutikno Wisaksono dari keuskupan ini sebagai Uskup Surabaya," kata Romo Boedi yang mengutip sambutan Mgr Girelli dalam bahasa campuran Italia dan Inggris yang diterjemahkan Romo Benediktus Dicky Rukmanto Bayukisworo Pr.


Pernyataan Pronuncio itu tentu saja mengejutkan. Para imam yang hadir dalam Misa Krisma tak mengira Pronuncio yang berusia 54 tahun itu akan mengumumkan kabar gembira itu. Sebab, kunjungan ke Keuskupan Surabaya dilakukan di sela-sela kunjungan ke beberapa keuskupan mulai dari Medan, Atambua, dan Papua.

"Namun, kabar itu juga sekaligus ditunggu karena pada 11 Maret 2007 lalu, Prunoncio mengumumkan pengangkatan Pastor Ludovikos Simanullang OFMCap, Provisial Kapusin Sibolga, sebagai uskup Sibolga. Kami tentu saja bertanya, kapan pengumuman pengangkatan untuk Uskup Surabaya?'' kata Romo Boedi.

Selama kekosongan uskup Surabaya, beberapa acara yang menuntut kehadiran uskup terpaksa harus mendatangkan uskup dari kota lain. Tercatat Kardinal Julius Darmaatmadja SJ (Uskup Agung Jakarta), Mgr Ignatius Suharyo (Uskup agung Semarang), dan Mgr HJS Pandoyoputro OCarm (Uskup Malang) menggantikan tugas Uskup Surabaya yang kosong.

Dengan penunjukan uskup Surabaya yang baru ini, maka takhta uskup Surabaya yang lowong tiga tahun lebih terisi. ''Uskup Surabaya sebelumnya, Mgr Johanes Sudiarna Hadiwikarta Pr, meninggal 13 Desember 2003,'' terang Romo Boedi.

Saat ditunjuk, Romo Tikno--panggilan akrabnya--sedang berada di Manila, Filipina, untuk menyelesaikan doktoralnya. Namun, lewat sebuah surat yang ditunjukkan kepada Romo Julius Haryanto CM, yang selama ini melaksanakan sebagian tugas Keuskupan Surabaya, Romo Tikno yang tahun ini juga merayakan 25 Tahun Imamat menyambut tugas itu dengan lapang dada.

Pria kelahiran Surabaya, 26 September 1953, itu merasa penunjukannya sangat kebetulan dengan saat memasuki Pekan Suci yang sangat mulia menjelang Paskah.

"Bagi saya, penunjukan dari Bapa Suci ini adalah partisipasi dalam sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya untuk lebih mengasihi Tuhan dan gereja-Nya. Kita sudah menunggu relatif lama, malah ada yang lelah berdoa untuk memohon uskup.

“Itulah konsekuensi kasih yang harus menunggu dengan sabar dan percaya serta tetap mengasihi-Nya. Sementara menanggung semua yang tidak pasti, kita percaya Tuhan bekerja demi kebaikan kita,” tulis Mgr Sutikno.


Uskup asli Surabaya ini putra kedua dari tiga bersaudara pasangan almarhum S Wisaksono dan Ursula Madijanti yang tinggal di Jalan Darmo Permai Utara 1/49 Surabaya.

*******

Penunjukan Romo Vincentius Sutikno Wisaksono Pr sebagai uskup Surabaya disambut gembira keluarganya. Ibunya, Ursula Madijanti [83 tahun], tak kuasa menahan haru dan tak berhenti mengucap syukur kepada Allah.

“Saya memang selalu berdoa agar Tikno bisa menjadi gembala yang baik, tapi tak pernah menyangka jika Tuhan pilihkan jalan ini untuknya,” kata Ursula Madijanti.

Kebahagiaan Ursula memang tak terperi. Anak kedua dari tiga bersaudara itu memang sejak kecil beriktikad mengabdikan diri menjadi pelayan Tuhan. Masih diingatnya bagaimana Tikno kecil sudah meminta izin untuk masuk seminari. Tapi, sebagai ibu, Ursula tak tega karena Tikno baru saja lulus SD Katolik Santo Mikael Surabaya.

“Bukan sangsi, tapi jika sejak kecil Tikno masuk seminari, saya akan cepat kehilangan dia,” katanya.

Rencana itu pun tertunda hingga Tikno menyelesaikan studi di SMP Katolik Angelos Custos Surabaya. Begitu lulus, Ursula tak bisa melarang ketika Tikno masuk Seminari Menengah Santo Vincetius a Paulo di Garum, Blitar.

Sejak itu, Ursula pun merelakan Tikno menempuh pendidikan calon pastor. Sebagai anak laki-laki satu-satunya, Ursula mengaku sedikit kehilangan Tikno. Sosok anak penurut, taat, tak bertingkah, dan baik hati itu membuat Ursula merasa dekat meski jarang bertemu.

“Dia anak yang tergolong mudah diurus. Saya tak pernah dibuatnya repot,” kata Ursula yang masih memanggil Nyooce kepada Romo Tikno, yang berarti Sinyo Kecil.

Meski jauh di mata, Ursula merasa paling dekat dengan anak keduanya itu. Setiap kabar yang diterimanya dari seminari dan ketika menempuh pendidikan S-2 dan S-3 di Manila, Filipina, selalu membuatnya tenang sebagai ibu.

“Studinya lancar, tugasnya sebagi pastor juga dilakukannya dengan baik. Jadi, saya makin mensyukurinya,” kata Ursula.

Begitu juga ketika pada Minggu (1/4/2007) malam, ketika tiba-tiba Tikno meneleponnya. Tikno meminta Ursula untuk berdoa untuknya karena Senin (2/4/2007) pagi ada pertanyaan penting yang harus dijawabnya.

Selasa (3/4/2007) pagi, sang anak, Romo Tikno, meneleponnya kembali. Tikno mengabarkan bahwa ada kabar gembira, namun pastinya akan dikabarkan kembali sorenya.

“Selasa malam Nyooce telepon saya, katanya ada Uskup Surabaya yang baru. Ketika saya tanya siapa itu, dia jawab ya, anakmu ini Ma,” papar Ursula, yang langsung bersimbah air mata sambil menelepon.

Namun, kabar gembira itu dipesankan Tikno untuk tidak dirayakan. Bagi Tikno, penunjukannya tepat saat Pekan Suci adalah tanda bahwa tugas yang bakal dipikulnya sangat berat. Sesuai tabiat Tikno yang sederhana, sang mama dipesan untuk tak membuat selamatan.

“Dia pesan uangnya untuk diberikan kepada orang yang tak mampu saja. Begitulah Nyooce, dari dulu yang dipikirkan selalu orang lain,” kata wanita itu.

Sayang, kabar gembira ini tak bisa disaksikan suaminya, S Wisaksono, yang meninggal tahun 1996 lalu. Sebab, niat Tikno menjadi pelayan Tuhan sangat didukung suaminya.

Sebagai anak Angkatan Laut yang hidup sederhana, Tikno kecil yang dikandungnya hampir 10 bulan itu sangat menonjol sifat welas asihnya. Itu pernah disaksikan Ursula yang mendapati anaknya pulang bermain tanpa baju. ''Ketika ditanya, rupanya bajunya diberikan seorang kawannya yang robek bajunya,'' katanya.

Saat menjadi pastor, sifat welas asih itu kian tampak. Pasangan yang akan dinikahkannya minta ditunda karena pengantin laki-lakinya tak memiliki jas untuk pernikahan.

''Dia ambil jas yang pernah dipakai untuk wisudanya pada 21 Januari 1982 untuk diberikan pengantin itu. Jadilah, ia nikahkan pengantin itu tanpa harus menunda,'' cerita Ursula yang rindu meladeni anaknya makan tempe dan tahu kegemarannya.

Sebagai ibu dari Uskup Surabaya yang baru, harapan Ursula tak berubah. Doa Rosario yang ia panjatkan selalu dipanjatakan agar Tikno menjadi gembala yang baik.

“Ini semua seperti sudah diatur Tuhan pada keluarga kami. Roh Allah-lah yang bekerja untuk kami karena kami sekeluarga tak pernah memohon ini semua. Namun, jika Tikno diberikan kepercayaan, saya ingin ia tetap menjadi pelayan Tuhan yang memerhatikan wong cilik,” kata Ursula sambil bersiap mengikuti Misa Kamis Putih di Gereja Paroki Santo Aloysius Gonzaga, Jalan Satelit I Surabaya.

[Sumber: RADAR SURABAYA, 5-6 April 2007]

No comments:

Post a Comment