18 May 2007

Mengapa Keroncong Punah?


Joko Supriadi [kiri] bersama Haji Waras.

Joko Supriadi, pemusik dan bekas pengasuh musik keroncong di radio, bicara tentang surutnya musik keroncong di Jawa Timur.


Oleh Lambertus L. Hurek


Joko Supriadi ini birokrat yang seniman atau seniman yang birokrat. Selain piawai main musik, Joko juga aktif mengelola kegiatan seni budaya di Sidoarjo. Tiap tahun dia bikin festival musik patrol. Juga festival band untuk pelajar dan mahasiswa.

“Saya memang tidak bisa lepas dari kesenian,” ujar Joko Supriadi dalam sebuah sarasehan musik keroncong di GOR Delta Sidoarjo beberapa waktu silam.

Joko Supriadi suka pakai topi macam Tino Sidin [almarhum], guru gambar di Televisi Republik Indonesia [TVRI] yang sangat digemari anak-anak pada 1980-an. Biasanya, setelah habis dinas di Pariwisata, topi kebanggaannya itu selalu dia pakai.

Joko Supriadi menggeluti kesenian sejak 1980-an. Waktu itu Joko terlibat di beberapa orkes keroncong Surabaya. Kebetulan Joko menguasai semua instrumen petik. Gitar, kontrabas, ukulele, cuk... dia piawai. [Orkes keroncong standar harus punya tujuh instrumen: gitar, cello, ukulele, cak, kontrabas, flute, violin.]

Nah, ketrampilan bermusik ini disalurkan Joko di beberapa orkes keroncong sekaligus. “Kalau ada waktu kosong, saya cari teman-teman untuk main (keroncong),” ujar Joko Supriadi. Lagu-lagunya mulai stambul, keroncong asli, keroncong moderen, langgam, hingga lagu-lagu pop yang dikeroncongkan.

Menurut Joko, hingga 1980-an musik keroncong masih sangat digemari masyarakat Jawa Timur. Di mana-mana ada orkes keroncong. TVRI, satu-satunya stasiun televisi era Orde Baru, kerap menyiarkan acara keroncong. Penyanyi-penyanyi terkenal pun ikut membawakan lagu keroncong di televisi.

Aktif main keroncong, bergaul dengan ‘buaya-buaya’ keroncong membuat wawasan Joko di bidang musik lawas ini sangat luas. Tak salah kalau kemudian Joko dipercaya menjadi pengasuh siaran keroncong di Radio Siaran Pemerintah Kabupaten (RSPK) Sidoarjo. Kini, program ini dihapus karena dianggap sepi penggemar.

Menjadi pengasuh acara di RSPK membuat nama Joko Supriadi sangat dikenal di Sidoarjo dan Jawa Timur umumnya. Saat sarasehan tentang musik keroncong di Gelora Delta, beberapa waktu lalu, nama Joko pun disebut-sebut. ‘’Dulu, waktu Pak Joko Supriadi masih jadi pengasuh, penggemar musik keroncong sangat banyak. Permintaan mengalir. Sekarang nggak seperti itu,’’ kata seorang ibu, 50-an tahun, asal Pasuruan.

Zaman memang sudah berubah. Seiring merosotnya keroncong, Joko pun mundur dari RSPK. Kembali menjadi birokrat biasa sambil tetap bergiat di kesenian. Kumpul-kumpul dengan seniman selepas bekerja di kantor.

Omong-omong, kenapa musik keroncong nyaris punah di Jawa Timur?

Menurut Joko, surutnya keroncong tak lepas dari pudarnya Bintang Radio dan Televisi alias BRTV. Hampir semua penyanyi top sebelum tahun 1990 lebih dahulu menjajal kemampuan teknik vokalnya di BRTV. Lalu, masuk dapur rekaman. Standar penilaian di BRTV pun terbilang tinggi. Dia menyebut beberapa nama bekas jawara BTRV macam Titiek Puspa, Harvey Malaihollo, Hetty Koes Endang, hingga Yuni Shara.

Mau ngetop ya harus ikut BRTV dulu! Di BRTV ada lomba jenis seriosa, keroncong, dan hiburan. Lomba nyanyi ala BRTV ini menuntut musikalitas yang tinggi karena peserta diiringi orkes hidup. Saat pendaftaran, peserta dikasih partitur bernotasi balok. Karena itu, peserta ‘dipaksa’ untuk belajar membaca notasi balok.

"Lomba nyanyi yang benar, ya, harus begitu. Nggak kayak lomba-lomba nyanyi sekarang. Nggak pakai sistem SMS, siapa yang banyak dia yang menang," ujar Joko Supriadi.

Menurut Joko, setelah BRTV surut, setelah menjamurnya televisi swasta, setelah industri musik pop berkembang gila-gilaan... musik keroncong pun semakin meredup. Terpinggirkan kendati belum hilang sama sekali. Pemain-pemain keroncong masih ada, namun orkesnya nonaktif.

"Saya sendiri kalau mau main, ya, saya ajak teman-teman lama untuk kumpul. Langsung jadi. Di Surabaya, Sidoarjo... orkes keroncong itu tidak aktif lagi, tapi pemain-pemainnya ada. Termasuk saya lah,” kata Joko lalu tertawa kecil.

Nasib Joko lebih beruntung ketimbang musisi keroncong lain yang luntang-lantung mencari nafkah. Ada yang ngamen, jadi makelar, jualan kopi, pracangan... hingga gelandangan. Saya sendiri pernah didatangi pemusik keroncong tempo doeloe yang tidak mampu membayar ongkos angkutan dari Sidoarjo ke Surabaya.

“Tolong uang transpor, Mas. Kalau bisa uang rokok juga. Wong di kantong nggak ada uang sama sekali,” ujar pemusik tua tersebut. Wah... saya geleng-geleng kepala dan sulit menerima kenyataan ini. saya kasih Rp 50 ribu, dan pemusik lawas ini girang bukan kepalang. Ibarat mendapat durian runtuh.

Joko Supriadi lebih beruntung. Sebagai birokrat, apalagi di bidang seni budaya, Joko masih tetap menggeluti kesenian meski tak mendapat bayaran. “Untuk kebutuhan batin,” katanya.

Kalau tahun 1980-an, Joko lebih sering tampil di panggung, sebagai pemain, atau bicara musik di radio, kini dia berperan di belakang layar.

Di akhir obrolan, saya meminta Joko Supriadi memainkan Keroncong Bandar Jakarta [ciptaan Iskandar]. Saya ikut bernyanyi:


Awan lembayung menghiasi bandar indah permai
Aman terlindung.. oleh Pulau S’ribu melambai
......
Melambai, rona merona
Mengembang layar laju perahu nelayan
Memecah buih menyusur pantai
M’nuju Teluk Jakarta

Indah lukisan alam
Kala senja menjelang pelukan malam
Burung putih menyampaikan salam
Kata selamat malam....

5 comments:

  1. aku hasto,pinginkenal dgmu,aku seniman juga juara campursari radio sidoarjo th...nya lupa jawara 1.donload youtube setasiungubeng,itulah karyaku. aku juga kerja dihumas provjatim. gabung yo bikin sekolah, campursari, kroncong,pop,barat,seriosa,dangdut dll,gabung yu aku bisa

    ReplyDelete
  2. Menyedihkan memang,karena sebetulnya musik keroncong kalau betul2 dihayati,dapat melembutkan dan menghaluskan emosi bagi yang mendengarnya,tidak heran,kalau banyak orang saat ini menjadi emosional dan beringas,karena atmosfirnya memang begitu termasuk musiknya.Jarang bahkan hampir tidak ada TV swasta yang mau menyiarkan musik keroncong,karena dianggap tidak menguntungkan.yang dilihat hanya segi komersialnya saja.salam kenal Yan

    ReplyDelete
  3. Saya faris kakek saya dulu pemimpin ok.hanya satu di tvri jatim h. Abdullah soeparman (pak marlena) mungkin bapak tau, nah sekarang saya hobby nyanyi keroncong saya ingin sekali bergabung dg ok yang ada saat ini tapi saya tudak tahu harus kemana ��

    ReplyDelete
  4. Saya faris kakek saya dulu pemimpin ok.hanya satu di tvri jatim h. Abdullah soeparman (pak marlena) mungkin bapak tau, nah sekarang saya hobby nyanyi keroncong saya ingin sekali bergabung dg ok yang ada saat ini tapi saya tudak tahu harus kemana ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Orkes2 lama sudah banyak yg tinggal nama. Ada juga orkes2 baru tapi tidak banyak. Pun hampir tidak ada lagi program musik keroncong di televisi. Sampeyan bisa mampir ke TVRI atau RRI surabaya. Siapa tau ada petunjuk dan masukan buatmu.
      Salam musik..

      Delete