20 May 2007

Mengapa Keroncong Mati 2


Orkes keroncong yang masih eksis di kawasan Prambon, Sidoarjo. Personelnya sudah tua-tua karena tak ada regenerasi.

Oleh Lambertus L. Hurek

Tema ini sengaja saya angkat, dan saya diskusikan, dengan sejumlah pemusik di Surabaya dan Sidoarjo. Saya sengaja melecut para senior ini untuk melakukan sesuatu. Semata-mata demi menyelamatkan musik keroncong. Kalaupun mati juga, ya apa boleh buat, kita toh sudah berusaha, bukan?

Ahmad Basuki adalah guru musik, pembina band, juga pemerhati musik di Surabaya dan Sidoarjo. Saat omong-omong dengan Pak Mamat, sapaan akrabnya, saya tanya soal keroncong. Dia sepakat bahwa musik keroncong sedang sekarat di Jawa Timur. Sangat parah kondisinya.

"Mas, keroncong itu ibarat orang tenggelam, hanya kelihatan tangannya thok. Kalau tidak diantisipasi sebentar lagi bakal tenggelam total," kata Ahmad Basuki, pemusik lulusan Akademi Musik Indonesia, Jogjakarta.

Pak Mamat lantas mengungkap kelemahan-kelemahan pemusik keroncong sendiri. Ini membuat musik ini terlihat tua, tidak menarik, sulit diterima anak muda.

PERTAMA, kualitas instrumen sangat buruk. Bukan rahasia lagi, alat-alat musik keroncong kita berkualitas murahan, bahkan buatan sendiri.

"Saya dengan suara biolanya saja sudah pusing. Bagaimana bisa bagus kalau kualitas alatnya seperti itu?" ujar Pak Mamat. "Alat musik yang jelek akan menghasilkan suara, sound, yang jelek. Itu sudah jelas. Anda lihat saja musisi Barat, instrumen mereka itu mahalnya bukan main. Kalau konser di Indonesia, mereka bawa sendiri alat-alat musiknya, sound system-nya, dan sebagainya. Sebab, itu memang sangat penting."

Sebagai perbandingan, instrumen yang dipakai anak-anak band di Sidoarjo dan Surabaya saja harganya puluhan juta rupiah. Di Jakarta lebih mahal lagi.

KEDUA, sound system keroncong sangat jelek. Ini juga mempengaruhi kualitas musik. Masyarakat yang terbiasa menikmati musik pop (industri) dengan investasi ratusan juta jelas enggan mendengar musik keroncong.

KETIGA, secara musikal, keroncong itu musik mahal, akademis, dan sulit. Jadi, sulit dimainkan musisi kemarin petang.

Ahmad Basuki sering mengetes anak-anak band (muda) untuk bermain musik keroncong. Hasilnya? Anak-anak muda itu kewalahan karena akor-akor keroncong itu jauh lebih sulit ketimbang lagu pop atau rock.

"Kalau latihan lagu Top 40 satu hari bisa dapat tiga lagu, untuk lagu keroncong belum tentu 12 hari dapat satu lagu. Itulah yang membuat saya tertarik sama keroncong, tapi sekaligus sulit dimainkan anak muda," kata Basuki, penuh semangat.

Martono, penggemar keroncong di Surabaya, meminta para sesepuh keroncong untuk taat asas alias konsisten. Sebelum meminta orang lain mendengarkan musik keroncong, ya, mereka harus memberi contoh di masyarakat sekitar. Selama ini Martono menilai orang kita lebih suka hanya bisa bicara tanpa tindakan konkret.

“Buktinya, kalau punya hajatan malah nanggap dangdut. Lha, bagaimana bisa melestarikan musik keroncong,” katanya sengit.

Maka, menurut Martono, yang juga seniman teater itu, kita semua harus melakukan langkah-langkah konkret. Apa yang bisa dilakukan, lakukanlah. Contohnya sederhana saja. Belilah kaset/CD keroncong, lalu putar di rumah setiap hari. Cukup satu jam saja setiap hari. Dengan begitu, lama kelamaan anak-anak di rumah terbiasa mendengar alunan irama keroncong.

“Kalau sekadar diseminarkan, dibahas, diskusi, ya, gak mari-mari. Mbulet terus. Bagaimana menurut sampeyan, Mas Hurek?” ujar salah satu pentolan teater di Jawa Timur itu.

“Siap! Setujuuuuu!!!!!”

3 comments:

  1. Hi Mr Hurek,

    I was reading your blog about Keroncong or to be precised said Why Keroncong Music Extinct? First let me introduce myself :
    My Name is Wawang Wijaya born in Jogyakarta at the end of Japanese era and grew bigger in Semarang until I moved to Surabaya in 1970.

    I have an education about keroncong thru my grandpa to which himself is a 'boeaja kroncong' . I have a chance to play and do some motivation on keroncong when I was hired as a Demonstrator Lowrey Organ in Indonesia and Malaysia & Singapore in 1975. As you already know by then ; that Lowrey Organ have a capability to play a "Keroncong Like" Automatic Finger Chord. Keroncong Music is popular among Asean Country e.g Malaysia , Singapore , Brunei and Indonesia itself.

    In 1977 I migrated to Kuala Lumpur since then. In Kuala Lumpur I was active in O.K.Malindo ( a Keroncong Group from Malacca consist of Indonesian and Malaysian Keroncong Players). And in 1984 I was invited to lecture Indonesian Keroncong in Computer Study in University ITM (Shah Alam) and 1995 in University Sience Malaysia Penang under the same subject. In 2003 our keroncong group called OKPM ( Orkest Keroncong Putra Malaysia) was invited by a wellknown NGO called Tong Tong Organisation from Netherlands to play Keroncong Music at The Pasar Malam Besar Den Haag. This also in 2005 we were invited again to play in Den Haag.

    I realised now that Keroncong Music is not at the helm in their top like in the Fifties thru Seventies ; even also in M'sia like in Indonesia, Keroncong are gradually slowdown toward
    minimize situation which some times become a worriedness in a question : What will be happened to our prestigious Keroncong Music? And where is the destination of Keroncong Music? A musem of Musicology to tell the next Generation that KERONCONG WAS HERE BEFORE ???. With this situation I would like to call upon to all my friends whose still active in Keroncong Music to interact with me thru some Keroncong Forum!

    Hereby I enclosed some instrumentalia from OKPM for your perusal.

    Hopefully we can continue again in the future for the Glory of Keroncong Music..

    Musically yours.

    Wawang Wijaya

    ReplyDelete
  2. Pak Wawang, terima kasih banyak. thank you very much for your kind response. Good luck!

    ReplyDelete
  3. Pak perkenalkan saya penggemar keroncong dulunya tidak. Saya fransiskus henry, belum begitu lama sih pak sejak sd kelas 5 atau 6, ilang sejak kelas 3 sma saya menggemari musik keroncong. Dulunya suka denger lagunya saja. Tapi saya ingin juga belajar nyanyi keroncong, tetapi sulit juga ya pak mencari orkes keroncong di daerah Tangerang. Hanya ada di Bekasi.Yang ingin saya tanyakan apakah orkes keroncong mau terima anggota yang ingin belajar keroncong ? Apa saya belajar sendiri aja ? Terima kasih sebelumnya

    ReplyDelete