26 May 2007

Mempengaruhi - Memengaruhi, Memperbesar - Memerbesar


Oleh Lambertus L. Hurek


Akhir-akhir ini, teman-teman editor sering membahas bahasa surat kabar. Pekan lalu, kami diskusi panjang lebar tentang kata bentukan baru seperti MEMENGARUHI, MEMESONA, MEMERHATIKAN, MEMERKOSA, MEMERCAYAI, MENGONSUMSI, MEMOPULERKAN.... Lalu, ada model lebih baru lagi: MEMERBESAR, MEMERSATUKAN, MEMERBOLEHKAN....

Intinya, prefiks gabungan MEMPER +.... diluluhkan menjadi MEMER + ....

Diskusi berlangsung hangat. “Ini aneh sekali. Banyak pembaca yang bingung dengan kata-kata bentukan baru itu. Banyak yang telepon karena mengira salah ketik. Lha, kok salah ketiknya banyak sekali?” ujar teman penyunting menirukan masukan dari pembaca koran yang kritis.

"Saya juga tidak sreg. Media itu boleh bereksperimen, tapi jangan kebablasan. Kalau kelewatan, ya, bisa dianggap ngawur. Apa tidak sebaiknya kita kembali saja ke bahasa yang umum dipahami masyarakat? Menurut kamus, bagaimana sih?” tukas redaktur lain.

Diskusi cukup hidup, tapi tidak ada hasil. Macam debat kusir. Kata putus sonder ada karena, harus diakui, saya dan teman-teman ini bukan pakar bahasa. Orang media memang bekerja dengan kata-kata, tapi bukan pakar bahasa.

“Sia-sialah kita bertengkar karena kita bukan pakar bahasa. Celaka kalau kita buat keputusan sendiri berdasar kesepakatan, apalagi voting. Kapasitas kita apa? Nanti malah diketawain orang,” ujar wartawan lain.

Saya pun ikut gundah.

Kata-kata bentukan baru seperti contoh di alinea awal mula pertama diperkenalkan oleh harian KOMPAS pada 2005. Kebetulan koran Jakarta ini berhari jadi ke-40 tangal 28 Juni 2005. Redaktur bahasa KOMPAS bikin kebijakan, sejauh yang saya tangkap: meluluhkan semua konsonan tak bersuara [k, p, t, s]. Maka, ME + PESONA menjadi MEMESONA. Bentukan MEMPESONA yang kita pakai selama bertahun-tahun dianggap salah. MEMERHATIKAN, MEMERKOSA, MEMENGARUHI....

Kata dasar serapan dari bahasa asing pun diluluhkan. Contoh: KONSUMSI, POPULER, SOMASI.... ditambah awalan me + menjadi MENGONSUMSI, MEMOPULERKAN, MENYOMASI....

“Alhamdulillah, akhirnya KOMPAS berani meluluhkan k, p, t, s. Seharusnya dari dulu begitu. Saya pun sejak dulu tidak sepakat dengan beberapa pengecualian dalam bahasa kita,” ujar Ahmad, editor bahasa sebuah media di Surabaya.

Gara-gara ‘gejala bahasa’ baru ini, saya mulai memeriksa lagi buku-buku lama saya. Sudah kusam, berdebu, karena lama tak dibaca. Salah membaca kembali TATABAHASA INDONESIA karya Prof. Dr. Gorys Keraf [RIP], pakar bahasa yang kebetulan berasal dari daerah saya, Lembata, Flores Timur. Buku terbitan Nusa Indah, Ende, 1970, ini paling banyak dipakai sebagai rujukan di sekolah-sekolah seluruh Indonesia. Jangan heran buku tatabahasa karya Gorys Keraf dicetak ulang 20-an kali... sampai sekarang.

Gorys Keraf sejak tahun 1970 memang sudah merumuskan pedoman NASALISASI. Anda bisa membaca halaman 55-57 buku TATABAHASA INDONESIA TERSEBUT. Topik ini, saya nilai, sangat relevan dengan kebijakan redaktur KOMPAS [dan diikuti media-media lain] meluluhkan konsonan tak bersuara [k, p, t, s] yang kemudian bikin banyak pembaca ‘takjub’ itu.

Lima pedoman nasalisasi menurut Gorys Keraf:

1. Nasalisasi berlangsung atas dasar HOMORGAN. Artikulator dan titik artikulasi sama seperti fonem yang dinasalkan. Rumusnya agak sulit, tapi sangat mudah dipraktikkan orang Indonesia. Contoh: p dan b bernasal m [PUKUL jadi MEMUKUL, BUAT jadi MEMBUAT]. Fonem k dan g bernasal ng [KAIS jadi MENGAIS, GAMBAR jadi MENGGAMBAR].

2. Konsonan bersuara tetap, konsonan tak bersuara [k, p, t, s] luluh.

3. Nasalisasi hanya berlaku pada kata-kata dasar atau yang dianggap kata dasar. Kata berimbuhan tidak mengalami nasalisasi.

4. Fonem y, r, l, w tidak mengalami nasalisasi. Istilahnya, nasalisasi zero.

5. Kata-kata serapan yang masih terasa asing, meski menggunakan k, p, t, s tidak diluluhkan untuk menjaga jangan sampai menimbulkan salah paham.


Merujuk pada lima pedoman Gorys Keraf ini, maka bentukan-bentukan baru macam MEMENGARUHI, MEMUNYAI, MEMERHATIKAN, MENGONSUMSI, MEMOPULERKAN... tidak salah. Sebab, konsonan tak bersuara [k, p, t, s] memang harus luluh. Bahwa selama puluhan tahun kita memakai MEMPENGARUHI, MEMPUNYAI, MEMPERHATIKAN, MENGKONSUMSI, MEMPOPULERKAN... semata-mata akibat kebiasaan saja. Salah kaprah. Kesalahan yang dibiasakan terus-menerus sehingga dianggap benar.

Tapi, ingat, di bahasa mana pun selalu ada pengecualian atau eksepsi. Formula tatabahasa tidak selalu diikuti begitu saja. Bahasa Inggris, misalnya, punya kata kerja tak beraturan yang menyimpang dari rumus umum. Kita harus menghafal sekian banyak irregular verbs kalau ingin berkomunikasi dengan baik dan benar dalam bahasa Inggris.

Karena itu, beberapa pakar bahasa tetap berpandangan bahwa MEMPENGARUHI, MEMPESONA, MEMPUNYAI, MEMERHATIKAN... haruslah dianggap sebagai irregular verbs dalam bahasa kita. Jadi, tidak perlu diluluhkan meski berkonsonan k, p, t, s.

Bagaimana dengan kata serapan macam POPULER, KONSUMSI, SOMASI, KAJI...?

Pedoman nasalisasi ala Gorys Keraf pada 1970 mengecualikan peluluhan kata-kata yang terasa masih asing meski berkonsonan k, p, t, s. Jadilah MEMPOPULERKAN, MENGKONSUMSI, MENGKONSTATASI, MENSOMASI, MENGKAJI [dibedakan dengan MENGAJI Alquran]....

Rupanya, setelah melewati tiga dekade, para redaktur bahasa media berpendapat bahwa kata-kata serapan itu tidak terasa asing lagi. Karena itu, kata-kata serapan tersebut diperlakukan sama dengan kata-kata ‘asli’ bahasa Indonesia: mengalami peluluhan k, p, t, s. Repotnya, pemakai bahasa [masyarakat] sudah bertahun-tahun menggunakan bentukan yang tidak diluluhkan, sehingga mereka menganggap ‘aneh’ bentukan-bentukan seperti MENGONSUMSI, MEMOPULERKAN, MENGAJI [ganti MENGKAJI]....

Bagaimana pula dengan bentukan lebih baru lagi: MEMERBESAR, MEMERPANJANG, MEMERSATUKAN... yang sudah dipakai di beberapa surat kabar Surabaya?

Pada 1970, sekali lagi, Gorys Keraf sudah membuat sedikit panduannya. “... pada prinsipnya peluluhan berlaku pada kata-kata dasar, bukan pada afiks [imbuhan],” tulis guru besar Universitas Indonesia, Jakarta, itu.

Persoalannya, sejak dulu sudah ada bentuk bersaing atau ketaksaan dalam bahasa kita. Di bukunya, Gorys Keraf mencontohkan MENTERTAWAKAN dan MENERTAWAKAN. Kedua-duanya dianggap benar, waktu itu. Kenapa? Persoalannya di kata dasar. Menurut Keraf, sebagian orang berpendapat bahwa TERTAWA itu kata dasar, sebagian lagi bilang TAWA. Kubu yang menganggap TERTAWA kata dasar membuat bentukan MENERTAWAKAN. Kubu lain menggunakan MENTERTAWAKAN karena TERTAWA dianggap kata berawalan TER.

Bentukan MENERTAWAKAN ini kemudian menganalogi dalam MENGELUARKAN, MENGETENGAHKAN, MENGEMUKAKAN.... dan seterusnya. Ini semua kata berimbuhan yang mengalami peluluhan konsonan tak bersuara. Di bukunya, TATABAHASA INDONESIA, Prof. Gorys Keraf secara eksplisit menolak peluluhan MEMPERTAHANKAN, MEMPERBAIKI, MEMPERSATUKAN... dan sebagainya [baca halaman 56].

Bahasa itu dinamis, hidup, mengikuti perkembangan masyarakat. Bisa saja tatabahasa yang dirumuskan pakar bahasa 30 tahun lalu, boleh jadi, tidak sesuai lagi dengan perkembangan masyarakat di tahun 2007 ini. Apalagi, bahasa asing, khususnya American-English, bukan lagi sekadar diserap secara terbatas, tapi dipakai secara berlebihan oleh orang Indonesia sekarang.

Bahasa gado-gado [Indonesia, Jawa, Betawi, Inggris] malah menjadi gaya hidup. “Please deh! Aku boring banget deh kalau listening music like that. By the way, aku coba meng-apreciate... siapa tahu content-nya keren. Hehehe....”

Beginilah gaya bahasa teman saya, 30 tahunan, di Surabaya. Khas anak gaul [remaja SMA] di Jakarta. Bahasa apakah ini? Saya yakin Gorys Keraf, J.S. Badudu, Anton M. Moeliono... pun pusing tujuh keliling mendengarkannya.

Kembali ke kata-kata berimbuhan. Apakah harus diluluhkan juga agar kita taat asas pada hukum kedua Gorys Keraf? Saya pribadi, terus terang saja, masih belum ikhlas menerima bentukan-bentukan baru macam MEMERBESAR, MEMERSATUKAN, MEMERSOALKAN... seperti yang dipakai di beberapa koran Surabaya.

Namun, menganalogi pada bentukan MENERTAWAKAN [saya berpendapat bahwa TERTAWA dibentuk dari kata dasar TAWA], kreativitas teman-teman penyunting bahasa untuk mengganti kombinasi awalan MEMPER + [asalnya ME + PER] menjadi MEMER + [fonem p diluluhkan] tidak tanpa alasan. Sangat masuk akal.

Sebab, kalau diurai lebih lanjut, kata MEMPERBAIKI [sebagai contoh] berasal dari ME + PERBAIKI. Nah, PERBAIKI bisa kita anggap sebagai kata dasar.

Dengan begitu, pedoman ketiga Gorys Keraf pun berlaku:

“Nasalisasi hanya berlangsung pada kata-kata dasar atau yang dianggap kata dasar.”

12 comments:

  1. Terima kasih uraiannya, Mas. Sangat berguna bagi saya.

    ira

    ReplyDelete
  2. yg bikin kisruh itu KOMPAS. mentang2 koran besar.

    ReplyDelete
  3. Pedoman gampangnya begini Mas. Kalau per- atau pe- bukan merupakan
    bagian dari kata dasar, maka [p] itu tidak akan luluh. (memesona, memedulikan, memperkecil, memperbesar, mempersatukan).

    Saya sudah menerbitkan di
    salah satu bagian buku Paragraf Jurnalistik terbitan Santusta Yogyakarta. Silakan
    dibuka saja Mas untuk pedoman.

    R. Kunjana Rahardi

    Mantan pengasuh rubrik bahasa di Media Indonesia.

    ReplyDelete
  4. Wah, ayo berbagi di http://pondokbahasa.wordpress.com

    ReplyDelete
  5. jadi apakah "mempengaruhi" atau "memengaruhi"?

    ReplyDelete
  6. Yang benar MEMENGARUHI. Sebab, huruf awal konsonan K, P, T, S luluh manakala didahului awalan me-.

    MEMPENGARUHI itu "salah kaprah" yang dianggap benar karena dipakai selama puluhan, bahkan ratusan tahun. Itu menurut pendapat saya.

    ReplyDelete
  7. memang selalu ada perubahan dalam tata bahasa, penyesuaian di sana-sini. suwun cak!!

    ReplyDelete
  8. terima kasih tulisannya pak,
    bermanfaat sekali :)

    ReplyDelete
  9. nanya dong, yang bener kata-kata "selain itu/oleh karena itu" tuh pake koma atau ngga?
    Selain itu/oleh karena itu, bla bla bla
    atau
    Selain itu/oleh karena itu bla bla bla

    ReplyDelete
  10. Hai, salam kenal. Mampir juga ke blogku ya. www.kartikahidayati.blogspot.com

    ReplyDelete
  11. bagaimana dengan kata memproduksi, memperoleh, mempromosikan, apakah kata bakunya memeroduksi, memeroleh, dan memeromosikan

    ReplyDelete
  12. Jawabnya sudah sangat jelas: kata dasar berkonsonan rangkap TIDAK luluh.

    Karena itu, bentukan yang benar adalah MEMPRODUKSI, MEMPEROLEH (bukan memeroleh), MEMPROMOSI, MEMPRODUKSI, MENTRADISI, MENDRAMATISASI, MENTRANSFORMASI, dan seterusnya.

    ReplyDelete