28 May 2007

Memet Chairul Slamet Pemusik Madura



Setahu saya, jarang ada orang Madura yang menekuni profesi seniman. Di pulau garam itu memang banyak orkes dangdut, hadrah, grup kesenian islami..., tapi hampir tidak ada pemusik yang benar-benar seniman.

Nah, MEMET CHAIRUL SLAMET boleh dibilang orang Madura yang langka. Sejak 1970-an Memet memilih musik sebagai bagian dari hidupnya. Dia sengaja kuliah di Institut Seni Indonesia [dulu Akademi Seni Musik Indonesia] agar menghayati benar binatang apa musik itu. Kalau sekadar tahu musik di permukaan, ya, tak perlulah sampai kuliah di ISI segala.

Memet bukan saja lulus dengan gemilang, tapi juga larut dalam musik. Dia menganggap bermusik sebagai bagian dari ibadahnya. Memet kemudian menjadi dosen ISI jurusan musik, dan terus bermusik. Sebab, ‘virus’ musik tampaknya sudah mengalir deras di dalam darahnya.

"Saya ingin memberikan sesuatu kepada bangsa ini lewat musik. Di musik, yang namanya manusia dan kemanusiaan itu menyatu,” tutur Memet Chairul Slamet dalam beberapa kali percakapan dengan saya di Surabaya.

Opsi musik Memet Chairul Slamet di luar jalur industri. Dia memilih musik seni, musik kontemporer, tradisi, eksperimental.... Karena itu, musik Pak Memet memang kurang dikenal orang ramai. Jangankan masyarakat Indonesia, orang Madura sendiri pun saya kira tak banyak yang tahu kalau ada putra daerah mereka yang menekuni art music. Bahkan, teman-teman wartawan pun asing dengan nama Memet Chairul Slamet.

Di Indonesia, seperti diketahui, orang tergila-gila dengan musik industri. Memberhalakan penyanyi pop, dangdut, rock. Televisi menjadi referensi utama. Maka, yang disebut artis itu, ya, wajah-wajah yang kerap tampil di televisi. Muncul di program-program gosip alias infotainmen. Baru belajar main ben, belajar nyanyi, lalu lagunya laku keras... itulah artis. Piawai goyang seksi, meski suara fals dan tak paham musik, sah-sah saja disebut artis.

Bagaimana dengan orang-orang macam Memet Chairul Slamet?

“Itu sih bukan artis. Masa, potongan kayak gitu dibilang artis,” ujar teman saya, bekas wartawan koran terkenal di Surabaya.

Waktu itu saya ajak dia meliput konser Memet Chairul Slamet di Gelora Pancasila, Surabaya. Sebelumnya saya mengatakan bahwa Pak Memet itu sudah dikenal di mana-mana, bahkan ke luar negeri.

“Kalau bukan artis, lalu apa?”

“Apa ya? Artis itu kayak Peterpan, Dewa 19, Agnes Monica, Arie Wibowo.... Hehehe....”

Begitulah pemahaman artis di Indonesia. Apa boleh buat, saya terpaksa datang meliput pergelaran musik Memet Chairul Slamet di Gelora Pancasila, sendirian. Wartawan-wartawan lain menolak dengan alasan ‘nilai beritanya tak ada’ dan ‘koran tidak akan laku’. Gila!

Waktu itu Memet menyajikan musik alternatif. Kombinasi nada-nada Arab [macam kasidah], tembang pentatonik, nada-nada diatonis, dengan aneka macam instrumen. Dia juga pakai paduan suara. Ada seksi gesek yang orkestrasinya ditulis sendiri oleh Memet. Di atas panggung, Memet pun berperan sebagai dirigen.

"Saya memang bertanggung jawab penuh atas karya saya. Saya ingin agar jiwa musik saya terjaga,” ujar pemusik yang lekas akrab dengan saya itu. Oh, ya, Memet pun main beberapa instrumen tiup, mulai flute, suling, seruling, serta beberapa alat musik tradisional.

Menikmati sajian musik Memet Chairul Slamet, jujur saja, kita seakan-akan dibawa ke alam lain. Kita yang setiap hari digedor oleh musik industri tiba-tiba diingatkan oleh Pak Memet. Bahwa musik itu punya dimensi spiritual. Dimensi rohani. Dengan musik, kita diajak untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan, Sang Pencipta Keindahan.

Musik bukan semata-mata menyuguhkan sensualitas, goyang ngebor, rayuan-rayuan gombal ala lirik lagu pop. "Saya hanya bisa menawarkan, ini lho musik saya. Perkara masyarakat menerima atau tidak, itu sih terserah. Yang penting, saya sudah berusaha berkarya dengan sungguh-sungguh,” tutur Memet.

Bicara dengan orang Bangkalan, yang mukim di Jogja, ini memang asyik. Kita diajak untuk berpikir lebih dalam. Lebih filosofis. Musik bukan semata-mata adonan bunyi yang terindra telinga. Musik itu anugerah Tuhan kepada manusia yang sungguh kaya. Tinggal bagaimana manusia mengelola bahan-bahan dasar tersebut menjadi sesuatu yang berguna bagi hidup dan kehidupan.

"Saya tahu Pak Memet itu sejak dulu memang konsisten. Dia tidak pernah beranjak dari idealismenya,” ujar Sudibyo, juga orang Madura, lulusan Akademi Musik di Jogja.

Beda dengan Memet, Sudibyo mencari nafkah di Surabaya dan Sidoarjo dengan menjadi pengiring di kafe-kafe malam. Skill musik Sudibyo tergolong sangat bagus untuk ukuran Jawa Timur. Dia mampu mengiringi lagu jenis apa saja dengan sempurna, termasuk lagu-lagu yang belum dia kenal. Saya pernah ‘mengetes’ Sudibyo dengan lagu karangan saya sendiri. Eh, ternyata langsung jadi, lengkap dengan aransemen musik yang dinamis.

Bersama Kelompok Seni Gangsadewa, Jogjakarta, Memet akan menampilkan karyanya di Festival Seni Surabaya [FSS] 2007. Temanya Culture Movement. Memet diundang panitia FSS 2007 karena karya-karyanya dinilai eksperimental, kontemporer, dan futuristik. Sesuai dengan standar FSS.

“Sejak awal saya tekankah bahwa FSS harus memenuhi tiga kriteria itu. Eksperimental, kontemporer, futuristik. Kalau biasa-biasa saja, jreng-jreng-jreng, ya, buat apa kita bikin festival yang menelan biaya sangat besar?” ujar Kadaruslan, penggagas sekaligus dedengkot FSS, kepada saya.

Memet Chairul Slamet menampilkan instrumen gado-gado dari dalam dan luar negeri. Taganing Batak. Gender Jawa. Rindik Bali. Kemudian jembe, dijeridu, tuba, violin, seruling, dan segepok lagi. Kenapa begitu bervariasi?

“Sebab, sejak dulu musik saya itu multikultur. Saya dan teman-teman [pemusik] menjadikan musik sebagai perayaan multikultur,” tegas Memet Chairul Slamet.

Bhinneka tunggal ika! Bagi Memet, ini bukan sekadar slogan atau jargon kosong tanpa isi. Orang Madura ini dengan tekun, kerja keras, ditambah wawasan musik akademisnya, menyatukan semuanya dalam komposisi-komposisi garapannya. Paduan nada-nada dari aneka instrumen [dari berbagai negeri] itu ternyata bisa melebur menjadi satu. Harmonis. Apik. Indah.

Bangsa ini membutuhkan orang-orang macam Memet, yang melihat perbedaan sebagai aset. Bukan malah membenci perbedaan dan getol memaksakan ideologi dan pandangan hidupnya kepada orang lain.

No comments:

Post a Comment