08 May 2007

Lumpur Hancurkan Situs Jenggolo


Totok Widiarto dan koleksi peninggalan Kerajaan Jenggolo di Siring, Porong. Museum sekaligus rumahnya teggelam akibat lumpur lapindo.

Bencana lumpur panas Lapindo sejak 29 Mei 2006, selain menenggelamkan ratusan hektare lahan dan bangunan, juga menghancurkan situs sejarah di kawasan Porong, Sidoarjo.

"Wah, kita sudah kehilangan aset sejarah yang sangat berharga. Situs penting itu sekarang sudah menjadi danau lumpur raksasa," ucap Harryadjie Bambang Subagyo kepada saya.

Pelukis yang baru saja mendapat penghargaan pelestari budaya Jawa dari Katon Solo ini meninjau waduk lumpur panas Lapindo Brantas bersama beberapa aktivis Pusat Lembaga Kebudayaan Jawa (PLKJ) serta penggiat budaya dari beberapa daerah di Jawa Timur. Saya diajak ke situs di kawasan Siring itu.

Apa saja situs penting di Desa Siring dan Renokenongo itu?

Ketua PLKJ TOTOK WIDIARTO, yang rumahnya hanya terpaut beberapa meter dari danau lumpur Lapindo di Siring, mengaku sudah meneliti kawasan ini selama beberapa tahun. Menurut Totok, situs paling penting adalah CANDI PRADA serta PRASASTI WATUMANAK yang dibangun pada masa Airlangga. Dulu, warga Siring dan Renokenongo menyebut situs itu sebagai PUNDEN PRADA.

"Lokasinya, ya, persis di instalasi pengeboran Lapindo sekarang. Jadi, Lapindo ini mengebor sekaligus merusak situs peninggalan Jenggolo yang sangat dihormati oleh leluhur kita," papar Totok Widiarto.

Di masa kecilnya, pria yang lahir pada 30 April 1952 ini mengaku tak asing lagi dengan situs Prada serta Prasasti Watumanak. Bahkan, warga setempat pernah menemukan beberapa benda cagar budaya seperti arca siwa, arca ganesha, dan arca katak.

Segelintir benda-benda peninggalan sejarah itu berhasil ditemukan, dan kini disimpan di museum nasional serta Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. "Tapi lebih banyak yang rusak dan hancur. Bahkan, lokasi situs-situs penting itu diuruk untuk dibuat bangunan dan sawah," papar Totok.

Keberadaan Candi Prada dan beberapa situs penting di Siring dan Renokenongo, lanjut dia, berkait erat dengan situs-situs lain seperti Candi Pari, Candi Sumur, Candi Pamotan, atau Candi Wungkul di Porong. Kawasan Porong selain dikenal kaya gas bumi, juga menjadi pusat situs-situs peninggalan Majapahit di Kabupaten Sidoarjo.

Bagi Totok Widiarto serta para penggiat budaya Jawa (javanologi), bencana lumpur panas yang membuat 15.000-an penduduk mengungsi bukan sekadar persoalan geologi, salah ngebor, gempa bumi, atau gejala alam biasa. Mereka percaya bahwa hancurnya situs Candi Prada, prasasti, serta arca-arca kuno menjadi biang kerok bencana ekologi yang kian meresahkan warga itu.

"Kenyataannya, arca siwa sudah rusak dan tidak ada sama sekali usaha untuk memperbaiki. Padahal, Siwa itu dikenal sebagai perusak alam. Lha, kalau harmoni alam ini rusak, ya, terjadilah bencana dahsyat seperti sekarang," tegas Totok.

Lapindo Brantas Inc bukan pendatang baru dalam eksploitasi pengeboran gas di Kabupaten Sidoarjo, khususnya di Kecamatan Porong. Saat ini sedikitnya 22 ladang gas telah dibor Lapindo, dan semuanya sukses.

"Lha, kenapa saat ngebor di Renokenongo dan Siring kok bisa jadi begini? Anda boleh tidak percaya, tapi jelas ada sesuatu yang tidak dipahami dengan logika biasa," kata suami Hesti ini.

Rabu Pon, tiga pemangku budaya Jawa menggelar meditasi di sekitar waduk lumpur panas. Saat itu, cerita Totok, ketiganya mendapat bisikan yang isinya senada. Hasilnya? "Manusia diingatkan untuk mawas diri. Tidak mengeksploitasi alam secara serampangan," ujar Totok.

Di balik bencana lumpur panas ini, Totok melihat banyak hikmah.

4 comments:

  1. kapan yaa slesai masalah bangsa ini??

    ReplyDelete
  2. Sedih..............

    ReplyDelete
  3. yah..mo gimana lagi???yg bertanggung jawab semua lepas tangan....satu lagi jejak sejarah telah hilang...

    ReplyDelete
  4. sedih dan ikut prihatin. . .

    ReplyDelete