15 May 2007

Ludruk Karya Budaya

Tak banyak kelompok ludruk yang bertahan di Jawa Timur. LUDRUK KARYA BUDAYA, berdiri pada 1969, merupakan salah satu dari sedikit ludruk yang eksis dan punya banyak penggemar.

Ludruk Karya Budaya bermarkas di Pondok Jula-Juli, Dusun Sukodono, Desa Canggu, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Kendati disaingi hiburan modern macam dangdut dan televisi, penggemar ludruk di Mojokerto dan sekitarnya tetap merindukan Karya Budaya.

Eko Edy Susanto, sang pemimpin, mengatakan bahwa Ludruk Karya Budaya selalu mendapat tanggapan sepanjang tahun. Hanya tiga bulan yang sepi order, yaitu Poso [Ramadan], Sapar [Safar], Suro [Muharam]. Nah, di bulan-bulan sepi itu para anggota [70 orang] melakoni pekerjaan lain untuk menyambung hidup.

Anggota yang waria membuka usaha sampingan seperti salon dan menjahit. Anggota laki-laki menekuni usaha kecil-kecilan di rumah seperti jualan ayam, membuka warung, menjual gorengan.

Ada juga yang mencoba mengisi hajatan di berbagai kampung secara freelanche. “Ludruk Karya Budaya terkadang rekaman karena kami sudah punya kontrak kerja sama dengan perusahaan rekaman dari Surabaya,” terang Eko Edy Susanto.

Setiap cerita berdurasi sekitar satu jam. Honornya Rp 8 juta. Kontrak ini bisa diselesaikan dalam dua kali rekaman dengan dua cerita berbeda.

Edi mengatakan, upaya mempertahankan kesenian rakyat selama hampir 40 tahun ini tidak mudah. Jatuh bangun, penuh lika-liku. Adalah Bantu Karya, ayah Edi, pemimpin pertama grup ini, memperkenalkan Ludruk Karya Budaya pada ajan kampanye Pemilihan Umum 1971.

Lokasi pementasan berpindah-pindah, sehingga cepat dikenal masyarakat luas. Apalagi, saat itu hiburan masih sangat terbatas. Ludruk Karya Budaya pun beroleh popularitas.

“Kami bisa bertahan seperti ini karena perjuangan panjang. Ceritanya sangat panjang,” ujarnya.

Juni, Juli, dan Agustus selalu ditunggu-tunggu Cak Edi dan anggota Karya Budaya. Maklum, puluhan order datang dari berbagai tempat di Mojokerto dan daerah lain di Jawa Timur. Masa panen ini benar-benar dimanfaatkan Karya Budaya untuk mengais rezeki.

“Alhamdulillah, ludruk kami masih bertahan sampai sekarang. Padahal, begitu banyak grup ludruk yang sekarang hanya tinggal nama saja,” kata pria yang akrab disapa Cak Edi Karya ini.

No comments:

Post a Comment