08 May 2007

Londo Kerasan di Sini


Orang Indonesia rata-rata sumpek dengan situasi ekonomi dan sosial di tanah airnya. Harga barang mahal. PHK. Sulit cari kerja. Politikus busuk. Korupsi. Lalulintas semrawut. Sekolah mahal. Ujian bocor.

Namun, bagi Joost Strugcken, warga Belanda yang saya temui di kawasan Jolotundo, Mojokerto, hidup di Indonesia justru sangat menyenangkan. Beda dengan di negaranya.

"Saya senang tinggal di Indonesia, pokoknya enak sekali," ujar Joost dalam bahasa Indonesia logat londo.

Bersama rekan-rekannya dari Volunteer Service Overseas (VSO), Joost melakukan studi di beberapa kota Jawa Timur tentang lingkungan hidup, pelayanan orang-orang cacat serta lansia. Joost pernah menjadi pekerja sosial di Bali, Flores, Bandung, dan kini Bogor.

"Saya senang bisa bertemu dan bercerita dengan kalian. Saya melihat orang-orang di sini selalu tersenyum, senang, dan bahagia," katanya kepada saya. Rombongan kami terdiri dari beberapa pelukis Sidoarjo macam Harryadjie BS, Dani Lukman, Riyanto.

Apa yang menarik di Indonesia? Bukankah krisis ekonomi masih berlangsung? Ketidaktertiban di mana-mana? Korupsi? Aksi terorisme? Saya coba menantang si Joost.

Bagi Joost, yang wajahnya mirip pemain bola Ruud van Nistelrooy, berbagai krisis dan ketimpangan di Indonesia itu tidak sebanding dengan keindahan dan kelebihannya.

"Anda mungkin sudah tahu bahwa Belanda itu berada di bawah air. Kalau bendungan sampai jebol, ya, kami di sana mati semua. Di sini kan alamnya bagus dan jauh
lebih aman," ujarnya lalu tertawa kecil.

'Kelebihan' lain, kata Joost Strugcken, bekerja di Indonesia jauh lebih longgar, tidak terikat deadline yang ketat. Hari ini belum selesai, bisa ditunda besok, lusa, minggu depan, bahkan bulan depan. Kalau bulan depan belum rampung masih ada kebijaksanaan lain.

"Makanya, kerja di sini lebih santai, kita bisa (ngelencer) ke mana-mana seperti saya hahaha," ujar Joost.

Di negaranya, Belanda, masyarakat terikat disiplin waktu yang sangat ketat. Ssetiap hari warga tergesa-gesa, selalu berjalan cepat, praktis tidak ada waktu untuk santai atau ngelencer.

"Makanya, saya sedih kalau harus pulang lagi ke Belanda. Saya mungkin tidak bisa cepat-cepat seperti orang Belanda," kata bule yang ramah ini.

No comments:

Post a Comment