17 May 2007

Lamalera Pemburu Ikan Paus




Berburu paus sudah menjadi tradisi turun-temurun warga Lamalera di Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bahkan, sudah menjadi mata pencaharian penduduk setempat. Kalau orang Lembata di desa-desa lain umumnya bertani, atau merantau ke Malaysia Timur, khususnya negara bagian Sabah, orang Lamalera 'bertani' di laut. Tepatnya Laut Sawu.

Paus yang diburu nelayan tradisional Lamalera jenis koteklema atau sperm whale. Sederhana sekali pola kerjanya. Mereka pakai perahu kayu yang disebut pledang dan tombak khusus yang disebut tempuling. Si paus ini tak muncul setiap saat. Hanya musim-musim tertentu saja.

Karena itu, ketika rombongan paus muncul di Laut Sawu, sebelah selatan Lamalera, dibuatlah upacara khusus. Ritual adat Lamaholot---penduduk Kabupaten Lembata dan Kabupaten Flores Timur adalah etnis Lamaholot---digabung dengan sembahyang secara Katolik. Pastor akan pimpin misa khusus bersama seluruh penduduk di tepi pantai.

Memberikan berkat agar para nelayan selamat di laut, dan pulang membawa koteklema. Paus yang akan memberi nafkah dan rezeki kepada nelayan dan keluarganya. Oh, ya, Lamalera ini punya sejarah khusus dalam pekabaran Injil atau penyebaran agama Katolik di Pulau Lembata.

Agama Katolik pertama kali masuk ke Pulau Lembata lewat bumi Lamalera. Maka, jangan pula kalau orang Lembata pertama yang ditahbiskan sebagai pastor berasal dari Lamalera. Namanya Pater Alex Beding SVD.

Pastor yang fasih banyak bahasa dan menulis banyak buku itu lahir di Lamalera, 13 Januari 1924, dan ditahbiskan sebagai pastor di Nita, Kabupaten Sika, pada 24 Oktober 1951. Pater Alex dan Lamalera tercatat dengan tinta emas dalam sejarah Gereja Katolik di Keuskupan Larantuka, khususnya Pulau Lembata.

"Saya bisa masuk seminari, jadi frater, kemudian bisa jadi pastor juga berkat paus. Ikan paus itu yang memberikan protein, gizi, dan rezeki kepada kami," ujar Pater Alex Beding, mantan pendiri dan pemimpin redaksi surat kabar DIAN yang terbit di Ende, Flores, kepada saya di Biara Soverdi Surabaya beberapa waktu lalu.

Setelah Pater Alex Beding, lahirlah pastor-pastor terkenal lain asal Lamalera. Guru-guru SD di kampung saya, Ile Ape, juga Pulau Lembata, selalu memotivasi para murid agar belajar rajin agar pintar seperti orang Lamalera. "Orang-orang pintar di Lembata itu sebagian besar dari Lamalera," kata Pak Lopi (alm), guru saya di SDK Mawa, yang asli Lebala, tetangga Lamalera.

Salah satu 'orang pintar' asal Lembata yang dulu sering jadi contoh di Lembata adalah Prof Dr Gorys Keraf (kini almarhum). Gorys Keraf pakar bahasa, linguis, penulis buku-buku bahasa yang digunakan di seluruh Indonesia. Ketika orang-orang Lembata dan Flores masih banyak yang buta huruf, paad tahun 1960-an Gorys Keraf suah sangat hebat di tingkat nasional. Siapa pelajar Indonesia yang tidak 'kenal' Gorys Keraf ketika belajar bahasa Indonesia?

Mengapa Gorys Keraf bisa hebat?

Jawabnya: "Karena paus!" begitu kira-kira jawaban berbau guyonan khas orang Lembata dan Flores Timur. Intinya, paus (dan ikan-ikan lain) mengandung protein tinggi yang berguna untuk pertumbuhan otak anak-anak.

Kembali ke perburuan paus. Meski sudah dibekali ritual adat Lamaholot dan kurban misa, kemudian doa angelus (malaikat) tiga kali sehari, sembahyang kontas (doa rosario) tiap hari, tidak mudah menemukan si koteklema. Oh ya, di Flores memang ada tradisi bagi warga yang mayoritas Katolik untuk melakukan doa angelus tiga kali sehari: pukul 06.00, 12.00, dan 18.00.

Sering terjadi para nelayan pulang dengan tangan hampa. Atau, hanya membawa ikan-ikan yang bukan koteklema yang nilai jualnya sangat rendah. Dan... sering kali koteklema mengamuk dan makan korban.

Silakan tanya orang Lamalera sudah berapa banyak korban yang jatuh di Laut Sawu demi perburuan sperm whale alias paus jenis koteklema ini? Tapi, namanya juga tradisi, adat nenek moyang, pilihan hidup... tradisi berburu paus pun masih dipertahankan sampai sekarang. Meskipun sudah banyak warga Lamalera yang jadi 'orang pintar' dan berkiprah di kota-kota besar macam Jakarta. Contoh: Dr Sonny Keraf, pakar filsafat yang pernah jadi menteri lingkungan hidup di era Presiden Megawati Soekarnoputri.






Awal Mei 2007, warga Lamalera bersukacita karena tiga koteklema berhasil ditangkap. Panjang mamalia laut ini sekitar 15 meter. Kerja keras yang menyerempet bahaya ini berbuah manis. Para nelayan pun ramai-ramai menjagal dan memproses si koteklema agar daging paus itu tertangani tanpa ada sepotong pun yang tersisa.

Senjata yang dipakai berupa pisau bermata satu yang tipis dan panjangnya 20-30 cm bertangkai bambu yang disebut duri. Pisau itu mula-mula digunakan untuk membuka kulit tubuh paus yang berlapis lemak tebal.

Kulit luar yang berwarna kelabu muda hingga warna tua dan berlapis lemak berwarna putih disayat berbentuk balok-balok. Kemudian diikat dengan pengait dan tali. Lalu ditarik menuju pantai berpasir hitam. Sebidang kulit dan lemak berukuran sekitar 1 x 2 meter ditarik oleh 5-7 nelayan. Bobotnya memang sangat berat.

Setelah beberapa bidang kulit terbuka, para nelayan mulai menyayat bagian dagingnya yang berwarna cerah dan berserat. Mirip daging mamalia darat seperti sapi, kerbau, kambing, atau kuda.

Masyarakat Lamalera sudah punya tata cara pembagian hasil tangkapan paus. Yang diutamakan tuan tanah, pemiliki pledang (perahu), lamafa (juru tikam), para matros (tim nelayan), dan orang-orang yang dianggap ikut membantu penangkapan paus. Selain daging dan lemak, para pemilik kapal berhak mendapat bagian dari jantung. Sayatan bagian ekor juga diberikan kepada matros yang ikut membunuh paus.

Proses memotong daging paus itu berjalan lamban. Sampai tengah hari belum ada seperempat bagian yang sudah terpotong. Sementara matahari semakin tinggi dan para pekerja mulai kelelahan. Tapi mereka tidak punya waktu untuk bersantai karena daging paus harus segera ditangani.

Sejumlah perempuan mencuci daging-daging itu, meletakkannya di ember, dan bolak-balik membawanya pulang. Perempuan lain, yang suaminya tidak ikut dalam kelompok matros yang berhasil menangkap koteklema, menunggu di pantai. Mereka menawarkan komoditas lain untuk dibarter daging paus, yaitu tembakau, rokok, kue, dan jagung.

"Saya ingin membeli bagian jantung untuk digoreng dan dikirim ke pastor di Larantuka," kata Anna Bataona. Dia sengaja membakar roti pada malam sebelumnya untuk menjadi alat tukar. Dua potong kue dapat ditukar dengan sekerat daging, demikian pula dengan sebatang rokok atau segenggam tembakau.

Anna tersenyum puas karena kue-kue buatannya ludes. Dan dia sudah menyimpan setumpuk daging, lemak, dan sebagian jantung. "Nanti digoreng, jantungnya bisa dimakan dan minyak bisa diminum untuk obat," katanya.

Selain dikonsumsi pada hari pertama, sisa daging paus dijemur menjadi dendeng untuk kemudian dijadikan alat tukar dengan bahan makanan lain. Ini jadi bekal hidup selama beberapa bulan ke depan. "Juga bisa menghasilkan uang untuk biaya anak kuliah," kata Anna.

Sayang, dalam beberapa tahun terakhir para nelayan Lamalera hanya menangkap sedikit koteklema. Tahun 2006 hanya dapat satu ekor. Maka, di saat krisis itu para nelayan mengandalkan jenis tangkapan lain seperti lumba-lumba, pari, dan ikan terbang. Tentu saja nilai tukar ikan-ikan ini tak sebagus koteklema.

Koteklema punya lapisan lemak yang tebal untuk persediaan makanan ketika bermigrasi ke selatan yang persediaan makanannya sedikit. Minyak koteklema terbanyak berada di bagian kepala. Pada saat batok kepala dibuka, minyak yang cair memancar keluar dan ditampung di ember-ember. Sedangkan gumpalan lemak bisa dijerang untuk menghasilkan minyak.
Minyak paus dipercaya punya khasiat bagi kesehatan, khususnya untuk menyembuhkan penyakit dalam. Warga Lamalera percaya minyak paus ampuh sebagai pembersih lambung dan saluran pencernaan.

Gara-gara minyak koteklema inilah paus-paus diburu dengan alat modern oleh kapal-kapal pemburu paus di seluruh dunia. Sebab, banyak industri farmasi yang memproses minyak paus sebagai obat-obatan. Itu pula yang menyebabkan hasil tangkapan paus di Lamalera berkurang drastis dibandingkan sebelum tahun 1980-an.

16 comments:

  1. boleh saja lah. terima kasih sudah mampir ke blog wong kam pung. salam.

    ReplyDelete
  2. bolehkah saya mengambil gambar di posting Anda ini untuk tulisan di blog saya? nanti akan saya beri link di gambar itu untuk merujuk ke sini dan juga akan saya tulis bahwa diambil dari blog ini

    saya baru saja memulai m'buat blog mengenai paus dan hewan laut lain dan ingin saya hubung2kan juga dengan Indonesia

    tentunya nanti soal pemburu paus Lamalera sangat menarik untuk dibahas..

    ReplyDelete
  3. Silakan saja Mas Ade. Saya terima kasih anda sudah mampir ke blog sederhana ini. Saya tambahkan sedikit catatan ya.

    Beberapa kawan milis mengutip blog tentang ikan paus ini untuk menjelek-jelekkan orang Lamalera atau Flores Timur umumnya. Seakan-akan kami tidak berbudaya, tidak menghargai satwa, bodoh... dan macam-macam lah. Kritik memang perlu untuk koreksi.

    Tapi perlu diketahui masyarakat punya kearifan lokal. Pakai alat sederhana. Upacara adat dan agama. Sangat selektif mengambil ikan paus. Tahu batas, tidak serakah. Sadar bahwa ikan paus itu sumber nafkah. Jadi, bukan memburu hantam kromo seperti yang dibahas teman-teman milis yang pintar-pintar itu.

    Mudah-mudahan kita bisa saling menghargai keragaman budaya tanah air. Terima kasih dan salam untuk semua.

    ReplyDelete
  4. Saya ingin bertanya, perburuan ikan paus ini biasanya dilakukan bulan apa? atau ada tanggal khusus? maksud saya bagaimana caranya agar saya bisa melihat aktifitas tersebut?

    Terima kasih
    Glenn
    nixland2@yahoo.com

    ReplyDelete
  5. Bung boleh di kasi tau ke saya, setiap kapan akan di lakukan perburuan ikan paus di lembata??
    karena saya ingin mendokumentasikan perburuan ini.
    kiranya Bung berkenan.
    Tolong beritahu ke email saya :

    jefri_photography@yahoo.com

    Thx..

    ReplyDelete
  6. Bung Jefri,
    Menurut Kepala Desa Lamalera Hendrik Keraf, penangkapan ikan paus di Lamalera dilakukan setiap musim LEVA, yakni Mei sampai November. Hingga Oktober 2008 ada 30 paus yang tertangkap. "Orang Lamalera bukan pemburu, tapi penangkap ikan paus," begitu penegasan Pak Hendrik.
    Terima kasih.

    ReplyDelete
  7. salam kenal, tulisan dan fotonya sangat menarik.
    edwindjuanda

    ReplyDelete
  8. Tulisan yang sangat menarik.... Memberi banyak pencerahan tentang Lamalera... Thanks

    ReplyDelete
  9. saya baru aja mau nulis ttg lamalera d blog saya. ternyata mas nya udh nulis...heheheh (jadi malu).

    kenalin saya si jambal, mas. klo berkenan mampir2 ke blog saya yah. saya juga nulis2 ttg cultural travelling di Indonesia...mohon bimbingannya, mas. maklum masih anak baru..heheheh

    ReplyDelete
  10. keren mas...saya juga sempet mau nulis soal lamalera lho.

    klo berkenan, mampir ke blog saya mas. saya juga mengangkat ttg cultural travelling di Indonesia.

    tulisan nya bagus mas...

    ReplyDelete
  11. Salam Kenal Saya Tari Dari Bali....q Pengen Sekali K Lamalera Bahkan I have Dream To Stay There When Im Getting Old hehehe So dreaming Places
    Bisa Di share Gak Tentang Lamalera Oh Ya bisa Tau FBnya

    tHANKS

    ReplyDelete
  12. salam bung...
    saya yoga dari solo.,
    lamalera dari kota kira2 berapa menit ia bung??

    ReplyDelete
  13. mang hebat penduduk lamalera bisa menangkap ikan paus dengan peralatan yang seadanya,,,,,,,
    patut diacungi jempol karena kerja keras mereka.............
    tapi jangan terlalu berlebihan,karena ikan paus bisa punah kalau diburu terus-menerus dan secara berlebihannn

    ReplyDelete
  14. Mas Lambertus,


    Terima kasih atas sharing artikel yang sangat menarik ini. Kalau boleh tahu, adakah informasi mengenai event ini pada di tahun 2011? Saya ada rencana untuk travelling ke Lembata demi tradisi ini..Terima kasih.

    ReplyDelete