01 June 2007

Korupsi di Republik Maling

Lakonnya Korupsi di Republik Maling. Bekas menteri urusan iwak lan segara, Rom Dalu, disidang karena korupsi. Eh, Rom ternyata tidak makan duit sendiri. Bancakan rame-rame!

Lewat anak buahnya, si Rom bagi-bagi uang kepada semua orang penting, calon penguasa, politikus [tikus yang banyak], ormas, hingga pemuka agama di negara antah berantah. Bancakan uang diam-diam tanpa merasa bersalah.

Aman Raib, syukurlah, mau mengakui bahwa dia menerima duit dua ratus juta. Lalu, penerima dana urusan iwak lainnya macam Hasmudi dan Salwa pun mengaku terima.

"Saya terima Rp 10 juta. Biasalah kiai itu kan dapat sangu dari mana-mana. Kita jangan tolak rejeki," ujar Hasmudi. Dia ketua pengurus organisasi keagamaan terkenal.

Lakon bancakan duit iwak lan segara pun bergulir. Si Far, kader partai yang ngaku paling bersih, antikorupsi, peduli wong cilik... eh kecipratan pula. Wah, Rom, Rom... awakmu iki wuapiiik tenan. Semua orang dikasih duit iwak lan segara. Duit iwak mengalir ke mana-mana kayak air Bengawan Solo.


"Tapi si Far terima dalam kapasitas pribadi. Mereka punya hubungan profesional. Partai kami tetap resik, nggak ikut-ikut bancakan duit iwak" begitu keterangan resmi pengurus partai.

Tim sukses penguasa, menurut keterangan di sidang pengadilan, pun terima uang iwak lan segara. Nilainya termasuk paling besar, tapi tidak diakui. Baginda penguasa malah marah-marah. Beliau merasa dirinya bersih, tidak ikut bancakan duit iwak lan segara.

"Fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Awas, aku iso nuntut lho kalau dituduh bukan-bukan," ujarnya.

Lakonnya apa tadi? Korupsi di Republik Maling. Maklum, saya agak ngantuk, kurang tidur, Cak.

Alkisah, di republik antah berantah itu isinya maling melulu. Zamannya edan semua orang edan. Siapa yang tidak edan tidak kebagian. Tidak kebagian berarti melarat. Tidak kebagian, ya, gak iso sugih. Gak iso mulyo.

Tukang sapu maling. Tukang kebun maling. Ketua RT maling. Camat maling. Guru maling. Bupati maling. Gubernur maling. Baginda maling. Polisi lalulintas maling. Wartawan maling, tukang meras minta amplop. Semua serba maling.

Bahkan, menteri yang mengurus agama pun masuk penjara karena nyolong uang negara. Padahal, si menteri itu hafal kitab suci. Oh ya, sing ngurus perjalanan haji pun nggak jujur. Nempil sana nempil sini.

"Lha, kenapa kok saya sendiri yang dipenjara? Yang lain kan maling juga. Mereka juga makan uang yang bukan haknya. Di mana keadilan di republik ini?" protes si menteri, tapi tetap tersenyum.

"Bagaimana mengatasi maling-maling ini? Malu ah, apa kata dunia? Kok kita disebut republik maling," ujar seorang begawan bijak bestari.

Lalu, pergilah rakyat pengadilan untuk mencari kebenaran dan keadilan. Tapi, ingat, ini republik maling. Hamba-hamba hukum, polisi, jaksa, hakim, pengacara... juga maling. Wong jenenge wae republik maling. Hehehe.... Hukum bisa dijualbelikan.

Mafia peradilan marak di mana-mana. Pengacara bisa main mata sama jaksa, sama hakim, sama siapa saja. "Tapi harus disidang sesuai dengan prosedur hukum. Ingat, negara ini negara hukum. Ada undang-undang."

Apa kata dunia? Maka, pengadilan tetap digelar.

"Enaknya gimana? Tahu sama tahu lah biar kliennya sampeyan tidak dihukum berat. Bisa diaturlah," bisik hamba hukum. Akhirnya, vonis untuk bekas penguasa pun ringan-ringan saja. Bagaimanapun juga dia sudah bai-bagi duit untuk orang banyak. Kayak Robinhood lah.

Eksekusi, dibawa ke penjara. Petugas penjara pun perlu uang rokok. Pilih mana: dapat kamar jelek, busuk, panas... atau yang nyaman? Yang ada AC, tivi, kasur empuk.... Yah, namanya juga republik maling.

"Bumi gonjang-ganjing.... langit kelap-kelip...," kata ki dalang sambil melirik sinden sing paling semok. Iku jamune wong melekan, Cak!

Badan saya tak kuat lagi mengikuti lakon carangan ini. Ngantuk, Cak! Ceritanya dari tadi maling, maling, maling, maling..... Zaman edan, semua orang ikut edan.

Sebelum ke peraduan, saya ingat lanjutan kata-kata Cak Ronggowarsito:

"Sabejo-bejone wong edan, lebih bejo wong sing eling lan waspada...."

No comments:

Post a Comment