21 May 2007

Komunitas Pengemis Cilik


"Belajarlah sejak usia dini.
Makin dewasa Anda makin pandai!"


Ada tetapinya, yang dipelajari itu kebajikan, ibadah, kasih sayang, hal-hal positif lain. Belajar mengemis sejak usia dini? Jelas tidak dianjurkan. Tapi, di Sidoarjo, mulai muncul komunitas pengemis cilik di alun-alun dan sekitarnya. Entah dapat ilmu dari mana, anak-anak ini tidak sungkan meminta-minta uang di perempatan.

"Tolong, Om, saya nggak punya uang. Saya belum makan," ujar Wati, nama samaran, bocah berusia delapan tahun.

Diberi uang logam Rp 100, si Wati masih merasa kurang. "Seratus itu buat apa, Om. Lima ratus atau seribulah. Masa, nggak kasihan sama saya," ujar Wati, memelas.

Geng Wati, sekitar 10 orang, pun kerap menggunakan jurus yang sama untuk menguras belas kasihan warga di jalan raya.

Ada perkembangan menarik di Sidoarjo. Kalau sebelumnya pengemis cilik hanya anak-anak jalanan, broken home, anak si 'gepeng', kini status anak-anak ini meningkat. Mereka sekolah di (SD/madrasah) kawasan Sidoarjo dan sekitarnya. Karena itu, penampilan pengemis cilik ini jauh lebih bersih ketimbang pengemis generasi lama.

Busana Wati, kaos merah muda, celana bagus, tak berbeda dengan anak-anak di kompleks perumahan kelas menengah. Otaknya pun cukup cerdas, terlihat dari cara menjawab pertanyaan kita.

"Saya masih kelas satu SD, kebetulan sekarang libur," ujar Wati, polos.

Menurut dia, aksi mengemis di jalan raya ini untuk mencari tambahan penghasilan karena orang tuanya miskin. Sayang, Wati enggan menyebut nama berikut pekerjaan orang tua. "Uangnya saya pakai untuk beli makanan, sisanya ditabung. Lumayanlah," kata gadis cilik ini.

Wati mengaku diajak temannya, sesama anak sekolah, untuk mencari rezeki di jalan raya. Mula-mula ia malu, tak tahu bagaimana jurus efektif untuk mengetuk belas kasihan pengguna jalan raya. Tapi, bocah ini hanya kagok beberapa menit saja. Begitu turun ke jalan, ia cukup mendekati pengendara, menengadahkan tangan kanan, lalu meminta dengan halus.

"Kalau nggak dikasih juga nggak apa-apa. Kita kan nggak maksa," ujar Wati didampingi tiga temannya.

Setelah berpanas-panas di jalan--kulit hitam, mandi keringat, tak apa--Wati mendapat hasil lumayan. Di 'masa percobaan' ia mendapat koleksi uang sedikitnya Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu per hari.

Lumayan! Coba kalau tidur-tidur saja atau main games di rumah, uang sebesar ini tak akan pernah didapat. Penghasilan lumayan besar itu sebetulnya fatamorgana belaka. Sebab, di sisi lain mental anak-anak, seperti Wati, sudah mulai rusak. Mental mengemis, tak perlu bekerja, cukup menadahkan tangan toh dapat uang, mulai merasuki jiwa mereka.

Mau bukti?

Biro Jawa Pos di Sidoarjo beberapa kali mengajak para pengemis cilik ini untuk menjual koran. "Daripada mengemis, minta-minta, bikin malu, apa tidak sebaiknya menjual koran saja? Kalau bisa menjual banyak, bonusnya pun lumayan, lebih besar ketimbang mengemis di jalan," kata Helly, pemasar Jawa Pos Biro Sidoarjo, kepada saya.

Eh, jawaban pengemis-pengemis cilik ini ternyata ketus.

"Lha, buat apa jualan koran. Mendingan minta-minta, santai, dapat banyak," ujar Helly menirukan ucapan para pengemis cilik.

"Mentalnya sudah rusak. Kalau nggak diperbaiki, ya, sampai tua dia jadi pengemis. Wong diajak kerja beneran nggak mau," tambah Helly.

Dari sini kita bisa mahfum kenapa Polisi Pamong Praja Sidoarjo sulit 'membersihkan' para gelandangan dan pengemis di Sidoarjo. Dan, memperbaiki mental warga yang sudah telanjur rusak jauh lebih berat ketimbang membangun gedung-gedung bertingkat.

1 comment:

  1. pengemis adalah sebuah realita...memang dilematis masalah ini..sepertinya akar permasalahan kemiskinan harus diselesaikan dulu untuk menyelesaikan masalah pengemis..toh,masalah pengemis bukan dimonopoli hanya di Indonesia saja..
    Pengemis: Siapa yang salah?

    ReplyDelete