16 May 2007

Kisruh Bahasa Media


Baru-baru ini berlangsung lokakarya para redaktur surat kabar di Surabaya. Hampir semua media utama, termasuk editor ANTARA, TVRI, METRO TV, hadir. Saya mewakili RADAR SURABAYA. Salah satu topik bahasan yang menarik adalah bahasa media kita.

Saya dan teman-teman redaktur di Surabaya rata-rata sependapat bahwa sejak reformasi kita kehilangan pegangan. Otoritas bahasa lenyap. Media yang dulu dianggap baik bahasanya, kini, belum tentu. Para redaktur bahasa kerap bikin terobosan yang melawan arus kebiasaan masyarakat.

“Dulu saya pakai KOMPAS sebagai pegangan. Eh, sekarang bahasa KOMPAS pun simpang siur. Lha, kita mau mengacu pada media mana?” ujar redaktur senior ANTARA di Surabaya.

Teman lain menambahkan, Kamus Besar Bahasa Indonesia pun tidak lagi berwibawa. Sebab, Pusat Bahasa ternyata tidak taat asas. Para ahli bahasa alias munsyi pun simpang siur pendapatnya.

Lalu? Para pembicara yang ditunjuk oleh Dewan Pers pun terkesan pasrah. “Sekarang kembali kepada saudara-saudara sebagai redaktur. Kalian kan punya kebijakan redaksional sendiri,” ujar Atmakusumah Astraatmaja, bekas ketua dewan pers.

Saya menggunakan forum ini untuk bicara banyak soal bahasa media. Menurut saya, media-media di seluruh Indonesia, selain Kamus Besar, merujuk pada KOMPAS dan TEMPO [majalah]. Kebetulan dua media ini tersebar luas di seluruh tanah air dan dikenal ketat dalam merawat bahasanya.

Secara umum bahasa di KOMPAS tidak begitu enak, kecuali katakanlah tulisan Salomo Simanungkalit, Bre Redana, Theodore KS, Budiarto Shambazy, Putu Fajar, Dody Wisnu Pribadi, Frans Sartono, Sujiwo Tejo [dulu], Ninok Leksono. Para wartawan KOMPAS rata-rata bukanlah penyuka bahasa sastrawi. Konstruksi kalimat serta diksi KOMPAS cenderung teknokratis, memenuhi kaidah ‘baik dan benar’ meskipun sering menyeleweng dari Kamus Besar.

Contoh: KOMPAS pakai HEKTAR bukan HEKTARE (Kamus Besar).

Pada hari jadinya ke-40, KOMPAS bikin kejutan besar. Koran ini memutuskan untuk meluluhkan semua kata dasar berkonsonan K, P, T, S. Kata-kata asing dan kata-kata Indonesia yang selama bertahun-tahun dikecualikan dari peluluhan, meski menggunakan empat konsonan itu, oleh KOMPAS diluluhkan. Ini jelas tindakan yang sangat berani.

ME + POPULER menjadi MEMOPULERKAN, bukan MEMPOPULERKAN.
ME + PESONA menjadi MEMESONA, bukan MEMPESONA.
ME + PERCAYA menjadi MEMERCAYA, bukan MEMPERCAYA.
ME + KONSUMSI menjadi MENGONSUMSI, bukan MENGKONSUMSI.
ME + KILAT menjadi MENGILAT, bukan MENGKILAT.
ME + KORUPSI menjadi MENGORUPSI, bukan MENGKORUPSI.

Anehnya, KOMPAS belum berani meluluhkan PUNYA menjadi MEMUNYAI. Hehehe....

Keberanian KOMPAS ini membuat banyak pembaca setia, macam saya, pada awalnya bingung. Rasanya kok aneh ya? Gak enak diucapkan. “Iki rumus teko endhi? Aku dadi malas moco,” ujar teman saya.

“Tapi lama kelamaan, ya, terbiasa. Kita merasa aneh karena bertahun-tahun kita tidak meluluhkan K, P, T, S. Lama-lama juga biasa,” ujar teman lain, editor bahasa di Surabaya.

Gebrakan KOMPAS pada 2005 tersebut langsung diikuti berbagai media di Indonesia. Semua ramai-ramai meluluhkan K, P, T, S. Bahasa yang mengandung rasa walaupun bertentangan dengan rumus pembentukan kata, oleh KOMPAS, dimekaniskan. Ibaratnya, kata dasar dimasukkan ke dalam mesin, rumus baku sudah ada, lalu keluarlah bentukan-bentukan baru macam MEMERKOSA, MEMERCAYAI, MENGONSUMSI, MEMOPULERKAN, MEMESONA... dan seterusnya.

Gara-gara gebrakan KOMPAS, di beberapa surat kabar muncul kata bentukan baru. Contoh: MEMERBESAR, MEMERMASALAHKAN, MEMERSOALKAN, MEMERHITUNGKAN, MEMERTIMBANGKAN.... Tambah bungunglah masyarakat awam!

“Yah, sekalian saja kita luluhkan. Jangan tanggung-tanggung lah,” ujar kawan saya, wartawan yang juga pemerhati bahasa Indonesia.

Alhamdulillah, teman-teman redaksi TEMPO tidak ikut arus mekanisasi bahasa dengan meluluhkan K, P, T, S secara hantam kromo. Pewarta TEMPO rupanya masih menimbang rasa dan kesedapan berbahasa. Maka, TEMPO tidak meluluhkan begitu saja kata-kata dasar dengan K, P, T, S.

MEMPESONA tetaplah MEMPESONA. MEMPENGARUHI tetap MEMPENGARUHI, bukan MEMENGARUHI. Gaya bahasa TEMPO pun masih tetap enak dibaca meskipun, menurut saya, tidak sebagus di era Orde Baru.

Saya sempat mengangkat kasus bahasa media mazhab KOMPAS dan TEMPO saat berbincang informal dengan teman-teman di Balai Bahasa Surabaya. Lembaga ini kepanjangan tangan Pusat Bahasa di Jawa Timur. Omong punya omong, ternyata memang tidak ada kata sepakat karena bahasa itu luwes, dinamis, dan berkembang sesuai dengan kebutuhan pemakainya.

Aming Aminuddin, sastrawan dan peneliti di Balai Bahasa, mengatakan bahwa di mana-mana yang namanya bahasa media tidak pernah dianggap sebagai bahasa yang benar. “Itu kan bahasa koran. Keliru kalau masyarakat menganggap bahasa koran sebagai bahasa yang baik dan benar. Silakan saja mau membuat kreasi bahasa asalkan taat asas,” ujar Aming.

“Anda pun boleh membuat bahasa sendiri sesuai dengan kebijakan surat kabar Anda. Kalau masyarakat mengikuti, ya, berarti gaya bahasa surat kabar Anda memang diterima oleh masyarakat,” imbuh Aming.

4 comments:

  1. Terima kasih, Bung. Kebetulan tadi saya dan teman saya, mantan wartawan KOMPAS, baru saja membicarakan perkara kekacauan bahasa Indonesia di media massa kita. Ternyata kekacauan ini tidak hanya terjadi di media cetak, tetapi juga di media elektronik, seperti RRI. Saya kecewa dengan mutu bahasa Indonesia para penyiarnya sekarang ini. Jika demikian kacaunya, berarti yang kehilangan pegangan bukan saja orang Indonesia, melainkan juga selaksa orang asing yang sedang belajar bahasa pemersatu kita ini. Sebuah bahasa yang membingungkan lama-kelamaan akan kurang populer.

    Selamat berkarya, No Lambertus. Saya tinggal di Jogja.

    ReplyDelete
  2. Dulu dosen bhs Indonesiaku juga memprovokasi peluluhan kpts,kok. Saya sendiri malah memunculkan sebuah anggapan bahwa ada kecenderungan untuk 'merusak' kata sebagai indikator kemampuan seseorang dalam berkata-kata atau dianggap sah kapabilitas seseorang apabila orang itu sudah bisa 'bercanda' dengan kata-kata.

    ReplyDelete
  3. Yohanes Manhitu dan Hoko, terima kasih sudah kasih komentar.

    Salam!

    ReplyDelete
  4. Saya setuju dengan Aming Aminuddin, yang mengatakan bahasa media hanyalah bahasa koran. Bukan sebagai bahasa yang baik dan benar.
    Saya berpikir, sebagai bahasa koran, pertimbangan terbaik memakai satu bahasa adalah seberapa mampu pembaca memahami bahasa itu sendiri. Seberapa mampu bahasa yang dipilih mudah dimengerti, mudah ditafsirkan secara benar, dan yang tak kalah pentingnya, enak dibaca. Untuk sementara, saya hanya melihat Tempo yang berhasil melakukannya. Kompas? Saya kira pendapat saya idem dengan Anda.

    Kita harus selalu ingat, fungsi bahasa adalah sebagai penanda.

    Salam,
    www.adalahcerita.blogspot.com

    ReplyDelete