10 May 2007

Ki Sinarto Dalang Wetan


Sinarto (44) merupakan salah satu dari sedikit dalang wetan di Jawa Timur. Dia berhasil memperkenalkan wayang khas Jawa Timur ke luar negeri.

Oleh LOLLA RAHAYU WILLYZ SANTOSO dan SUSANTI
Mahasiswi Stikosa, Surabaya


Namanya juga anak dalang, Ki Tarub Astrodiharjo (alm), sejak kecil Sinarto sudah mempelajari seni adiluhung ini langsung pada sang ayah. Ketika rekan-rekannya asyik bermain-main, Sinarto sibuk dengan wayang kulit. Menirukan gerak-gerik dan tembang yang dilantunkan ayahnya.

"Jadi, saya tidak mengalami kesulitan belajar mendalang. Wong ayah saya dalang di Lamongan," ujar Ki Sinarto yang dijumpai di Taman Budaya Jatim, Jl Gentengkali Surabaya, Rabu (9/5/2007).

Bakat alam Sinarto kemudian dipoles lagi di sekolah seni. Karena itu, Sinarto tak asing dengan pakem seni modern serta pendekatan akademis. Relasinya dengan seniman dalam dan luar negeri, juga pejabat, kian luas ketika Ki Sinarto bekerja di TBJ.

Menurut Sinarto, seni wayang ternyata lebih disukai orang bule ketimbang orang Jawa Timur sendiri. "Mayoritas bule yang saya temui mengaku suka wayang karena ceritanya unik, penuh dengan simbol, gerakan, dan percakapan yang berisi filsafat kehidupan," tutur Sinarto.

Saat ini Sinarto, yang juga ketua Paguyuban Dalang Wetan (Padatan) ini, punya tim khusus. Ada 31 personel tetap terdiri dari lima sinden, 20 pangrawit, satu dalang, dan lima teknisi. "Mereka ini selalu mendampingi saya dalam setiap pergelaran," ujar pengagum Ki Narto Sabdo, dalang legendaris asal Semarang.

Ki Sinarto mengaku paling terkesan saat mendalang di Prancis. Waktu itu dia berkolaborasi dengan sutradara teater dari negeri anggur itu. Mereka mengeksplorasi teater modern, wayang topeng, dan wayang golek. "Saya latihan selama enam untuk tampil bersama teman dari Prancis," tutur Ki Sinarto.

Sukses di Prancis, Sinarto ditanggap ke Australia, berkolaborasi dengan Andrew Rose, juga teaterwan. Mereka mengadaptasi novel karya Christopher berjudul The Year of Living Dangerously. Kisah seputar kegentingan di Indonesia menjelang tumbangnya Presiden Sukarno.

Di negara kanguru itu, Sinarto mengaku sempat beradu argumen dengan Andrew. Sinarto ingin lakon tragedi, sementara Andrew lebih suka cerita romantis. "Kalau membaca novel Christopher, jelas ceritanya tragedi," papar pria yang tinggal di kawasan Candi, Sidoarjo, itu.

Sinarto sempat mutung dan tidak mau tampil. Melihat situasi ini, Andrew akhirnya menuruti kemauan Sinarto. Dari sini, Sinarto ingin mengatakan, kita tidak perlu minder atau rendah diri saat berhadapan dengan bule. Asalkan argumentasi kita kuat, bisa dipertanggungjawabkan, mereka bisa menerima.

Berbeda dengan dalang-dalang senior, sejak dulu Sinarto tidak mau terikat dengan pakem yang ketat. Tak heran, dia bisa berkolaborasi dengan seniman mana saja, termasuk dari luar negeri, dengan medium apa saja. Lakon-lakon carangan pun banyak dibuat Sinarto. Di antaranya, Kontemplasi, Amartagid, Astina Undercover, Ada Apa dengan Sinta.

Menurut Sinarto, ide cerita Ada Apa dengan Sinta mengacu pada tokoh Sinta yang sangat misterius di negeri Alenka. Sinta yang sangat cantik itu menjadi bahan rebutan berbagai pihak. Namun, Sinta punya kesetiaan yang luar biasa. Kesetiaan atau loyalitas kepada kebenaran dan keadilan inilah yang perlu diteladani bangsa Indonesia.

Di rumah, selain 'bercanda' dengan 200 wayang koleksinya, Sinarto berupaya mewariskan tradisi mendalang kepada dua anaknya yang masih remaja. Aji Sudarsono (14 tahun) kelas dua SMP dan Satwiko Aji Sembodo (9 tahun) kelas empat SD. Perlahan tapi pasti, kedua putranya ini mulai mengikuti jejak Sinarto.

"Tapi saya tidak pernah memaksa mereka untuk menjadi dalang atau seniman," tutur suami Jayanti ini.

1 comment:

  1. aku masih ingat waktu SD ampe smp aku sering bolos sekolah karena keinginan untuk menonton wayang kulit malam harinya, samapai aku nginep di rumah temen buat menghindari pencarian dari ortu
    hahahhahaha secara amang aku maniak sama yang namanya wayang kulit, khususnya wayang Bali hehehehhe gak ada kesenian yang labih keren menurutku di daerahku selain wayang kulitnya

    ReplyDelete