19 May 2007

Ki Dalang Bambang Sugiyo



Bambang Sugiyo baru saja terpilih sebagai tiga dalang terbaik Jawa Timur. Dua dalang yang lain adalah Hari Bawono [Lumajang] dan Anom Hartono [Ponorogo]. Ki Bambang Sugiyo dinilai paling berani bikin terobosan untuk menghidupkan wayang wetan.

Oleh Lambertus L. Hurek

Ki Bambang Sugiyo berani membuat terobosan baru yang tidak pernah dilakukan dalang-dalang lain. "Beliau bukan saja aset Sidoarjo, tapi Jawa Timur," ujar Ki Sinarto, ketua Paguyuban Dalang Wetan, yang juga pengamat wayang kulit kepada saya.

Sinarto, yang juga juri Festival Dalang Jatim itu, mengaku jarang melihat keberanian dalang lain seperti Bambang. Selama ini hampir semua dalang wetan [wayang kulit khas Jawa Timur] terikat pada pakem lama sehingga tidak berkembang. Kalaupun bertahan, paling-paling penggemarnya sangat terbatas.

Karena itu, Sinarto berharap Ki Bambang terus mengembangkan kreativitasnya agar dalang wetan tidak kalah dengan wayang Jawa Tengah yang sudah lama menyerbu pasar Jawa Timur. "Saya hanya bisa berharap sama Ki Bambang," ujar Ki Sinarto.

Kepada saya, Ki Bambang mengaku mempelajari wayang kulit sejak kecil. Dan kebetulan wayang Jawa Timuran alias wayang wetan. Setelah menekuni dunia wayang, ia melihat perkembangan wayang wetan mandek. Dari dulu, katanya, gaya dan pola permainannya tidak berubah. Padahal, tantangan yang dihadapi makin banyak, khususnya wayang Surakarta atau Jawa Tengah umumnya.

"Harus diakui, mereka sangat kreatif. Mereka bisa menangkap kebutuhan masyarakat yang datang untuk mencari hiburan sekaligus tuntunan. Jangan lupa, watang kulit itu tidak sekadar tontonan, tapi juga tuntunan," jelas Ki Bambang, yang juga ketua Pepadi Sidoarjo.

Nah, saking kerasnya pengaruh wayang Surakarta--dengan dalang-dalang top semacam Ki Anom Suroto atau Ki Mantheb Soedarsono--penggemar wayang di Jawa Timur pun mengalami perubahan selera. Mereka merasa lebih dekat dengan wayang Solo ketimbang wayang Jawa Timuran.

"Lha, kalau kita tetap bertahan seperti sekarang, ya, lama-lama habis," tutur Ki Bambang.

Maka, dia bikin jajak pendapat kecil-kecilan untuk mengecek selera penggemar wayang kulit di Jawa Timur. Masukannya cukup banyak. Di antaranya, warga umumnya kurang sreg mendengar pelayan berbahasa ngoko dengan sang prabu, misalnya.

"Kok nggak pantas. Wong kita di rumah saja jarang seperti itu. Masa, di wayang kulit kok boleh," papar Ki Bambang.

Dari sinilah, sejak tahun 1990-an Ki Bambang mulai bereksperimen. Mulai dari bahasa, sabetan, teknik, ia sesuaikan dengan tren yang berkembang sekarang. Ia juga tidak segan-segan melibatkan seniman lain untuk memberi warna baru pada keseniannya.

"Banyak yang protes pada awalnya. Tapi lama-kelamaan orang senang juga dengan teknik baru itu," ujarnya lalu tertawa kecil.

Ki Bambang termasuk orang yang rendah hati. Meski sudah tergolong senior, ia tak segan-segan belajar pada dalang lain, termasuk dalang-dalang muda. Sebab, dalang muda punya kelebihan karena rata-rata punya latar belakang akademis.

"Kalau mau maju, ya, harus belajar terus. Masukan itu saya kumpulkan kemudian dipakai untuk membuat teknik baru, gaya saya sendiri."

No comments:

Post a Comment