10 May 2007

Kampung Kusta Wireskat


Umat dari Surabaya dan sekitarnya misa di kompleks Wireskat, Blora.


Di Dukuh Polaman, Desa Sendangharjo, Blora, Jawa Tengah, terdapat kampung eks penderita kusta. Namanya Wireskat, Wisma Rehabilitasi Sosial Katolik.

Oleh Lambertus L. Hurek

Kusta dipandang sebagai penyakit mengerikan. Menjijikan. Penderitanya dikucilkan, bahkan oleh keluarga dekat.
Romo Ernesto Fervari CM [almarhum], asal Italia, kemudian mendirikan Wireskat untuk ‘memanusiakan’ para bekas penderita kusta.

Nama Wireskat, menurut Romo Ernesto Fervari, diambil dari kata Latin virescat yang artinya menghijaukan kembali. Cikal bakalnya sebuah tempat penampungan sederhana. Pondok ala kadarnya hingga lama-kelamaan melapuk.

Sekarang, setelah direnovasi, bangunan baru berdiri kokoh sehingga penghuninya lebih aman dan nyaman. Rumah berjejer rapi, berpetak-petak, dengan lantai yang cukup tinggi. Saluran air pun bersih.

Romo Ernesto Fervari CM hanya menampung para eks penderita kusta yang telah dinyatakan benar-benar sembuh secara klinis. “Kalau belum dinyatakan sembuh oleh dokter dan menunjukkan surat pengantar dari dokter, Romo Ernesto tidak mau menerima,” ujar Soleman, penghuni Wireskat, yang juga ketua kelompok.

Para penghuni Wireskat sangat kompak. Perbedaan agama, etnis, asal-usul, gereja, bukan masalah di sini. Mereka sama-sama mengalami nasib sebagai bekas penderita kusta: tidak bebas bergerak di masyarakat. Pulang kampung tidak bisa, sehingga mereka terpaksa membina kampung sendiri di Wireskat, Blora.

Sumarto alias Bagong mengatakan, dia dan kawan-kawan enggan pulang ke daerah asalnya. Apalagi tinggal dengan keluarga yang sehat. Rasa malu, segan, takut tidak diterima... adalah alasan umum yang membuat mereka betah tinggal di Wireskat.

"Keluar dari rumah sakit, saya bingung hendak ke mana. Sebab, saya malu bertemu orang dengan fisik yang seperti ini,” ungkap Bagong. Tangan dan kakinya sudah tak punya jari lagi alias buntung.

Dampak penyakit ini, Bagong senantiasa silau bila terkena sinar matahari. Karena itu, dia tak pernah melepas topinya.

Meski begitu, Bagong tetaplah pria normal. Dengan bangga dia memperkenalkan Wati, istrinya. Wati wanita normal dan bukan mantan penderita kusta. “Namanya juga jodoh, sudah diatur oleh Gusti Allah,” katanya.

Setelah Romo Ernesto pulang ke Italia, kemudian wafat di sana, Komunitas Wireskat diserahkan kepada Romo Antonius Karyono CM, Pastor Paroki Santo Paulus, Bojonegoro. Puji Tuhan, komunitas ini tetap eksis karena selalu diperhatikan para donatur. Mereka juga bekerja mengembangkan berbagaiusaha di Wireskat.

Romo Karyono kemudian membangun Gua Maria di kompleks seluas delapan hektare ini. Gua Maria Wireskat dinaungi rimbun pepohonan yang berusia tua. Tepat di bawah patung Bunda Maria ditempatkan altar untuk misa. Fasilitas umum seperti kakus dan tempat parkir kendaraan pun disiapkan.

"Ini adalah tempat peziarahan satu-satunya di dunia yang berada di perkampungan mantan penderita kusta,” kata Romo Karyono. Dia berharap masyarakat ikut membantu para eks penderita kusta di Komunitas Wireskat hasil rintisan almarhum Romo Ernesto ini.

Bantuan dana bisa disalurkan melalui rekening LIPPO BANK Cabang Bojonegoro atas nama ANTONIUS KARYONO rekening 389-10-0$252-3. Nomor telepon Romo Karyono 0353-881160

2 comments:

  1. akuu suka tulisan-tulisan yang sifatnya menyatukan dan mementingkan action dibanding cuma ble ble fanatisme!

    Nice work friend!

    ReplyDelete
  2. co-that, terima kasih terus mampir ke blog saya. Saya pun beberapa kali mampir ke blog sampeyan.

    Salam

    ReplyDelete