18 May 2007

Jupri Abdullah Kaligrafi MURI


Jupri Abdullah pelukis berpengaruh di Kabupaten Pasuruan. Selama dua jam, Jupri menceritakan pengalaman kreatifnya, kedekatannya dengan Tuhan, hingga rencana membuat rekor Muri yang baru kepada saya.

Jupri Abdullah tercatat sebagai pemegang rekor Indonesia untuk lukisan kaligrafi terkecil. Ukurannya 0,5 cm x 0,5 cm. Rekor ini diresmikan Jaya Suprana, bos Muri Semarang, pada awal Mei 2003.

"Nomor registrasi saya di Muri 909. Katanya, ini benar-benar nomor hoki," ujar Jupri Abdullah, yang didampingi Sutikno, seniman asal Pandaan, Pasuruan.

Menekuni dunia melukis sejak 1978, Jupri Abdullah mengaku menjelajahi hampir semua gaya dan aliran lukisan. Dari lukisan natural, abstrak, ekspresif, surealis, sufistik, semuanya ia tekuni. Sampai suatu ketika, pada bulan Ramadan, Jupri secara khusus berdoa kepada Allah memohon petunjuk agar bisa melukis kaligrafi.

"Melukis kaligrafi merupakan kerinduan saya sejak kecil," kata lelaki kelahiran Pasuruan, 23 Februari 1963.

Permohonan Jupri akhirnya terkabul. Ia bukan saja mampu melukis kaligrafi dengan sangat cepat, biasanya dikombinasi dengan gaya surealis, Jupri langsung mendapat ide besar. Yakni, membuat lukisan kaligrafi raksasa berukuran 100 x 100 meter alias satu hektare.

Tapi, setelah dipertimbangkan masak-masak, rencana ini sulit diwujudkan. "Saya terbentur biaya," paparnya lalu tersenyum. Gagal mewujudkan kaligrafi terbesar, Jupri Abdullah berpikir, bagaimana membuat lukisan kaligrafi terkecil di Indonesia.

Awalnya, pelukis yang pernah menghadiahkan sebuah lukisan kaligrafi kepada Aa Gym ini mengaku sangat kesulitan mewujudkan rencana tadi. Ia berburu kanvas dan kuas terkecil di Surabaya, Bandung, Jogja, hingga Jakarta. Ternyata, kuas terkecil di Jakarta pun dianggap masih terlalu 'besar' untuk memecahkan rekor Muri. Lalu?

"Saya dapat petunjuk bagaimana kalau rambut saya yang panjang diambil satu untuk kanvas," urainya.

Nah, dengan bantuan kaca pembesar, Jupri akhirnya menyelesaikan lukisan itu dalam waktu tiga bulan. Ada satu nazarnya: jika rekor Muri pecah, ia menggunduli rambutnya yang dulu panjangnya satu meter lebih. "Makanya, rambut saya sekarang pendek, nggak seram lagi."

Kaligrafi dalam cat minyak di atas kanvas itu, setelah diteliti tim ahli Muri Semarang, dinyatakan layak menerima penghargaan sebagai kaligrafi terkecil di Indonesia. Jupri, berdasar informasi yang diterimanya, sangat yakin bahwa karyanya pun memecahkan rekor dunia (Guiness Book of Records).

Adapun kaligrafi terkecil karya pelukis Turki berukuran 1 x 1 cm. "Makanya, sekarang saya sedang berusaha agar kaligrafi karya saya ini bisa masuk rekor dunia," harapnya.

Saat ini, kaligrafi terkecil di Indonesia itu--berisi tulisan Basmallah--disimpan oleh seorang kolektor di Jakarta.

Sukses memecahkan rekor Muri, Jupri Abdullah semakin merasa mantap sebagai pelukis kaligrafi-surealis. Karya-karyanya, seperti diperlihatkan kepada saya, umumnya berupa objek manusia dengan rambut sangat panjang, nyaris memenuhi kanvas. Ini jelas kontras dengan karya kaligrafi (alm) Amang Rahman, maestro pelukis kaligrafi asal Surabaya.

"Saya memang banyak dipengaruhi oleh almarhum Amang Rahman. Beliau guru saya," kata Jupri Abdullah.

Masih ada satu obsesi yang hendak diraih pelukis berkacama minus ini. Yakni, membuat lukisan kaligrafi terbesar di Indonesia. Lukisan seluas satu hektare?

"Separuhnya saja sudah cukup, 50 x 50 meter. Sekarang sudah ada lampu hijau dari Gubernur [Jawa Timur] Imam Utomo. Insya Allah, bisa diwujudkan dalam tahun ini juga," harapnya.

3 comments:

  1. ada yang tahu alamat atau kontak dengan pak jupri abdullah?

    terakhir kontak dengan beliau waktu beliau masih sebagai pemred tabloid suara melayu.

    thx

    (mahar prastowo, 0815 8579 2280)

    ReplyDelete
  2. nomor HP-nya ganti2, shg agak sulit dikontak. tapi mas jupri punya galeri di samping kantor dinas pariwisata pasuruan, jalan raya pandaan.

    ReplyDelete
  3. dia bukan pelukis hanya orang yang mencari sensasi untuk mengelabui dan menipu orang lain.sudah banyak korbannya hati-hati

    ReplyDelete