07 May 2007

Jumpa Malioboro 3 di Surabaya


[Ivan Hariyanto dan karyanya.]


Jumpa Malioboro III di eks Museum Mpu Tantular Surabaya dinilai sukses. Ajang kumpul-kumpul para seniman alumni Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), yang kemudian berubah nama menjadi Institut Seni Indonesia (ISI), Jogja, ini juga untuk memantapan Ikatan Alumni ISI (Ika-ISI) Jawa Timur.


Suasana meriah mewarnai Museum Mpu Tantular di Jalan Taman Mayangkara, Surabaya, akhir pekan lalu. Puluhan seniman yang rata-rata berusia di atas setengah abad, rambut memutih, itu larut dalam kegembiraan. Diskusi, ngobrol, bernyanyi, main musik, juga menikmati tumpengan bersama-sama.

“Acara penutupan ini sekaligus syukuran karena Jumpa Malioboro III mendapat sambutan yang antusias dari masyarakat,” ujar Surya Nurmansyah, ketua Ika-ISI Jawa Timur, kepada saya.

Digelar sejak 16 April 2007, Jumpa Malioboro III menghadirkan 104 seniman alumni STSI/ISI yang tersebar di Jawa Timur. Mereka menampilkan 135 karya seni, sebagian besar lukisan. Juga ada seni kriya, grafis, fotografi, hingga instalasi. Rektor ISI Jogja, Suprapto Sujono, bahkan ikut memamerkan sebuah karya tentang kebobrokan pilkada di tanah air.

"Kami juga mengajak teman-teman di luar STSI/ISI yang sejak dulu punya ikatan dengan kami sewaktu masih di Jogja. Teman-teman non-STSI/ISI ini sekitar lima persen,” tambah Ivan Hariyanto, ketua presidium Dewan Kesenian Surabaya (DKS), alumni STSI angkatan 1975.

Jumpa Maliboro I digelar pada 2002. Waktu itu lokasinya di Taman Budaya Jatim, Jl Gentengkali. Setahun kemudian, 2003, digelar Jumpa Malioboro II di tempat yang sama. Namun, karena kesibukan masing-masing, ajang kumpul-kumpul eks seniman Jatim di Jogja ini mandek cukup lama.

“Mengumpulkan 10 orang saja susah, apalagi sampai 100 orang. Sebab, teman-teman seniman ini kan sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Tapi, alhamdulillah, Jumpa Malioboro III bisa dilaksanakan dan mendapat sambutan yang luas,” kata Surya Nurmansyah.

Arek Suroboyo ini menampilkan lukisan realis yang memang digemarinya sejak masih remaja. Tadinya, Surya dan kawan-kawan tidak banyak mematok target, selain sebagai ajang kumpul-kumpul dan menawarkan alternatif apresiasi seni kepada masyarakat. Namun, setelah berjalan satu dua hari, sejumlah sekolah menengah dan perguruan tinggi memanfaatkan Jumpa Maliboro III untuk menimba ilmu dari para seniman senior.

Pekan lalu, misalnya, bekas Museum Mpu Tantular ini bahkan sempat ‘diserbu’ 200-an mahasiswa. Padahal, kapasitas gedung hanya sekitar 100 orang.

“Ini di luar dugaan kami. Mahasiswa UK Petra ramai-ramai ke sini. Begitu juga beberapa perguruan tinggi lain di Surabaya,” papar Ivan Hariyanto. Karena itulah, Jumpa Malioboro diperpanjang empat hari. “Kebetulan kepala Museum Mpu Tantular juga alumni STSI, jadi nggak masalah,” tambah Ivan lalu tertawa kecil.

Di luar aspek apresiasi, Jumpa Malioboro III difokuskan sebagai ajang konsolidasi ikatan alumni. Menurut Ivan, embrio Ika-ISI Jatim memang sudah terbentuk, namun jalannya kurang mulus. Dibandingkan provinsi lain seperti DKI Jakarta atau DI Jogja, Ika-ISI Jatim masih tersendat-sendat.

“Nah, sekarang ini sudah mulai terasa gregetnya,” ujar Ivan Hariyanto yang didampingi Muhammad Dayat, alumnus ISI Jogja.

Ivan, yang juga ketua Himpunan Perupa Surabaya, berharap Jumpa Malioboro menjadi salah satu agenda seni tahunan di Jawa Timur, khususnya Surabaya. Bila perlu tanggal dan bulannya tetap. “Jadi, semua orang tahu kalau tiap minggu kedua April ada Jumpa Malioboro. Jangan sampai vakum hingga tiga tahun seperti kemarin,” katanya.

No comments:

Post a Comment