14 May 2007

Pengamen Buta Nyanyi Jenang Gula

Berbekal perangkat karaoke sederhana, John tekun menghibur warga di Terminal Bungurasih. John sangat ulet meski buta sejak lahir.


Saya bertemu John di Terminal Purabaya. Lokasi terminal bus antarkota ini terletak di Desa Bungurasih, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, sehingga lebih populer dengan Terminal Bungurasih.

John waktu itu sedang melantunkan Jenang Gula karangan Effendi Slamet.

Jenang gula, kowe ojo lali
marang aku iki, to kang mas
Nalikane nandhang susah,
sapa kang ngancani....

Dhek semana, aku tetap setya
serta tetap tresna ta kang mas
Dereng nate gawe gelo lan gawe kuciwa

Ning saiki bareng mukti
kowe kok 'njur malah lali marang aku

Sithik-sithik kowe nesu
terus ngajak padu ja ngono aja ngono...

Apa kowe pancen ra kelingan
jamane dhek biyen ta kang mas
Kowe janji bungah susah padha dilakoni


Suara John fals. Tapi John sangat serius. Ia sangat menghayati lagu itu. Seakan-akan larut dalam syair lagu.

“Saya nggak melihat apa-apa. Dan saya tidak peduli apakah ada orang mendengarkan lagu yang saya bawakan. Yang penting, saya menyanyi terus,” ujar John yang menolak menyebut nama aslinya.

Beberapa calon penumpang di Terminal Bungurasih kemudian menyisihkan uang receh ke dalam kotak amal, persis di depan mata John. John tidak peduli. Ia terus menyanyi. “Penghasilan saya tidak tentu, Mas,” ujarnya.

Meski begitu, John bisa menyewa sebuah kamar di Desa Bungurasih, tak jauh dari terminal. Urusan makan dan minum sehari-hari pun relatif tak ada persoalan, kecuali mudik ke kampung halamannya di Riau.

“Mungkin untuk ke Riau bisa, tapi pulangnya susah. Yah, saya di sini saja menghibur orang Jawa,” ujar pria kelahiran 1976 ini.

Lahir di Pekanbaru, Riau, sebagai anak tunggal, John mengaku berasal dari keluarga miskin. Kondisi matanya yang cacat semakin menambah beban keluarga. Di usia remaja, ketika John belum mandiri, kedua orang tuanya meninggal dunia. Tinggallah John sebatang kara di kampung.

Tapi John tidak putus asa. Ia tekun belajar sehingga bisa menamatkan Sekolah Menengah Pekerjaan Sosial di Bandung. Lepas SMPS, John ingin bertahan hidup dengan modal suara yang ia miliki. Kebetulan bujangan ini sering mendengar lagu-lagu dari tape recorder atau radio milik tetangga di kampung. Daya ingatnya yang kuat membuat John lekas sekali menghafal lagu-lagu apa saja, khususnya dangdut.

“Kalau pop saya agak kesulitan masuknya. Dangdut saya bisa masuk dengan pas,” ujarnya seraya tersenyum.

Nah, sejak 1994 itulah John mengaku malang-melintang di Pulau Jawa, mulai Bandung, Jakarta, Semarang, Surabaya, Sidoarjo, dan akhirnya hinggap di Bungurasih. Ngamen di Bungurasih ini pun, kata dia, tidak akan dilakukan terus-menerus.

John mengaku jenuh kalau harus ngendon tiap hari di Terminal Bungurasih. “Saya harus keliling ke mana-mana agar tambah pengalaman. Mungkin minggu depan saya sudah tidak di terminal. Tempat ngamen itu kan banyak sekali,” ujar John dengan suara yang selalu keras.

Pernah diganggu saat mengamen?

"Belum pernah," kata John. Ia mengaku selalu mendapat tempat untuk berkaraoke demi mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Ketika ada razia, John selalu selamat. Menurut keyakinannya, selama punya niat baik, orang akan menghormati dan menyisihkan sedikit rezeki untuknya.

John enggan dikasihani hanya karena buta. Cacat tubuh, dalam bentuk apa pun, bagi John, bukanlah halangan untuk mencari nafkah dan bergaul dengan warga lain.

“Kita kan sama-sama ciptaan Tuhan, sama-sama manusia. Dan setiap orang sudah punya rezeki sendiri-sendiri,” ujar pengagum Stevie Wonder, penyanyi buta asal Amerika Serikat.

No comments:

Post a Comment