18 May 2007

Hery Andriyanto Pemusik Unik


Hery Andriyanto, pemusik asal Sidoarjo, beberapa waktu lalu tampil di Pusat Kebudayaan Prancis alias CCCL, Jalan Darmokali 10 Surabaya.

Oleh Lambertus L. Hurek

Di Jeudis Musicaux alias Kamis Musikal ini Hery tampil unik. Dengan pencahayaan minim, mula-mula Hery mengajak penonton untuk menikmati keheningan. Tak ada suara, hanya desah nafas penonton, serta raungan sepeda motor dari Jl Darmokali yang terdengar.

Sekitar 10 menit, Hery dengan gaya ‘pak dukun’ mempermainkan mangkuk dari Tibet. Mangkuk langka, katanya terbuat dari tujuh logam ini, diraba-raba oleh Hery menimbulkan bebunyian aneh. Makin lama makin keras (crescendo), kemudian stabil, gantian lagi ke makin halus (decresendo). Sementara itu, tangan Hery terus berputar-putar.

“Saya memang sengaja mengkondisikan penonton untuk masuk ke musik saya,” ujar Hery kepada saya.

Usai ‘menyihir’ penonton, di antaranya Kepala Taman Budaya Jawa Timur Pribadi Agus Santoso, Hery mengeksplorsi rebana. Instrumen gesek tradisional ini oleh Hery digesek dengan cara tidak lazim. Terjadi repetisi atau perulangan nada terus-menerus, yang menyayat.

Cukup rumit, sehingga beberapa penonton tampak gelisah dan akhirnya meninggalkan aula CCCL. “Pusing, Mas,” ujar seorang gadis cantik berambut ikal.

Masih dalam suasana hening, Hery masuk ke bagian inti: eksplorasi biola. Lelaki yang berdiam di Sawotratap, Kecamatan Waru, Sidoarjo, ini mengambil biolanya dan mulai bermain. Seperti biasa, nada-nada Hery sangat sulit ditebak ke mana arahnya.

Kita ‘dipaksa’ Hery Biola untuk mengikuti terus komposisinya yang panjang dan penuh dengan nada minor tersebut. Jangankan penonton, Hery sendiri mengaku tak pernah bermain ala violis klasik yang selalu mengacu pada partitur.

Di saat penonton masih bingung dengan nada-nada Hery, tiba-tiba muncul Haris, violis asal Surabaya. Gaya Haris sungguh berbeda dengan Hery. Haris sangat eksplosif, warnanya tebal, sementara Hery Biola tetap konsisten dengan nada-nada yang menyayat kalbu.

Ketika ‘disentak’ Haris, permainan Hery memang meningkat frekuensinya, namun tetap khas Hery. “Kolaborasi Hery dan Haris ini sangat pas karena karakter mereka berbeda,” ujar Herman Benk, pelukis senior, di tengah pementasan.

Masih dalam cahaya minim, muncul dua pemain perkusi, yakni Fitra (Surabaya) dan Tembir (Sidoarjo) ke panggung. Tanpa aba-aba, keduanya langsung masuk menemani Hery dan Haris. Suasana makin ramai, hidup, karena kedua pemusik ini memukul kendangnya keras-keras.

Hery kemudian menidurkan biolanya, gantian meniup suling. Beda dengan gesekan biola, tiupan suling Hery terasa ‘sangar’ dan membuat kantuk penonton hilang. Tak terasa, hampir satu jam sudah Hery Biola dan kawan-kawan tampil di Jeudis Musicaux.

“Sampun, terima kasih,” ujar Hery Biola.

Penonton baru sadar kalau pergelaran malam itu sudah selesai.

Dalam percakapan dengan saya, Hery mengatakan bahwa musik yang ia tawarkan memang lain dari musik komersial yang biasa kita nikmati di televisi atau radio. Musik, bagi lelaki kelahiran 5 Desember 1965 ini, bukan semata-mata hiburan, atau sekadar menyenangkan telinga orang.

“Saya menawarkan musik yang punya ruang untuk bertegur sapa. Kita bersilaturahmi dalam musik,” ujar Hery.

Karena itu, Hery Biola selalu mengajak penonton untuk ikut nimbrung dalam konser tunggalnya. Ia sudah menyiapkan seperangkat instrumen ‘kampung’ yang bisa dimainkan siapa saja, tak harus pemusik. Namun, malam Jumat itu hanya tiga orang yang ‘berani’ menemani Hery Biola, yakni Haris, Fitra, dan Tembir.

“Mungkin karena masih baru. Kalau lama-lama dikondisikan, saya yakin, teman-teman mau bersilaturahmi lewat musik,” ujar Hery Biola, yang juga guru kesenian dan olahraga di SD Sawotratap, Gedangan.

Hery Biola adalah tipe pemusik otodidak. Ia bukan lulusan sekolah musik, tak pernah ikut kursus musik secara khusus. Hery Biola justru lulusan Sekolah Guru Olahraga, Karangmenjangan, Surabaya. Ketika akan lulus, Hery mengaku frustrasi karena tak becus main gitar.

Suatu ketika ia menyaksikan orkes keroncong pimpinan Pak Salamun. “Di situ saya hanya tertarik pada biola. Saya tekuni dan sampai sekarang menjadi bagian hidup saya,” paparnya.

No comments:

Post a Comment