20 May 2007

Di Makam WR Soepratman


Minggu, 20 Mei 2007, hari kebangkitan nasional. Saya mengunjungi makam Wage Rudolf Soepratman di Surabaya. Sepi. Geliat hari besar nasional itu tak terasa.

Di makam penulis lagu Indonesia Raya ini, saya bertemu dengan Wanda, bocah Kenjeran. Kanak-kanak kelas nol besar. Kebetulan dia datang bersama ayahnya, nyekar.

"Om tahu gak siapa yang tabur bunga di sini," tanya si Wanda. "Ayo... siapa?"

"Wah, siapa ya? Nggak tahu."

"Aku," ujar Wanda, bahagia.

"Untuk apa kau tabur bunga di makam pahlawan nasional, Wanda?" tanya saya.

"Biar cantik," kata bocah cerdas ini.

Lalu, saya menyuruh dia membelikan es degan [kelapa muda]. Saya memerhatikan syair Indonesia Raya di kompleks makam yang diresmikan Presiden Megawati Soekarnoputri pada 13 Mei 2003 silam. Ada tiga bait, namun selama ini kita hanya nyanyi satu kuplet.

Saya tidak tahu alasannya. Mungkin karena lagu kebangsaan ini terlalu panjang dan sulit. Bandingkan dengan lagu kebangsaan Inggris yang pendek, gampang, selalu dinyanyikan penonton bola kaki. Tapi, yang jelas, syair yang ditulis Wage Rudolf Soepratman, pemusik yang juga wartawan, sangat dalam maknanya.

Berisi cita-cita akan sebuah bangsa yang merdeka, berdaulat, kaya, makmur, diperhitungkan di kancah dunia. Ingat, Soepratman menulis Indonesia Raya saat penjajah Belanda masih bercokol di sini. Jika ketahuan menggunakan kata-kata Indonesia Raya, merdeka, merdeka..., maka konsekuensinya sangat berat. Bisa dipenjara. Bisa juga ditembak polisi kolonial.

Saya membaca kata-kata terakhir WR Soepratman sebelum meninggal di rumah sederhana, Jalan Mangga 21 Surabaya, pada 17 Agustus 1938, hari Rabu Wage. Kata-kata ini diabadikan di monumen di kompleks makam WR Soepratman.

"Nasibku sudah begini. Inilah yang disukai pemerintah Hindia Belanda. Biarlah saya meninggal. Saya ikhlas. Saya toh sudah beramal, berjuang dengan caraku, dengan biolaku. Saya yakin Indonesia pasti merdeka."

Sambil menunggu Wanda, bocah kanak-kanak membeli es degan, saya membaca koran Kompas edisi Minggu, 20 Mei 2007. Di halaman 29 ada tulisan tentang festival seni pertunjukan di Bantul, Jogjakarta.

Rachael Saraswati menempeli tubuhnya dengan segala macam sampah. Lalu, seniwati ini berdiri di dalam ember besar berisi air seraya menyanyikan lagu Indonesia Raya, menghadap dan menghormat tiang bendera. Ternyata, yang dinaikkan bukan bendera merah putih melainkan bendera Amerika Serikat.

Nah, di makam WR Soepratman saya bisa menangkap kegetiran Rachel Saraswati. Kita, bangsa Indonesia, makin linglung di era globalisasi ini. Rasa kebangsaan, nasionalisme, solidaritas sebagai bangsa... makin pudar. Resminya, lagu Indonesia Raya masih menjadi lagu kebangsaan karena dilindungi oleh Undang-Undang Dasar 1945. Tapi masih adakah 'merah-putih' di dada saya dan anda? Ada yang bilang, Indonesia sudah menjadi negara bagian Amerika Serikat.

"Om, esnya diminum dong. Masa dari tadi baca koran melulu," tukas Wanda.

Lamunan saya pun hilang. Saya lalu mengajak Wanda menjadi model foto saya di makam WR Soepratman. Lalu, pulang ke arah selatan Kota Surabaya. Saya mencoba mengingat amanat almarhum WR Soepratman: beramal... ikhlas... dengan cara masing-masing.

2 comments:

  1. Terima kasih atas anda kunjungan ziarah ke makam WR.Soepratman.

    Hormat Kami,
    Ikatan Keluarga Ahli Waris WR.Soepratman
    d/a.Jl.Mulia no.25 RT.011/008
    Jatinegara Jakarta Timur

    Budi.WR.Soepratman
    91359196/08567229926

    ReplyDelete
  2. Makasih atas sharing-nya. Makam WR Supratman masih tetap di Jl. Kenjeran, Surabaya 'kan?

    Juga, kalau boleh tahu, bagaimana isi selengkapnya "Indonesia Raya"?

    ReplyDelete