04 May 2007

Dakwah di Masalembo


Dakwah itu, kata Sulton Akbar, pelukis muda Sidoarjo, bukan monopoli ustaz, kiai, dai, penceramah, dan sejenisnya. Setiap muslim wajib berdakwah sesuai dengan kemampuannya. Itu sebabnya, Sulton dan kawan-kawan melakukan tur ke Masalembo dan Masakambing, pulau kecil di Sumenep, Madura, untuk berdakwah.



“Kami ada delapan orang, semuanya dari Sidoarjo, sepakat untuk datang ke Masalembo. Selama 12 hari kami tinggal dengan warga di sana,” cerita Sulton Akbar kepada saya.

Peserta ‘tur dakwah’ adalah SULTON AKBAR, ada ROMLI (Sidoarjo), IMAMUDDIN (Sidoarjo), NUR ROZI (Sidoarjo), H IKHSAN (Candi), SYAMSUL RAHMAN (Tanggulangin), HAMAM (Tanggulangin), serta HAMDANI (Candi). Yang menarik, delapan orang ini sebelumnya tidak saling kenal, juga tidak terlibat dalam organisasi dakwah mana pun. Usai tugas di Masalembo, mereka bubar, menekuni aktivitas masing-masing.

“Kayak orang naik haji. Bersama-sama satu rombongan, setelah menunaikan ibadah haji, ya, selesai. Kami kembali ke rumah masing-masing,” kata pria kelahiran Tanggulangin, 9 Juni 1969 itu.

Dakwah semacam ini, kata Sulton Akbar, harus didasari oleh niat serius tanpa pamrih apa pun. Kalau mau berdakwah--biasanya ke lokasi yang agak jauh--modal utama, ya, niat untuk Allah semata. Bukan modal uang, fasilitas, pamrih, dan sebagainya. Sulton sendiri mengaku waktu hendak ke Masalembo hanya punya uang Rp 50 ribu di kantong.

“Tapi, karena sudah niat, saya jalan saja. Alhamdulillah, semuanya lancar saja sampai pulang ke Sidoarjo,” kata pria yang setahun belakangan ini berbusana ala pria Timur Tengah itu. Karena niat pula, sambung dia, delapan orang ini bisa bertemu dan ‘diarahkan’ ke Masalembo.

"Kami sendiri awalnya nggak tahu kalau bakal ke Masalembo. Di sinilah letak kebesaran Tuhan,” tukasnya.

Di Masalembo, delapan pria Sidoarjo itu ‘berkemah’ di masjid-masjid. Ada 10 masjid di Masalembo, pulau kecil yang dihuni warga etnis Madura, Mandar, dan Bugis itu. Sesuai dengan tradisi agama, Sulton dan kawan-kawan membatasi waktu bertama selama tiga hari tiga malam.

Setelah itu, mereka beralih ke masjid lain. “Tapi kadang-kadang bisa empat hari, lima hari, karena warga memang menghendaki agar kami bisa tinggal lebih lama,” tuturnya.

Masalembo ini kawasan yang benar-benar pelosok, butuh waktu 10 jam perjalanan dengan kapal laut (sedang) dari Kalianget, Kabupaten Sumenep. Listrik PLN tidak ada, kecuali genset diesel sederhana yang hanya berfungsi mulai pukul 18:00 hingga sekamir pukul 21:00 WIB.
Di luar jam itu, wassalam, suasana gelap gulita. Warga harus menggunakan lampu minyak tanah atau syukur-syukur petromaks. “Tiap malam saya begini terus,” ujar Sulton sambil memperagakan gerakan orang memompa petromaks.

Karena itu, acara dakwah ala rombongan Sidoarjo ini lebih banyak dilakukan siang hari. Bukan pengajian formal, ceramah, atau diskusi yang diikuti banyak orang. Bertemu empat orang, lima, enam, bahkan dua orang... Sulton Akbar dkk mengajak bicara dari hati ke hati secara informal. Obrolan ringan mulai soal kehidupan nelayan di sana, bagaimana membeli sembako, dampak krismon, dan kemudian warga diajak bicara seputar rohani.

"Kami mengajak umat di masjid untuk resah, berpikir tentang hal-hal rohani. Kami mengajak umat untuk lebih taat. Sekarang ini banyak orang pintar, tapi berapa sih yang taat?” begitu argumentasi Cak Sulton.

Warga yang salat, tapi kurang rajin, didorong Cak Sulton dan rombongan asal Sidoarjo untuk lebih giat lagi. Masjid harus dimakmurkan, singkatnya masyarakat diminta tidak larut dalam hal-hal duniawi.

Ternyata, kata Cak Sulton, respons warga Masalembo sangat baik. Mereka selalu diajak untuk bertahan lebih lama di masjid, bahkan ditraktir makan ikan segar dari perairan Masalembo. “Mereka bakar sendiri, dikasih bumbu, lantas kami yang makan. Wuih, sedapnya ikan di Masalembo,” kenangnya.

*******

SEJAK awal Sulton Akbar dan tujuh temannya (semua dari Sidoarjo) sepakat untuk tidak membicarakan topik lain, di luar dakwah Islam. Mengingatkan warga untuk taat, risau, tidak menghabiskan energi untuk urusan duniawi, memakmurkan masjid.

"Kami tidak bicara politik, pilkada, perbedaan pendapat, status sosial, minta sumbangan.... Nggak ada! Kami hanya mengajak bicara penduduk yang datang ke masjid,” cerita Sulton Akbar, pria asli Tanggulangin, yang lebih dikenal sebagai pelukis itu.

Kelihatannya sepele, namun ternyata pola dakwah seperti ini tepat sasaran. Warga antusias menemani Sulton dan kawan-kawan, bahkan mentraktir makan ikan segar khas Masalembo. “Padahal, kami sudah siap peralatan masak, memasak gantian secara piket. Kami, delapan orang, ini statusnya sama. Semua memasak sesuai giliran meskipun salah satunya sudah haji,” kata pria kelahiran Tanggulangin, 9 Juli 1969 itu.

Usai berdakwah dari masjid ke masjid di Pulau Masalembo, rombongan Sulton Akbar beralih Masakambing. Pelayaran dari Masalembo ke Masakambing sungguh menantang keberanian mereka yang belum terbiasa dengan dunia laut. “Ombaknya tinggi sekali, kami seperti berada di ayunan saja. Naik, turun, naik lagi, terjun bebas,” ujar Sulton.

Namanya juga belum biasa, beberapa ‘pendakwah’ pun mabuk laut. Fisik dan mental benar-benar terkuras, apalagi beberapa di antara anggota rombongan tidak bisa berenang. Bagaimana kalau perahu kecil itu terbalik? Ombak sangat besar! Ingat, di tahun 1980-an kapal penumpang KM Tampomas II pernah tenggelam di kawasan itu.
Sulton mengaku pasrah.

Syukurlah, rombongan delapan orang Sidoarjo ini--ditambah teman-teman baru, sesama pendakwah, yang baru bertemu di Masalembo--tiba di Pulau Masakambing dengan selamat. “Alhamdulillah,” ucap Sulton beberapa kali. Pengalaman di laut ini semakin memperkuat keyakinan Sulton dan kawan-kawan bahwa jika orang datang dengan niat suci, tak nek-neko, insya Allah, akan selamat.

Masakambing lebih kecil ketimbang Masalembo. Kalau Masalembo punya empat desa, Masakambing hanya dua. Kondisi alam, infrastruktur, bangunan... di Masakambing pun lebih sederhana ketimbang ‘saudara tuanya’ itu. Namun, di balik keterpencilan kedua pulau ini, kata Sulton, Tuhan menyediakan air tawar bagi penduduk.

Menggali sumur di dekat laut? No problem. Sebab, air sumur di sana pasti tawar, bisa dinikmati dengan segar. Warga juga bisa menikmati ikan segar (berbagai jenis) yang bisa diperoleh dengan mudah. Orang-orang kota niscaya mendapat pengalaman berkesan selama berkunjung ke Masalembo dan Masakambing.

“Di Masakambing kami hanya tiga hari. Acaranya sama saja, berada di masjid, ngobrol dengan warga, mengajak mereka risau, lebih taat beribadah, taat kepada Allah.”

Respons warga Masakambing pun sama bagusnya dengan di Masalembo.
Pengalaman yang tak terlupakan, selain ombak besar menghantam perahu mereka, kebetulan ada perompak laut di pelayaran menuju Masakambing. Untung saja, para bajak laut itu sudah diringkus, sehingga tidak bisa berulah.

Baru sekali inilah Sulton melihat dari dekat ‘binatang’ yang namanya bajak laut. “Orangnya sama dengan kami, cuma lebih kekar dan sangar,” ujar Sulton seraya tertawa kecil.

Kalaupun para bajak laut itu mengamuk, Sulton dan kawan-kawan mengaku pasrah saja kepada Allah. Toh, hidup mati manusia tidak tergantung pada bajak laut, tapi Allah SWT. “Ngapain takut sama bajak laut?”

Begitulah, Sulton dan kawan-kawan berdakwah selama dua belas hari di kawasan Masalembo. Ditambah waktu perjalanan, praktis mereka menghabiskan hampir satu bulan di luar rumah. Pengalaman yang sulit dilupakan, kata Sulton. Usai misi dakwah di Masalembo, rombongan bubar, kembali ke habitat dan aktivitas masing-masing.

2 comments:

  1. Sebagai putra Masalembo,saya bangga selamat berjuang. Dan selamat atas berdirinya khelafah islamiyah yang kini sudah ada kantor cabangnya di Massalembo. Walau baru tapi ini merupakan tonggak tercapainya suatu cita - cita umat islam seduni. Salam buat putra - putri masalembo. Walau sendiri sudah 4 tahun tidak pulang kampung.

    ReplyDelete
  2. sebagai putra masakambing saya sampaikan Terima kasih atas segala usaha mulia yang anda lakukan....

    ReplyDelete