06 May 2007

Bu Nur 'Penguasa' Konser di Surabaya

Wong cilik yang satu ini tak pernah melewatkan setiap konser band populer di stadion atau lapangan terbuka di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Lamongan. Dia juga hafal karakter band dan penggemarnya. Kok bisa?



Bu Nur Yanto tersenyum lebar. Belum lama ini, sekitar pukul 01.30 WIB, ketika konser musik pop di Stadion Tambaksari, Surabaya, menjelang buyar, nasi bungkus dan makanan kecil jualannya sudah tandas.

"Tinggal tiga bungkus. Kamu mau borong semua, ya? Sekarang tinggal air mineral saja," ujar Bu Nur, sapaan akrab wanita berkacamata ini kepada saya.

Saya memang sudah akrab dengan Bu Nur. Sebab, tiap kali menonton konser di Surabaya atau Sidoarjo, ibu ini tak pernah ketinggalan. Sejak 1980-an dia memanfaatkan momentum konser untuk berjualan nasi bungkus, camilan, air mineral, rokok, dan sebagainya.

Dia kenal band lama macam God Bless, Power Metal, Gong 2000, Edane, Mel Shandy.. hingga band-band [setengah baru] macam Dewa, Padi, Sheila on 7, Jamrud, Boomerang, Peterpan, Ada Band. Juga band macanegara seperti Europe, Helloween,

Ia selalu didampingi suaminya, Sanaji, serta dua anak gadisnya, Sari dan Sri. Gaya Bu Nur yang ramah, ditambah kehadiran dua gadis manis belasan tahun menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak muda penggemar band untuk mampir ke stan Bu Nur.

Di Stadion Jenggolo, Sidoarjo, nasib Bu Nur pernah apes. Sebab, konser dangdut Lilis Karlina, penontonnya tak lebih dari 100 orang. Itu pun tidak semuanya mau membeli makanan yang disediakannya. Padahal, untuk sampai ke stadion Bu Nur harus mencarter angguna [angkutan serba guna khas Surabaya] pergi-pulang. Memasak makanan sendiri. Juga bayar tiket masuk.

"Jangan dikira kami ini masuk gratis. Harus bayar untuk dua orang," kata Bu Nur.

Saking tingginya jam terbang berjualan di arena konser, wanita berbadan subur ini tahu persis karakter penyelenggara konser berikut perlakuannya pada pedagang kaki lima. Ada panitia yang lunak, tapi tak sedikit yang keras. "Yah, kami hadapi saja. Namanya juga cari uang."

Konser akbar Soundrenaline di Gedangan, Sidoarjo, terbilang paling dahsyat di Jawa Timur. Menurut panitia, sedikitnya 70 ribu orang menyaksikan konser tahunan yang digelar perusahaan rokok Sampoerna ini. Rekor nasional pecah, kata panitia.

Waktu itu Bu Nur bersama 20-an pedagang makanan membuka stan di sekitar lokasi pada H-1. Pagi mereka sudah menguasai lokasi, menyiapkan dapur, dan berbagai peralatan memasak dan tempat berjualan. "Untuk ongkos perjalanan rata-rata habis Rp 70 ribu," katanya.

Malamnya, Bu Nur bersama suami dan dua anaknya tidur di alam terbuka sembari menunggui barang dagangannya. Saat konser Soundrenaline Bu Nur dan kawan-kawan hanya tinggal melayani penonton yang berjubel.

Laku berapa?

"Pokoke wuakeeeh, Cak! Lebih dari 600 bungkus laku. Saya masak 20 kilogram (beras)," kata Bu Nur.

Taruhlah per bungkus labanya Rp 2.000, penghasilan para PKL saat konser Soundrenaline cukup wah. Orang lapangan macam Bu Nur sangat paham akan lika-liku hidup yang ibarat roda. Kadang di bawah (seperti dangdutan Lilis Karlina di Sidoarjo), tapi juga pasang naik seperti di Soundrenaline atau konser Padi.

Karena hidupnya dari konser ke konser, Bu Nur tahu betul agenda konser-konser band besar di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, atau Lamongan. Wartawan hiburan sekalipun kalah sama Bu Nur untuk urusan jadwal.

"Kalau soal jadwal konser, ya, harus tahu. Minggu depan di mana, artisnya siapa, panitianya siapa... harus tahu. Sebab, itu ada hubungan dengan strategi jualan," tutur Bu Nur lalu tertawa kecil.

Pengetahuan tentang band atau artis sangat penting bagi para pedagang kaki lima. Ini karena karakter penonton band berbeda-beda, khususnya dalam soal belanja makanan. PADI, band asal Surabaya, kata Bu Nur, paling disukai karena selain penggemarnya sangat banyak dan doyan membeli makanan.

"Kalau jualan di acara PADI pasti untung besar," kata Bu Nur. Penonton Padi pun umumnya kelas menengah-atas sehingga uang kembalian kerap tidak diambil.

Penggemar JAMRUD, kendati banyak seperti PADI, rata-rata enggan membeli makanan. SLANK pun mirip JAMRUD. "Kayaknya yang nonton itu sangunya pas-pasan. Yah, nasinya saya kurangi," cerita Bu Nur.

Band-band baru praktis tidak banyak diharapkan.

Namanya juga spesialis konser, Bu Nur dan kawan-kawan akan kembali menekuni pekerjaan lain di luar PKL. Bu Nur misalnya penjahit aneka perlengkapan rumah tangga.

"Kalau nggak konser, ya, nggak jualan. Menjahit di rumah saja," katanya.

Suatu ketika ada konser DEWA 19 di Surabaya. Karena bosan mendengarkan lagu yang itu-itu saja, gaya Once pas-pasan... saya menepi. Ketemu Bu Nur di sudut Stadion Tambaksari. Bu Nur tak banyak bicara. Begitu juga dengan dua anak gadisnya.

"Kok sedih banget sih? Apa jualan sampeyan gak laku?"

"Cak, aku kecolongan. Lampu stromkingku diambil orang. Yo, opo iki?"

"Apa perlu lapor ke polisi?"

"Buat apa, Cak. Apa ada jaminan barangku bisa ditemukan?"

Begitulah. Jika engkau senang menonton konser band-band papan atas di Surabaya dan sekitarnya, hampir pasti Bu Nur ada di sana. Dia tidak sekadar jualan, tapi bisa mendalami karakter band, penyanyi, panitia, hingga penontonnya.

No comments:

Post a Comment