19 May 2007

Bertemu Des Alwi



Saya [kiri] bersama Des Alwi di Graha Pena, Surabaya.

Siapa tak kenal Des Alwi Abubakar, 79 tahun? Senin 14 Mei 2007, orang Maluku ini mengunjungi Graha Pena, Surabaya. Kami omong-omong sambil nonton film.

Terus terang, baru kali ini saya menjabat tangan Des Alwi Abubakar, ngobrol, diskusi, bercanda. Tokoh yang dikenal luas sebagai dokumentator film-film sejarah ini periang. Dia lekas akrab dengan kami, macam so kenal lama.

"Eh, saya mau duduk dulu. Kasih kursi dulu," ujar ketua Yayasan 10 November 45 itu. Lalu, kami duduk di meja rapat untuk omong-omong santai.

Om Des datang ke Surabaya untuk diskusi sekaligus memutar film dokumenternya. Kebetulan Kota Surabaya lagi berhari jadi ke-114. Pertama, film tentang perjuangan di Surabaya, pabrik kapal terbang tempo doeloe [milik Jerman di Tanjung Perak], Perang Pasifik, hingga masuknya tentara sekutu.

Kedua, film tentang hari-hari terakhir Presiden Sukarno. Bagaimana Sukarno akhirnya meninggalkan istana sebagai rakyat biasa. Dia bagi-bagi suvenir kepada para pelayan dan teman-temannya. Des Alwi dapat bagian satu dasi dari Bung Karno. Presiden pertama, sekaligus proklamator, ini tampak tersenyum meski barangkali hatinya menangis.

"Dapat dari mana film itu? Kok lengkap sekali? Apa Om Des Alwi yang syuting?" ujar saya yang duduk di samping Des Alwi Abubakar.

"Hehehe... ada lah. Saya kan punya banyak teman di luar negeri. Juga lobi-lobi dengan Sarah Fergusson, Putri Diana, dan macam-macam. Saya juga ada syuting film sendiri, tapi tidak banyak," tutur Des Alwi.

Pria berdarah Arab ini juga mengaku sering didatangi orang-orang yang sengaja menjual film-film dokumenter tempo dulu. Des lihat-lihat dulu, kalau cocok, ya, dibeli. Proses dokumentasi ini dilakukannya bertahun-tahun. Lalu diedit, dirawat, dirangkai jadi sebuah cerita yang utuh.

Des Alwi bicara pakai bahasa Indonesia logat Maluku, maklum orang Bandanerira meski sekarang tinggal di Tanah Tinggi, Jakarta. Dia selalu bilang pigi untuk kata pergi.

"Nah, kamu lihat, itu tentara-tentara pigi perang. Dengar itu, mereka menyanyi lagu Willhelmus... kemudian lagu perpisahan. Memang betul... berpisah untuk selamanya. Mereka punya kapal, 21 kapal, habis semua. Hanya dalam delapan hari. Tiga kapal yang selamat, lari ke Australia," urai Des Alwi menunjuk adegan perang yang diawali seremoni di Pangkalan Angkatan Laut Belanda di Ujung, Surabaya.

Menyaksikan film dokumenter koleksi Des Alwi sungguh asyik. Sejarah menjadi benar-benar hidup. Bukan cerita-cerita masa lalu yang kaku dan mati. Kita jadi tahu kebiasaan orang Belanda pada 1930-an yang suka pesta, dansa, makan enak.

Jenis musik kegemaran tuan, nyonya, dan noni-noni Belanda. Yang pasti, gadis-gadis Belanda pada zaman perang itu sangat cantik dan anggun. Prianya ganteng-ganteng. Mereka jua romantis nian.

Sebaliknya, kondisi orang awak sengsara nian, miskin, diperas habis oleh penjajah. Harus hormat, bahkan menyembah penjajah keparat itu. Orang Jepang nan kejam. Tapi tak sedikit politisi kita jadi penjilat Nipon.

"Wah, kalau bicara soal kejam-kejaman, Jepang itu kejamnya bukan main. Dia hanya jajah kita tiga tahun, tapi kita orang setengah mati," papar Des Alwi yang bertemu Muhammad Hatta dan Syahrir di Bandaneira pada usia delapan tahun itu.

Adegan perang benar-benar mencekam. Seru! Lebih dahsyat ketimbang film-film perang di bioskop atau televisi. Padahal, ini perang sungguhan, bukan perang-perangan.

"Kok masih sempat-sempatnya disyuting? Apa juru kamera tidak takut? Lha, kok masih ada rekaman sampai sekarang?" komentar Wawan.

Menurut Des Alwi, sejak dulu wartawan atau kamerawan Barat [juga Jepang] tidak pernah melewatkan adegan-adegan penting, apalagi yang bernilai sejarah. Meski sadar bahwa risikonya sangat tinggi, nyawa melayang, para wartawan gigih bekerja di medan perang. Mereka wartawan sejati.

"Gampangnya begini. Kalau ada empat wartawan yang meliput, tiga mati, kan masih ada satu. Hehehe...," ujar Des Alwi lalu tertawa kecil. Kami pun tertawa bersama. Sementara adegan perang terus berlangsung di layar monitor.

"Bagaimana kalau film ini kami kopi? Copy paste lah," kata saya sambil menepuk pundak Des Alwi. Teman-teman tertawa.

"Hehehe... tidak boleh. Ini barang mahal dan langka kok. Kalau orang Surabaya mau lihat, datang saja ke Pusat Kebudayaan Prancis. Atau, hubungi saya saja," ujar Des Alwi.

Tak terasa sudah satu jam lebih kami nonton film plus berbincang akrab dengan Des Alwi Abubakar. Tiba-tiba ada teman berteriak, "Deadline! Deadline! Deadline....."

Acara nonton film pun bubar. Des Alwi pamit, dan kami sangat berterima kasih bisa bertemu dengan salah satu saksi sejarah, pejuang Republik.

"Om Des pigi ke Hotel Majapahit kah?"

"Oh, tidak, saya tidak mau. Ada pengalaman sejarah yang bikin saya trauma," kata Des Alwi.

Asal tahu saja, Hotel Majapahit di Jalan Tunjungan Surabaya itu tempo dulu menjadi saksi sejarah perobekan bendera tiga warna Belanda. Zaman Jepang Hotel Oranje ini [di film sangat jelas, berikut suasana lalulintas di jalan raya] berubah nama menjadi Hotel Yamato.
Pemuda Des Alwi, belasan tahun, melihat dengan mata kepala sendiri pergolakan di sekitar hotel itu. Maka dia mengaku trauma kalau berada di sekitar Hotel Majapahit, apalagi tinggal di situ. Trauma sejarah!

"Saya pigi ke Hotel Elmi," kata Des Alwi.

Terima kasih banyak, Pak Des Alwi!

1 comment:

  1. wah om tulisan2nya keren..saya jurnalis untuk web Pemkot ambon,www.ambon.go.id tapi saya pengen belajar nulis blog kayak gini,he3 salut..

    ReplyDelete