31 May 2007

Achmad Albar Habis



Nama besar Achmad Albar dan Ian Antono, dua dedengkot God Bless, rupanya masih menjadi daya tarik bagi penggemar musik rock di Surabaya. Sayang, Achmad Albar kedodoran. Makin merosot. Mutu vokalnya sudah di bawah standar.

Sabtu [26/5/2007] malam, halaman Balai Pemuda penuh sesak oleh anak-anak muda yang haus musik rock. Mereka ingin menyaksikan dari dekat penampilan legenda hidup musik rock Indonesia: vokalis Achmad Albar dan gitaris Ian Antono. Kebetulan keduanya berasal dari Jawa Timur. Achmad Albar lahir di Surabaya, Ian Antono dari Malang.

Di usia kepala enam, Achmad Albar masih berusaha tampil energik di ajang Reborn Legend yang digelar Balai Pemuda, GNI, dan A Mild Production ini. Namun, kegarangan vokal Iyek, sapaan akrab Achmad Albar, sudah jauh berkurang. Pria kelahiran Surabaya 16 Juli 1946 itu tampak kewalahan saat membidik nada-nada tinggi.

Suara Iyek menebal, parau, sulit teriak. Nada-nada tingginya tidak pas alias pitch control tidak jalan. Bidikan nada meleset karena kunci yang dipakai terlalu tinggi. Yah... Iyek sekarang beda dengan Iyek pada 1980-an, apalagi 1970-an yang garang dan lantang.

Untung saja, gaya panggungnya yang energik mampu menutupi kekurangan power vokalnya. Untung juga, Iyek sengaja membawa penyanyi latar, Pungky, yang juga vokalis rock di Surabaya.

"Jujur saja orang seusia Mas Iyek, 61 tahun, pasti kedodoran kalau nyanyi rock. Usia memang tidak bisa ditutup-tutupi," komentar Dicky, fotografer penggemar musik cadas, kepada saya. Belum lagi sound system yang buruk.

Didampingi Gletzer, band cadas dari Surabaya, duo Achmad Albar-Ian Antono membawakan sembilan lagu dari album God Bless, Gong 2000, dan album solo Achmad Albar. Bekas suami Rini S. Bono itu menyapa penonton, sebagian besar anak-anak muda di bawah 20 tahun, dengan Kepada Perang dari Gong 2000.

Lagu bertempo cepat ini kontan menghangatkan suasana di halaman Balai Pemuda. Penonton yang tadinya duduk lesehan pun berdiri untuk bernyanyi dan jingrak-jingkrak.

Nomor kedua, Menjilat Matahari, Iyek kehilangan pitch control. Namun, pendiri sekaligus vokalis God Bless itu tetap berusaha menyelesaikan lagu karya Yockie Suryo Prayogo tersebut. Terus terang, saya khawatir Achmad Albar tak mampu menyelesaikan konser dadakan itu.

"Bagaimana kalau tiba-tiba dia tak mampu menyanyi lagi?" pikir saya. Kehebatan Iyek saat Konser Semut Hitam dan Konser Raksasa pada 1980-an tampaknya sirna.

Tujuh nomor lain adalah Bara Timur, Rumah Kita, Syair Kehidupan, Panggung Sandiwara, Musisi, Kehidupan, Semut Hitam. Ian Antono masih memperlihatkan kegemilangannya sebagai pemusik kawakan saat mengiringi Iyek dengan gitar akustik. Petikan gitar klasik khas Ian Antono sangat terasa di Syair Kehidupan dan Panggung Sandiwara.

"Saya dan Ian Antono mempersembahkan lagu-lagu ini untuk arek-arek Surabaya yang saat ini merayakan HUT Ke-714 Kota Surabaya," ujar Iyek, dedengkot rock yang masih awet menduda itu.

Sebelum Iyek-Ian, tampil juga legenda hidup Ucok AKA Harahap. Mantan vokalis ben legendaris AKA di Kaliasin, Surabaya, itu ternyata tetap prima di usia 68 tahun. Ucok menyanyi sambil bermain kibod serta iringan gitar dari Pardi Artun. Sulit dipercaya, vokal Eyang Ucok masih tetap prima. Powerful.

Improvisasi vokalnya pun ciamik saat membawakan My Sweet Lady dan I Don't Wanna Talk about It. Vokalnya tebal, bervibrasi, bergaya black singer.

"Saya ingin menunjukkan kepada anak-anak muda di Surabaya bahwa usia bukan halangan bagi seseorang untuk membawakan lagu-lagu rock. Sampai sekarang saya masih tetap berkarya," ujar Ucok Harahap kepada saya.

Penampilan pemusik asli Surabaya, Sawung Jabo, tetap khas dan memikat. Cak Jabo konsisten mengangkat persoalan-persoalan sosial, menyentil korupsi dan penyelewengan penguasa, dalam lagunya.

"Sing lancar pembayaran Lapindo ngacung!" tanya Sawung Jabo kepada hadirin.

Tak ada yang mengacung.

"Minta Bento, Cak!" teriak penonton di depan.

"Bentone sibuk korupsi maneh."

Lalu, meluncurlah nomor-nomor lama khas Sawung Jabo seperti Bongkar, Hio. Paduan musik modern dan tradisi membuat sajian Cak Jabo bersama Gong Dolly Gong terasa unik. Cenderung ke world music atawa ethnic rock.

"Aku mau wajar-wajar saja.
Aku nggak mau mengingkari hati nurani...."


Begitu antara lain lirik Hio. Iramanya macam musik kuda lumping atau reog di Jawa Timur.

Parade para legenda hidup ini diakhiri dengan Kebyar-Kebyar karya almarhum Gombloh. "Kita harus berterima kasih kepada Pak Nirwana Yudha. Berkat beliau musik rock hidup lagi di Surabaya," ujar Ucok AKA Harahap mengacu pada direktur Balai Pemuda Surabaya.

1 comment:

  1. Mudah2an pembajakan akan ditindas, biar ga sia perjuangan para musisi kita...

    salam...

    ReplyDelete