13 April 2007

Yockie Suryo Prayogo yang Resah


Yockie Suryo Payogo, siapa yang tak kenal? Dia termasuk salah satu dari sedikit pemusik kita yang saya kagumi. Pekan lalu, dia mengirim pesan pendek (SMS) kepada saya tentang blognya di www.yockiesprayogo.blogspot.com.

"Siapa tahu diperlukan," tulisnya. Sejak mewawancarainya di Gelora Tambaksari, Surabaya, saat Festival Rock se-Indonesia, saya terkesan benar dengan bekas personel God Bless ini. Saya juga kerap mengirim SMS, dan dibalasnya.

Pria kelahiran Demak, Jawa Tengah, 14 September 1954, ini, saya nilai, bukan pemusik
biasa. Meski namanya kondang, ikut mengorbitkan Chrisye [alm], kemudian Nicky Astria dengan 'Biar Semua Hilang', Yockie adalah sosok yang rendah hati. Dia selalu mengatakan bahwa dirinya bukan bintang, selebritis, melainkan orang biasa. Dia justru sangat kritis pada pemusik-pemusik baru yang berlaku lajak meski sebenarnya belum apa-apa.

Selain di God Bless, sebagai pemain kibod, Yockie pernah aktif di Swami dan Kantata Takwa pada era 1990-an bersama Iwan Fals, Sawung Jabo, Inisisri, WS Rendra, Setiawan Djodi. Rajin baca, diskusi, nasionalis, membuat Yockie terkesan resah dan gundah melihat perkembangan musik di tanah air. Dan keresahan Yockie itu beroleh media baru di blog.

Saya rasa, Yockie termasuk sedikit seniman musik yang melontarkan kritiknya secara terbuka di blog. Siapa saja boleh baca, berkomentar, protes, dan sebagainya. Ayah dua anak ini pun menanggapi. Menarik membaca diskusi bersama Yockie Suryo Prayogo di blognya.

Kalau dicermati, keresahan Yockie ini sudah berlangsung lama. Ketika globalisasi menimpa Indonesia, dan bangsa ini kehilangan identitas, saat itulah industri musik kita hanya sekadar menjadi kaki tangan kapitalis asing. Penjualan album memang jutaan kopi, tapi kontribusinya untuk seni budaya Indonesia nihil. "Uangnya, ya, disetor lagi ke luar negeri sana," kata Yockie.

Yockie resah karena industri musik kita hanya memberi tempat kepada pemusik-pemusik belia alias anak band. Pasar dikondisikan untuk usia 30 tahun ke bawah. Pemusik yang benar-benar ingin mengambil 'jalan lain' dari kebijakan industri disingkirkan. Maka, tampillah ben-ben anak muda yang gurih dan renyah, tapi sekadar menjadi pelipur lara belaka. "Saya merasa teraniaya," papar suami Tiwi Puspitasari ini.

Membaca unek-unek Yockie di blognya [dia menulis hampir tiap hari], saya merasa punya teman bicara. Saya juga senang membaca komentar para blogger yang ternyata juga punya keresahan serupa. Mudah-mudahan dalam keresahan ini Yockie melahirkan karya musik alternatif bagi bangsa yang sedang dilanda krisis total ini.

Sebagai penutup, saya kutip tulisan Yockie Suryo Prayogo berjudul 'Orang-Orang Kalah':

"Mengapa saya kritis dengan perkembangan musik negeri ini? Satu yang pasti, sebab mesin budaya sudah dikelola oleh penguasa industri.

Di awal datangnya globalisasi sudah sering saya utarakan perlunya kita mempersiapkan diri. Jangan hanya sibuk mengurusi pembajakan yang hanya berujung pada hak-hak ekonomi individu.

Kepada teman-teman pers pun kita diskusikan hal tersebut, sayang.... tak ada lagi satu pun dari mereka yang sekarang ini masih aktif terlihat.

Mewaspadai akan datangnya sebuah penetrasi global yang akan berakibat besar pengaruhnya bagi kondisi musik di negeri ini. Mempersiapkan aturan/regulasi guna menyelamatkan perkembangan dunia musik di negeri ini rasanya jauh lebih penting dari sekedar bicara soal hak-hak royalti. Karena itu pula, saya tidak pernah terlibat dalam aksi-aksi yang dilakukan teman-teman musisi atau profesi yang berkaitan.

Bagi saya, pembajakan dan lain-lainnya sulit dibasmi karena faktor lemahnya regulasi kita sendiri. Itu yang sangat berperan hingga membuat manusia tergiring berperilaku maling. Di kala orang dihimpit dengan aturan yang tidak berkeadilan, maka perlawanan akan muncul dengan berbagai macam bentuk.

[Silahkan berdiskusi panjang dng saya, apa itu regulasi dan sebagainya... bisa lewat email saya.]

Email Yockie:
jokis@centrin.net.id

No comments:

Post a Comment