19 April 2007

Tarmudji Dokumentator Ulung


Tarmudji, paling kanan, saat mendampingi anaknya, Indri Sedhana, yang menerima penghargaan dari Kraton Solo, 2005. Foto: Dokumentasi pribadi.

Oleh LAMBERTUS L. HUREK

"Mas Hurek, apa sampeyan punya koran RADAR SURABAYA edisi pertama? Dan koran SUARA INDONESIA edisi terakhir?" ujar Tarmudji Sofyan kepada saya di kediamannya, Perumahan Gading Fajar B-VI/10 Buduran, Sidoarjo, pekan lalu.

Saya, wartawan RADAR Surabaya, hanya bisa bengong karena memang tidak pernah menyimpan koran edisi bersejarah itu. Koran-koran bekas saya malah dikilokan atau diberikan kepada pemilik warung atau tukang loak.

Bagi Tarmudji Sofyan, perubahan nama SUARA INDONESIA menjadi RADAR SURABAYA merupakan peristiwa penting yang layak didokumentasikan. Karena itu, ia menyimpan SUARA INDONESIA edisi 23 Februari 2001 dan RADAR SURABAYA edisi 24 Februari 2001. Dua koran edisi khusus ini disimpan dengan baik di almarinya.

“Suatu ketika koran ini akan sangat bernilai dan [mungkin] dicari banyak orang.”

Pria kelahiran Surabaya, 22 Maret 1944 ini, juga tekun mengkliping artikel SOERABAIA TEMPO DOELOE alias STD, karya DUKUT IMAM WIDODO yang dimuat RADAR SURABAYA sejak edisi pertama. Praktis, tak ada satu pun naskah STD yang luput dari dokumentasi Tarmudji. Ironis juga karena saya ikut mengedit beberapa naskah STD. Hehehe...

Tarmudji Sofyan juga memfotokopi, kemudian menyimpan naskah-naskah STD yang segar, informatif, penuh dengan nuansa nostalgia para tuan dan nyonya Belanda di Surabaya tempo doeloe itu. Sebelum Dukut Imam Widodo membukukan STD, dan menjual dengan harga Rp 500 ribu, Tarmudji tak perlu merogoh uang sebanyak itu. "Saya cukup baca kliping. Isinya kan sama. Hehehe…"

Jauh sebelum itu, Tarmudji getol mengoleksi naskah-naskah Surabaya era kolonial, gedung-gedung tua, dari koran-koran lokal. Artikel-artikel macam itu memang sudah banyak ditulis wartawan di Surabaya pada 1980-an, khususnya JOKO INTARTO (bekas wartawan JAWA POS). Hanya saja, harus diakui, Dukut Imam Widodo menulis lebih banyak, lebih detail, dengan gaya suroboyoan.

Kita tentu masih ingat parikan khas Dukut di STD tentang kompleks pelacuran di Pelabuhan Tanjung Perak tempo doeloe:

"Tanjung Perak kapale kobong
Monggo pinara kamare kosong!"

*******

Sejak remaja, di Surabaya, Tarmudji Sofyan mengaku sudah biasa mendokumentasi hal-hal yang ia anggap penting. Dari sekadar hobi, pengisi waktu luang, Tarmudji kian lama kian keranjingan. Dunia seolah ‘kiamat’ jika Tarmudji tidak melakukan aksi koleksi dan dokumentasi.

"Kalau sudah hobi, mau bagaimana lagi?"

Ketika berdinas sebagai bankir di Bank Negara Indonesia 1946 (sekarang Bank BNI), hobi ini tak juga surut meskipun Tarmudji Sofyan sangat sibuk menghitung segunung uang (milik orang lain!), sibuk mengaudit di mana-mana. Tarmudji Sofyan dulu dikenal sebagai auditor ulung, yang harus berdinas di berbagai kawasan di Indonesia.

"Selama 35 tahun di BNI saya sudah keliling kota-kota di Indonesia," tuturnya.

Saat bepergian ke daerah-daerah itu, muncul ide antiknya. Apa itu? Tarmudji MENGOLEKSI TANAH. Di mana pun berada, Tarmudji mengambil segenggam tanah dan disimpan di dalam kantung plastik. Lalu, diberi label Aceh, Kupang, Flores, Mataram, Medan, Makassar, dan seterusnya.

Begitulah. Kalau orang lain pulang membawa oleh-oleh makanan khas daerah yang bersangkutan, Tarmudji membawa oleh-oleh TANAH. Koleganya di BNI tertawa melihat kebiasaan Tarmudji, tapi dia cuek saja. Dari sinilah Tarmudji bisa mengidentifikasi jenis-jenis tanah di Indonesia.

Belum lama ini, rombongan pelukis dan aktivis lingkungan hidup asal Sidoarjo bertandang ke situs Jolotundo, Mojokerto. Pukul 20:00 WIB, suasana gelap gulita. Suara air dari kolam pemandian itu terasa angker.

"Anda berani uji nyali di sini," ujar Tarmudji Sofyan kepada saya. Wah, awak tidak berani lah.

Tarmudji pun tertawa kecil. "Kalau mau uji nyali, ya, di sini. Jangan uji nyali kayak di televisi, nggak ada apa-apanya."

Dengan telaten Tarmudji Sofyan meminta anggota rombongan untuk menikmati segarnya air Jolotundo. Air ini keluar langsung dari perut bumi sehingga sangat jernih dan sehat. "Pasti segar kalau sudah berendam di Jolotundo. Jangan lupa minum airnya," pesan Tarmudji.

Candi Jolotundo tak lain kolam pemandian raja-raja sebelum Kerajaan Majapahit. Menurut Tarmudji, Jolotundo hanyalah salah satu dari sekian ratus situs kuno yang terdapat di kawasan Gunung Penanggungan. "Kalau kita naik masih banyak lagi. Situs-situs di sini banyak sekali, tapi belum diidentifikasi semuanya."

Pria yang senang mengenakan topi ala Tino Sidin (almarhum, guru melukis anak-anak) itu menyebutkan, situs di Jawa Timur yang sudah tercatat di buku-buku sejarah baru sekitar 30. Ini yang membuat Tarmudji geregetan. Bagi Tarmudji, situs-situs tempo doeloe itu harus ditapaki, diperbaiki, menjadi warisan sejarah dan budaya bagi bangsa Indonesia.

Di masa pensiun ini, Tarmudji berobsesi mendatangi situs-situs yang belum diidentifikasi. Masih kuat jalan kaki? Untuk urusan yang satu ini, Tarmudji Sofyan siap menantang anak-anak muda kelahiran 1970-an, 1980-an, atau 1990-an. Bagaimana tidak.

Selama ini Tarmudji dan beberapa budayawan (sepuh) Sidoarjo aktif melakukan acara jalan kaki dari Pandaan hingga kompleks Candi Jolotundo. Bukan main!

"Kayaknya Pak Tarmudji itu dapat kekuatan dari Erlangga atau raja-raja Majapahit. Anda dijamin kalah telak kalau berlomba jalan kaki dengan Pak Tarmudji," ujar Bambang, warga Sidoarjo, kepada saya.

Untuk urusan situs-situs purbakala (nama resminya benda cagar budaya), Tarmudji Sofyan dikenal sangat telaten. Ia tidak percaya begitu saja informasi dari buku-buku, termasuk terbitan Dinas Purbakala. Proses cek, recek, senantiasa dilakukan Tarmudji. Jangan heran, ia sering membawa meteran ke lokasi situs-situs tua.

Ia mengukur panjang, lebar, tinggi, serta membuat sketsa situs tersebut. Bakatnya sebagai pelukis sketsa ulung (tahun 1980-an Tarmudji menjadi kartunis tetap di koran SURABAYA POST) sangat membantu merekam situs-situs purbakala ini.

Setelah disketsa, Tarmudji menggali informasi seputar tahun pembuatan, fungsi, da beberapa detail penting lainnya. Yang pasti, hasil eksplorasi situs purbakala versi Tarmudji Sofyan jauh lebih lengkap ketimbang informasi di buku-buku sejarah.

Kisah-kisah sejarah, latar belakang, kejadian-kejadian penting di situs, legenda, tak luput digali Tarmudji. Saya menyaksikan naskah-naskah karya Tarmudji Sofyan masih dalam bentuk tulisan tangan (manuskrip). Setiap saat ia melengkapi tulisannya dengan data baru jika sudah menemukan situs tertentu.

"Ini belum apa-apa, masih kurang," ujar Tarmudji memperlihatkan manuskrip karyanya yang begitu tebal.

Yang jelas, kecintaan pada hal-hal kuno membuat Tarmudji semakin cinta pada situs-situs tadi. Secara teratur ia mengajak anaknya, tetangga, relasi, menikmati eksotisme luar biasa di balik situs-situs tadi.

"Jolotundo ini akan lebih indah kalau bulan purnama," ujar Tarmudji kepada saya di kompleks Candi Jolotundo.

*******

Saat bekerja sebagai auditor BNI, Tarmudji Sofyan selalu memanfaatkan jam istirahat untuk menemui rekan-rekannya, sesama penggiat seni rupa, di Balai Pemuda Surabaya.

"Kebetulan jarak BNI dengan Balai Pemuda sangat dekat. Jalan kaki beberapa menit saja sudah sampai," kenangnya.

Di komunitas Aksera (Akademi Seniman Surabaya) itulah Tarmudji berproses bersama para pelukis-pelukis kawasan Surabaya waktu itu. Diskusi. Sekadar cangkrukan. Minum kopi. Ngobrol ngalor-ngidul. Membuat sketsa. Ini yang membuat Tarmudji tetap memelihara darah senimannya di tengah-tengah kesibukan sebagai di BNI. Jiwa seniman yang spontan, polos, tak suka formalitas, dalam banyak hal dibawa Tarmudji ke lingkungan kantor.

Karena itu, ayah dua anak ini kerap membuat sketsa tentang perilaku orang-orang BNI yang harus dikritik. Misalnya, pegawai yang suka uang sogok agar urusan mulus. Tarmudji membuat karikatur seorang pria tengah membuka mulut lebar-lebar, dan dicekoki (pakai sendok makan) $ (dolar USA). Karikatur ini bikin geger BNI 1946 pada 1980-an.

"Sebab, teman-teman biasanya memfotokopi dan dibagi-bagikan ke semua pegawai," cerita Tarmudji Sofyan lalu tertawa kecil.

Tarmudji sendiri mengaku tenang-tenang saja. "Teman-teman yang merasa nggak pernah dicekoki, ya, nggak usah marah. Wong cuma sentilan ringan kok."

Hari lain Tarmudji Sofyan bikin karikatur gajah hendak menginjak pelanduk kecil. Rupanya, Tarmudji menyentil pejabat (atasan) yang pada masa Orde Baru cenderung sok kuasa, mentang-mentang. Bagi Tarmudji, pegawai-pegawai rendahan (tak hanya orang bank) sebetulnya cukup cerdik untuk menghadapi berbagai situasi.

"Kita yang pegawai itu orang kecil, tapi pelanduk. Silakan saja diancam si gajah, tapi kita kan punya akal. Harus cerdik. Mana ada pelanduk yang mau kalah sama gajah?"

Gara-gara sering membuat karikatur sindiran—-dan dimuat di majalah BNI--Tarmudji sempat dipanggil 'atasan'. Secara pribadi Tarmudji diminta mengatakan secara jujur maksud di balik berbagai karikatur, sketsa, atau lukisan yang sangat kritis itu.

Lagi-lagi, Tarmudji menggunakan jurus pelanduk untuk berkelit. "Kalau nggak merasa melakukan itu, ya, nggak usah
tersinggung atau marah."

Tarmudji meyakinkan sang bos bahwa ia tak punya niat buruk, selain demi perbaikan kinerja bersama. Sang bos, alias gajah, pun akhirnya takluk.

Tak hanya seni rupa, Tarmudji dikenal sebagai dedengkot seni musik di Surabaya dan sekitarnya pada tahun 1980-an. Masih sebagai pegawai BNI, Tarmudji mengelola band-band di Surabaya. Ada band instansi, tapi lebih banyak band-band lepas. Anak-anak muda itu, kata Tarmudji, rata-rata sudah sarjana, tapi masih menganggur. Melamar kerja ke mana-mana, belum juga diterima.

"Kenapa bakat musik mereka tidak dikembangkan? Musik kan bisa jadi lahan cari nafkah," begitu pemikiran Tarmudji Sofyan.

Akhirnya, Tarmudji berperan sebagai manajer band-band yang malang-melintang di tempat-tempat hiburan Surabaya. Saking banyaknya 'tanggapan', Tarmudji terpaksa harus mengajak band-band lain untuk mengisi order band-nya.

"Itu semua sudah masa lalu. Uang saya sampai habis untuk membiayai band-band itu. Makanya, setelah 35 tahun jadi bankir saya nggak punya apa-apa. Kemampuan saya serba tanggung," ujar Tarmudji, merendah.

Yang jelas, setelah pensiun, Tarmudji Sofyan kian rajin mengunjungi situs-situs kuno, mendokumentasikan naskah-naskah lama, serta apa saja yang bernilai sejarah.

Itulah yang membuat dia tetap tersenyum, bahagia, dan optimis tanpa mengidap penyakit post power syndrome.

4 comments:

  1. wah, orang2 seperti Tarmudji ini sudah hampir langka ya cak.
    Sekarang ini cari orang2 yang berprinsip itu susah :D.
    sampeyan ada buku-nya Pak Dukut yg STD gak?

    eh btw, Cak Hurek di Radar ya? kenal Pak Hilmi?

    ReplyDelete
  2. Hehehe.. panceng angel goleki wong kayak Pak Tarmudji. Buku STD karya Cak Dukut aq gak punya, soale larang. Kalo gak salah Rp 350-500 ribu. Aq ya hanya fotokopi dari Pak Tarmudji. Cak Zainal Amri juga bisa fotokopi dari bendelnya Pak Tarmudji.
    Helmi? Ya, kenal banget. Satu angkatan sih. Salam

    ReplyDelete
  3. pak dukut memang penulis langka di surabaya.

    ReplyDelete
  4. Wah, aku dadi pengen melu moco tulisane Pak Dukut......

    Ira

    ReplyDelete