13 April 2007

Salah Kaprah KAMI dan KITA


Kepala Satuan Lalulintas Kepolisian Resor Sidoarjo AKP Andi Yudianto sering muncul di televisi. Andi biasanya ditanya tentang penutupan Jalan Raya Porong, Sidoarjo, yang terendam lumpur panas Lapindo Brantas Incorporated.

"KAMI terpaksa menutup Jalan Raya Porong demi keamanan dan kenyamanan pengguna jalan raya. KAMI akan buka kembali kalau kondisinya sudah memungkinkan. Untuk itu, KAMI akan berkoordinasi dengan instansi terkait,” jelas Andi Yulianto.

Saya menilai AKP Andi Yudianto termasuk salah satu dari sedikit pejabat polisi di Jawa Timur yang cermat berbahasa. Dia pakai kata KAMI, bukan KITA. Dan dia benar. Biasanya, pejabat polisi dari tingkat kecamatan hingga pusat pakai kata KITA, sebagai kata ganti orang pertama jamak [karena dia mewakili institusi] saat bicara dengan wartawan.

“Begini, ya, kasus Munir itu masih KITA dalami. Kalau sudah waktunya, akan KITA sampaikan kepada kalian,” begitu penjelasan Kepala Polri Jenderal Sutanto.

Menteri-menteri, gubernur, bupati, kepala dinas, camat, pemusik... di tanah air rata-rata pakai KITA. Padahal, yang dimaksud KAMI atau SAYA. Kasus salah kaprah semacam ini, saya rasa, sudah berjalan bertahun-tahun. Orang Indonesia pun merasa lebih ‘enak’ berkata KITA untuk KAMI [atau SAYA]. Teman-teman dari Dewan Pers saat lokakarya bersama para redaktur surat kabar di Surabaya meminta agar salah kaprah bahasa ini segera diakhiri.

“Anda harus berani mengganti KITA menjadi KAMI kalau yang dimaksud itu orang pertama jamak. Ingat, redaktur harus ikut membina bahasa Indonesia,” pesan Atmakusumah Astraatmadja, instruktur dari Dewan Pers. Saya sepakat 100 persen.

Maka, sekarang, jika ada wartawan yang menulis kalimat langsung dengan kata KITA, saya tidak ragu-ragu mengubahnya dengan KAMI. Sebab, pemberita atau reporter berposisi sebagai orang kedua. Dia tidak terlibat. "KITA akan usut sampai tuntas,” kata Jenderal Sutanto.

KITA yang ‘mengusut sampai tuntas’ tentulah polisi, bukan wartawan. Kata ganti KITA baru benar jika orang pertama dan kedua sama-sama terlibat. Misal: "Kita, bangsa Indonesia, jangan mau jadi antek Amerika Serikat.”

Harian KOMPAS, yang selama ini dianggap sebagai surat kabar terbaik, pun mengunakan KITA di tajuk rencananya. Padahal, yang dimaksud adalah KAMI, kata ganti redaksi KOMPAS. Bukankah tajuk itu mencerminkan sikap redaksi? Pembaca macam saya belum tentu setuju dengan isi tajuk KOMPAS. Lha, kok pakai kata KITA?

Berikut petikan tajuk KOMPAS edisi 13 April 2007:

"KITA melihat keluhan yang disampaikan para pengusaha itu baik agar semua orang tahu permasalahan yang dihadapi. KITA pun menilai positif langkah yang dilakukan Menteri Perdagangan untuk mendapatkan masukan langsung dari para pengusaha.”

[Yang menilai positif langkah Menteri Perdagangan itu, ya, penulis tajuk atau redaksi KOMPAS. Pembaca KOMPAS yang sangat banyak belum tentu sependapat.]

Saya kemudian memeriksa beberapa kamus untuk memastikan arti SAYA, KITA, KAMI. Hasilnya? Semua kamus, entah itu kamus lama, kamus baru, hingga kamus sederhana untuk pelajar sekolah menengah, punya penjelasan senada.

SAYA kata ganti orang pertama tunggal. KAMI orang pertama jamak, lawan bicara tidak ikut. KITA orang pertama jamak, pembicara dan lawan bicara ikut.

Kamus Bahasa Indonesia karya SUTAN MOHAMMAD ZAIN [1952] memberikan uraian yang sangat jelas. Saya kutip sedikit:

KAMI : [1] Jamak daripada AKU, SAYA, HAMBA. Orang lawan berkata tidak turut atau tidak dimasukkan ke dalam hitungan. [2] Jamak raja-raja atau pluralis majestatis. Raja-raja biarpun seorang boleh memakai KAMI. Tapi kalau pangkat kita belum tinggi benar, janganlah terlalu lekas memakai kata KAMI sebab seolah-olah meninggikan diri sendiri.

KITA : Jamak daripada AKU, SAYA, HAMBA, dengan tidak mengeluarkan lawan berkata. Jadi, yang berkata dengan konco-konconya serta orang lawan berkata termasuk semuanya ke dalam.

Bukankah kata KITA, KAMI, SAYA, AKU... dan kata-kata ganti lain dalam bahasa Indonesia sangat mudah dibedakan? Kenapa salah kaprah itu merata dari rakyat biasa hingga pejabat pusat?

Jawabnya, tak lain karena kecerobohan, ketidakcermatan, kita dalam berbahasa. Yah, harus diakui, kita, bangsa Indonesia, kurang disiplin dalam bidang apa saja, termasuk berbahasa. Jangan heran, bahasa indonesia makin lama makin berantakan.

Saya pun merefleksikan penggunaan kata KITA di media massa. Kenapa orang sulit mengucapkan KAMI, atau lebih afdal lagi SAYA? Aha, saya teringat bahasa Melayu ragam Larantuka [Flores Timur] dan beberapa daerah di luar Jawa.

Kita tahu, sebelum ada bahasa Indonesia, bahasa Melayu pasar atawa Melayu rendah sudah tersebar luas di Nusantara. Orang Tionghoa punya bahasa Melayu Tionghoa. Kemudian Melayu Ambon. Melayu Larantuka. Melayu Betawi. Melayu Riau yang dianggap ‘Melayu sebenarnya’.

Nah, dalam bahasa Melayu Larantuka, kata ganti orang pertama tunggal seperti SAYA, AKU, BETA, HAMBA... tidak ada. Yang ada KITA. Orang Larantuka biasa bilang, "Kita so lapar sekali. Eh, tolong engko kasih KITA nasi sedikit kah.”

Maksudnya dalam bahasa Indonesia baku: "Saya sudah lapar sekali. Tolong engkau memberi saya sedikit nasi.”

KITA dalam bahasa Melayu Larantuka bisa berarti SAYA atau KITA [versi bahasa Indonesia].

Bahasa Melayu dialek Indonesia timur ini kemudian punya varian lain: KITA ORANG atau disingkat KITORANG, KETONG. Maksudnya, ya, SAYA, BETA, AKU. Bisa juga SAYA DAN ANDA [sekalian] seperti dalam bahasa Indonesia. Saya mencermati, warga Tionghoa di Surabaya pun sering menggunakan KITA sebagai kata ganti dirinya sendiri.

Contoh:

"KITA ORANG mau liak-liak ndek sana sek. Siapa tau iso ketemu barang sing murah.”

Perkiraan saya, pemakaian KITA sebagai kata ganti orang pertama sedikit banyak dipengaruhi oleh dialek Melayu lokal yang sudah mentradisi di tanah air. Kalau sekadar untuk perbincangan santai, nonformal, tentu bukan masalah. Tapi akan menjadi masalah manakala dipakai dalam ragam formal seperti di media massa.

4 comments:

  1. Saya juga heran kenapa banyak orang menggunakan kata ganti 'Kita' untuk merujuk ke pembicara sendiri. Ketika teman saya berbicara tentang dirinya sendiri, dia menyebut dirinya 'kita' bukan 'saya' atau 'aku' pada waktu itu saya langsung tanya: maksud kita itu apa? karena saya pikir yang ia bicarakan tidak ada hubungannya dengan saya. Nah, kesalahan ini tentu bisa berakibat tidak baik (misunderstanding). Proses apa yang harus kita katakan dalam istilah ilmu bahasa untuk hal seperti ini? koenization atau apa?

    ReplyDelete
  2. Terima kasih atas komentar Anda. Begitulah salah kaprah di masyarakat. Entah sampai kapan. Kali lain tolong tulis nama dan alamat kota ya? Minimal e-mail lah.

    ReplyDelete
  3. emang org indonesia gak pernah tertib. di jalan gak tertib, berbahasa apalagi. aku kira guru2 sd yg kudu betulin sejak dini. kalo dah dewasa bakal kesulitan.

    ReplyDelete
  4. Wah saya senang Anda juga mencermati hal ini.
    Saya pun juga melakukan pengamatan terhadap penggunaan Bahasa Indonesia dalam blog saya. Mari galakkan penggunaan bahasa yang benar.
    Terima kasih.

    ReplyDelete