05 April 2007

Romo Sutikno Jadi Uskup Surabaya


Oleh LAMBERTUS L. HUREK

Selasa, 3 April 2006, semua pastor di Keuskupan Surabaya berkumpul di Gereja Katedral Hati Kudus Yesus, Jalan Polisi Istimewa 17 Surabaya. Misa Krisma, nama acara tahunan ini. Sebelum Kamis Putih memang ada kewajiban bagi semua pastor harus berjanji setia kepada Gereja, yang dipersonifikasikan oleh Bapa Uskup.

Nah, sejak Mgr Johanes Sudiarna Hadiwikarta Pr wafat pada 13 Desember 2003, karena serangan jantung, takhta Uskup Surabaya lowong. Romo Julius Haryanto CM pun sejak itu dipercaya menjadi administrator keuskupan. Semacam pemangku jabatan uskup. Tapi Romo Haryanto tidak bisa pimpin Misa Krisma karena dia bukan uskup. Maka, selama tiga tahun itu Keuskupan Surabaya terpaksa 'ngebon' uskup dari tempat lain. Saya ingat Julius Kardinal Darmaatmadja SJ (Uskup Agung Jakarta), Mgr Ignatius Suharyo Pr (Uskup Agung Semarang), dan Mgr Blasius Pujaraharja Pr (Uskup Ketapang).

Pada 2007 ini Misa Krisma, yang selalu digelar di Katedral Surabaya, dipimpin Mgr Leopoldo Girelli, duta besar Vatikan untuk Indonesia. Misa berjalan biasa, khidmat, mengingatkan para pastor dan umat yang hadir akan kaul setia para romo. Saat khotbah, Mgr Leopoldo Girelli mengumumkan bahwa Bapa Suci Paus Benediktus XVI telah menunjuk seorang imam sebagai Uskup Surabaya. Siapakah dia?

"Uskup Surabaya yang baru adalah Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono Pr," ujar Mgr Leopoldo Girelli. Tepuk tangan membahana. Tak sedikit imam dan umat yang menangis haru. Maklum, selama tiga tahun lebih umat Katolik di Keuskupan Surabaya tak punya uskup. Umat sangat merindukan kehadiran gembala agung yang bisa membimbing, mengawal, domba-domba ke padang rumput hijau, ke air yang tenang.

"Akhirnya kita punya uskup baru," ujar Romo Alfonsus Boedi Prasetijo Pr, ketua Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Surabaya, kepada saya. "Ini menunjukkan bahwa uskup itu tidak harus vikjen [vikaris jenderal, semacam wakil uskup]. Hehehe..," kata Romo Boedi yang kebetulan lulusan Filipina seperti Mgr Tikno.

Lahir di Surabaya, 26 September 1953, monsinyur yang akan ditahbiskan pada Juni 2007 itu benar-benar arek Surabaya. Romo Tikno, sapaan akrab Vincentius Sutikno Wisaksono, sebelum jadi imam tinggal di rumah oang tuanya di kawasan Tanjungperak Timur, Surabaya. Ini sejarah, karena sebelumnya Uskup Surabaya selalu diisi oleh imam-imam dari luar daerah. Mgr Hadiwikarta asal Wonosobo. Mgr Dibjokarjono CM Blitar. Mgr Johanes Klooster CM Jakarta, misionaris dari Negeri Belanda.

Dan, memang, sejak beberapa tahun terakhir saya menangkap aspirasi di kalangan umat Katolik untuk memprioritaskan imam-imam asal Keuskupan Surabaya sebagai uskup. "Masa, didrop terus dari luar? Kita kan keuskupan besar, romo-romo banyak sekali. Apa nggak ada yang pantas jadi uskup to? Sekali-sekalilah romo-romo di sini dikasih kepercayaan," begitu keinginan sejumlah umat di Surabaya. Saya dengar sejumlah pastor pun menginginkan hal serupa.

Seperti diketahui, wilayah Keuskupan Surabaya meliputi sebagian Jawa Timur dan dua kabupaten di Jawa Tengah. Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Blitar, Jombang, Kediri, Mojokerto, Tuungagung, Madiun, Magetan, Nganjuk, Ngawi, Ponorogo, Bojonegoro, Tuban, Blora, Rembang. Parokinya ada 40, sebanyak 16 paroki berada di Kota Surabaya.

Dus, posisi uskup sangat penting, setara dengan gubernur kalau di pemerintahan. Uskup adalah kepala gereja lokal yang punya wewenang mengajar alias magisterium. Statusnya ya, sama dengan Uskup Roma yang secara primus inter pares dipercaya sebagai Bapa Suci atau Paus. Bagi umat Katolik, status kerohanian Uskup sungguh luar biasa.

Setahu saya, sejak awal 2003 proses nominasi nama-nama calon uskup sudah bergulir di Surabaya. Beda dengan jabatan publik atau politik, semuanya berlangsung tertutup. Diam-diam. Vatikan memproses dengan minta masukan dari sejumlah imam senior.
"Saya ikut mengisi kuesioner," tutur Romo Yosef Eko Budi Susilo Pr, pastor kepala Paroki Aloysius Gonzaga.

Intinya, romo-romo senior ini diminta mengisi nama-nama beberapa calon yang dianggap layak menjabat Uskup Surabaya. Lalu, diserahkan melalui pronuntio (dubes Vatikan di Jakarta) untuk diproses di Vatikan. Rupanya, tidak mudah menentukan Uskup Surabaya. Saya dan teman-teman sering berkomentar: "Mungkin para imam di Keuskupan Surabaya [sekitar 70] tidak ada yang layak."

Bandingkan dengan di Flores, setelah uskup pensiun atau wafat, dalam hitungan dua tiga bulan uskup baru sudah diketahui. Alamak, di Surabaya ini makan waktu tiga tahun!

Menurut saya, proses nominasi pun terkendala karena Paus Yohanes Paulus II meninggal dunia pada 3 April 2005 dalam usia 84 tahun. "Wah, tambah lama nih Uskup Surabaya lowong," kata Silvester, aktivis Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia di Surabaya. Kemudian Paus Yohanes Paulus II diganti oleh Paus Bendektus XVI [sebelumnya Joseph Kardinal Ratzinger, lahir 16 April 1927, di Bavaria, Jerman.]

Saking lamanya, umat semakin lama semakin terbiasa tak punya uskup. Saya melihat para imam pun 'enjoy aja' dengan kondisi ini. Toh, kalau ada misa krisma, sakramen imamat, atau liturgi yang mengharuskan uskup, Surabaya bisa 'pinjam' uskup tetangga. Umat pun terbiasa dengan doa syukur agung di mana pastor menyebut "... Bapa Suci Benediktus XVI dan Administrator Keuskupan kami, Romo Haryanto".

Saya sendiri merasa janggal karena sejak kecil, di Flores Timur, tidak pernah mengalami kasus macam di Surabaya. Sebab, di kampung saya kebetulan suksesi Uskup sangat mulus, ketika uskup lama pensiun. Nah, sebelum pensiun, Vatikan sudah menetapkan nama pengganti uskup. Bahkan, uskup lama yang akan menahbiskan sendiri penggantinya, dihadiri puluhan uskup dari tempat lain. Jadi, praktis tidak pernah terjadi takhta lowong yang 'mengejutkan' macam di Surabaya.

Pada 20 Agustus 2005, Duta Besar Vatikan untuk Indonesia [waktu itu] Mgr MALCOM A RANJITH memimpin misa pemberkatan Gereja Santo Paulus di kawasan Jalan Raya Bandara Juanda, Sidoarjo. Kebetulan saya jemaat gereja ini. Malamnya, Mgr Malcom yang asli Srilangka ini mengadakan pertemuan dengan para pastor di Surabaya.

Dia mengatakan bahwa Bapa Suci, Benediktus XVI, memproses ulang nama-nama calon Uskup Surabaya. Jadi, belum bisa diumumkan nama pengganti mendiang Mgr Hadiwikarta. "Ada apa ini? Kok lama sekali? Apa karena nama-nama yang diusulkan ke Vatikan tidak pas?" begitu pertanyaan umat awam macam saya. Terus terang, banyak orang tidak sabar dengan proses nominasi yang kelewat panjang. Maka, gosip rohani pun beredar di paroki-paroki.

Syukur kepada Tuhan, pada 3 April 2007 nama Uskup Surabaya pun diumumkan. Romo Sutikno kini resmi mendapat julukan monsinyur, Mgr Sutikno. Umat Katolik di Keuskupan Surabaya, sekitar 220 ribu orang, memasuki era baru. Era Monsinyur Sutikno.

Saya rasa, tugas Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono sebagai Uskup Surabaya tidak ringan. Seperti diketahui, orang Surabaya, dan Jawa Timur umumnya, sangat kritis. Mereka secara diam-diam maupun terang-terangan melontarkan kritik tajam, bahkan sangat tajam, kepada gembalanya, termasuk uskup. Lagi-lagi, ini agak berbeda dengan di Nusatenggara Timur, khususnya Flores. Di tempat saya, Flores Timur, jangankan mengecam, umat tak pernah membicarakan sisi buruk gembalanya.

Pada 2002 umat di Surabaya terkaget-kaget dengan Surat Domba. Isinya mengecam habis, mengkritik berbagai kelemahan, para imam dan uskup di Keuskupan Surabaya. Surat itu sangat kritis dan tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Biasa kalau Uskup bikin Surat Gembala, tapi Surat Domba? Wah, rasanya hanya ada di Keuskupan Surabaya.

Teman-teman aktivis membahas Surat Domba, diskusi, melakukan verifikasi.

Kemudian ada pastor yang 'dipecat' atau dalam bahasa gerejanya 'disuspensi': Romo Alexius Kurdo Irianto Pr. Banyak umat bertanya, kenapa Romo Kurdo mendapat sanksi seberat itu? Padahal, dia tak punya masalah dengan kaul selibat. Dia juga populer di kalangan Katolik maupun non-Katolik.

"Sekarang Romo Kurdo tugas di mana?" tanya teman saya, aktivis muslim yang mengenal dekat Romo Kurdo. Banyak wartawan pun menanyakan Romo Kurdo yang pernah menghiasai halaman media massa pada era menjelang jatuhnya rezim Orde Baru. "Ada apa dengan Romo Kurdo?"

Terus terang, saya hanya bisa menjawab secara diplomatis. Sebab, kasus Romo Kurdo ini memang tidak sederhana. Sampai sekarang Kurdo Irianto masih berstatus 'romo', tapi tidak boleh memimpin misa. Banyak umat bingung dengan fakta adanya 'pastor tersuspensi' di Surabaya.

Begitulah, cukup banyak persoalan lama yang akan dihadapi uskup baru, Monsinyur Sutikno. Saya percaya, imam yang halus tutur katanya, cerdas, berwawasan luas, ini merupakan orang yang tepat di takhta Uskup Surabaya. Sebagai orang dalam, apalagi arek Surabaya, Mgr Sutikno tentu sangat paham akan berbagai masalah sekaligus peluang di wilayah 'pemerintahannya'.

Profisiat untuk Mgr Sutikno!

Selamat menggembala domba-domba yang haus, tersesat, bengal, bingung... di Keuskupan Surabaya. Doa-doa umat akan mengiringi Sampeyan dalam tugas-tugas pastoral.

17 comments:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  2. Anonymous said...

    Greetings from Florida in the United States.
    I am a church historian. My special area of study is the episcopate - apostolic succession and episcopal ordinations.
    I found your interesting blog yesterday when I was searching for information on the upcoming episcopal ordination of the new Bishop of Surabaya, Monsignor Vincentius Sutikno Wisaksono. I do not know much Indonesian, so I search using words such as uskup and gereja, and I go on from there.
    I have not yet found any reports of when the episcopal ordination of Bishop-elect Wisaksono will take place and I would be grateful if you could let me know if the date has been announced. The information which I look for includes the date and place of episcopal ordination, the name of the principal consecrating bishop, and the names of the two co-consecrating bishops. Any information you can provide will be gratefully received. Many thanks.
    I would be happy to compose the episcopal lineage for Bishop-elect Wisaksono, free of charge. I have done this for hundreds of bishops around the world.

    With my thanks for any assistance you can provide and with my best wishes for a joyous paschal season,

    Sincerely,
    Charles Bransom

    ReplyDelete
  3. episcopal ordination: 28 June 2007 - friday - in Kodikal, Tanjung Perak, Surabaya.

    ReplyDelete
  4. selamat untuk mgr sutikno. semoga sukses selalu. tuhan memberkati.

    sisil,
    wonokromo

    ReplyDelete
  5. Thanks for your responses. God bless you all!

    ReplyDelete
  6. selamat untuk mgr tikno. tuhan memberkati.

    ReplyDelete
  7. Informasi terakhir, penahbisan Mgr Sutikno akan dilakukan pada 29 Juni 2007 (Jumat) di Lapangan Wijayakusuma, Kodikal Bumimoro, Surabaya. Penahbisan dilakukan oleh Julius Kardinal Darmaatmadja SJ (Uskup Agung Jakarta).

    Romo Eko Budi Susilo Pr, ketua panitia, menjelaskan Kardinal akan didampingi Mgr Ignatius Suharyo (Uskup Agung Semarang) dan Mgr HJS Pandoyoputro OCarm (Uskup Malang).

    Misa penahbisan akan diikuti sedikitnya 10.000 orang.

    ReplyDelete
  8. Kawan-kawan
    Salam damai dalam Kristus

    Saya mewakili kawan-kawan Romo Praja Keuskupan Surabaya hendak membuat buku, dalam konteks menterjemahkan motto Uskup Surabaya terpilih Mgr. V. Sutikno Wisaksono, Pr.
    Motto pilihan beliau berasal dari kutipan Injil Yohanes 10:10b..."Supaya mereka memiliki hidup dalam kelimpahannya...."

    Supaya buku itu tidak kering dengan tulisan teologis-biblis-spiritual, saya memohon bantuan kawan-kawan sekalian untuk menuliskan Bagaimana pandangan pribadi / opini anda tentang hidup dalam kelimpahan itu ?

    Tulisan anda sangat berarti. Dan akan diedit dalam rangka memberi masukan, umpan balik kepada Uskup terpilih untuk mendaratkan motto-nya dalam karya penggembalaan umat di Keuskupan Surabaya nantinya. Kirim ke email saya: alukwidya@yahoo.co.uk

    Saya tunggu sampai 15 Juni 2007, buku ini akan diedarkan saat tahbisan Uskup Surabaya 29 Juni 2007 nanti.

    Damai dan Berkat Tuhan menyertai

    A. Luluk Widyawan, Pr (editor)

    ReplyDelete
  9. Yudhit Ciphardian12:27 PM, June 19, 2007

    Mas Bernie,

    Bagaimana caranya supaya semua posting kita bisa link dengan search engine seperti google?

    lagi belajar membangun blog nih...

    salam dari adikmu
    yudhit

    ReplyDelete
  10. Hehehe.. aku gak ngerti TI. Setahu saya blogger itu otomatis terkoneksi dengan google, sehingga kalau ada orang mencari sesuatu di google atau yahoo langsung kelihatan. Jadi gak pake rumus macam-macam.

    Suwun wis mampir ke sini. Salam damai!

    ReplyDelete
  11. Saya ingin melengkapi blog anda tentang Romo Kurdo Irianto, khususnya tentang latar belakang sangsi yang beliau terima. Tulisan ini saya peroleh dari seorang teman 5 tahun lalu. Profociat.

    Majalah Tempo Edisi. 32/XXXI/07 - 13 Oktober 2002
    Rubrik Agama

    Suara Kritis dari Para Domba

    Gereja Katolik Keuskupan Surabaya dinilai sebagian umatnya melakukan praktek "kapitalisasi agama". Angin reformasi gereja berembus dari Jawa Timur.

    TERMINAL Bungurasih, Kota Surabaya, dini hari Selasa pekan lalu. Romo Kurdo Irianto, 40 tahun, mencari bus kota. Mengenakan jaket warna gelap, bersepatu sandal warna hitam dan menjinjing laptop, pastor kelahiran Rembang, Jawa Tengah, itu hendak pergi ke luar kota untuk melayani undangan umat. Wajah dan penampilannya dikenal oleh sebagian orang kecil. Tubuhnya kurus dan tinggi. Banyak orang dari sopir bus sampai pedagang asongan yang menyapanya.

    Di Surabaya, Romo Kurdo banyak terlibat dalam kegiatan sosial. Ia antara lain memberdayakan anak-anak jalanan di kawasan Stasiun Wonokromo dan keluarga para tukang becak. Ia dekat dengan masyarakat miskin. Cuma, belakangan Romo Kurdo justru terlempar jauh dari hierarki Gereja Katolik Keuskupan Surabaya. Ada apa?

    Kasus Romo Kurdo adalah sebuah fenomena. Ditahbiskan menjadi imam pada 1989 di Paroki St. Aloysius Gonzaga, Kota Surabaya, Kurdo mengundurkan diri pada Desember 2001 karena mengalami konflik hebat dengan lembaga Gereja Katolik Keuskupan Surabaya. Beberapa hari kemudian, Uskup Surabaya Mgr. Johanes Hadiwikarto S.J. menendangnya dari hierarki resmi gereja melalui surat keputusan yang berisi sanksi suspensi, hukuman untuk imam yang dianggap melanggar berat hukum pidana ataupun perdata. Akibat keputusan itu, Romo Kurdo tak boleh lagi menjadi imam.

    Pengunduran diri Kurdo disusul dengan penerbitan Surat Domba. Surat ini disusun 30 orang, termasuk Kurdo, dari kalangan intelektual, imam, suster, aktivis buruh, fungsionaris komisi keuskupan, fungsionaris dewan paroki, dokter, apoteker, dan aktivis kelompok pendalaman Kitab Suci. Mereka menyebut dirinya Komunitas Gerakan Cinta Gereja Katolik Keuskupan Surabaya. Dikirim ke keuskupan seluruh Indonesia, surat itu juga disebar di internet.

    Seperti Surat Gembala, yang berisi pesan uskup kepada umat, Surat Domba adalah pesan umat untuk umat. Berjudul "Keprihatinan dan Tekad Perubahan", surat yang terbit menjelang perayaan Paskah 2002 itu menyoroti Keuskupan Surabaya, yang dinilai lebih memperhatikan masyarakat kaya daripada yang miskin. Keuskupan dituding melakukan praktek-praktek yang, menurut istilah Kurdo, bersifat "agamanisasi kapital" dan "kapitalisasi agama" (mencari uang dengan menunggangi agama—Red).

    Contoh yang dituding adalah pembangunan kompleks ziarah Goa Maria Lourdes, Puh Sarang, Kediri, pada tahun 2000, yang menelan biaya miliaran rupiah. Selain dianggap tidak berangkat dari pengalaman spiritual lokal—karena meniru lokasi ziarah Eropa—bangunan megah dan mewah Puh Sarang berada di tengah permukiman penduduk yang miskin dan, karena itu, dinilai merupakan suatu ironi. Juga terjadi peminggiran masyarakat miskin di sekitar lokasi ziarah. Dengan membanjirnya penziarah berkat promosi besar-besaran, harga tanah meningkat dan akibatnya banyak orang miskin menjual tanahnya ke orang-orang kota yang berduit.

    Sorotan juga diarahkan ke rumah penginapan Wisma Betlehem, yang dibangun di kompleks ziarah itu. Wisma tersebut dikecam karena memakai nama sakral dan disewakan dengan kutipan biaya. Sudah begitu, uang hasil pengelolaan wisma tak diumumkan ke umat. "Tak berlebihan jika gejala ini boleh kami namakan 'kapitalisasi agama' atau 'agamanisasi kapital'," kata Surat Domba.

    Ironisnya, pembangunan sarana fisik itu tak diimbangi perhatian yang memadai terhadap aspek pendidikan dan kesejahteraan para guru sekolah Katolik. Di sekitar 140 sekolah Katolik di Jawa Timur, kebanyakan guru dan karyawan berstatus kontrakan. Honor mereka pun rendah. Misalnya, seorang guru yang bekerja 12 tahun hanya digaji sekitar Rp 250 ribu per bulan. Padahal upah minimum regional untuk buruh saja sekitar Rp 450 ribu per bulan.

    Kecaman juga ditudingkan ke sejumlah imam yang hidup secara parasitis atas jerih payah umat. "Mereka seperti layaknya kaum kelas menengah-atas, akrab dengan mobil-mobil, pakaian-pakaian keluaran factory outlet, ber-handphone, masuk-keluar rumah makan mahal terkemuka, mejeng di mal-mal," demikian disebut Surat Domba.

    Borok-borok Gereja Katolik Keuskupan Surabaya itulah yang ditelanjangi Komunitas Cinta Gereja—peristiwa yang ditabukan di lingkungan Gereja Katolik, yang bersifat hierarkis, tertutup, dan feodal-paternalistik. Apa tanggapan Uskup Mgr. Johanes Hadiwikarto S.J.? Mengaku sibuk dengan pekerjaan, Hadiwikarto memerintahkan Romo Y. Eko Budi Susilo, Bagian Hubungan Masyarakat Keuskupan Surabaya, agar menjawab pertanyaan Sunudyantoro dari Tempo News Room. Kata Eko, Uskup berterima kasih atas kritikan tersebut dan menyatakan akan terus memperbaiki pelayanan untuk umat.

    Cuma, Romo Eko menyayangkan penerbitan Surat Domba. "Itu masalah yang sesungguhnya bisa dibicarakan secara internal di lingkungan gereja. Tapi mengapa dibuat secara terbuka?" kata Romo Eko. Menurut Romo Kurdo, Surat Domba diterbitkan secara terbuka karena cara lain seperti berdialog secara pribadi dan pengiriman surat tertutup sudah dilakukan. "Namun, semua itu ternyata hanya dianggap sampah!" ujar Romo Kurdo.

    K.M.N., Dwidjo U. Maksum (Surabaya)

    ReplyDelete
  12. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  13. good luck, may God always lead your way!

    ReplyDelete
  14. ...........................

    ReplyDelete
  15. sbg informasi romo kurdo skr bertugas di paroki St.Petrus tuban. semoga membawa kemajuan bagi paroki kita.

    ReplyDelete
  16. Wah hebat ya ternyata romo kurdo dulunya

    ReplyDelete
  17. Romo Kurdo..homili beliau selalu menjadi kerinduan dalam setiap misa dan menginspirasi untuk menjalani kehidupan yang lebih baik

    ReplyDelete