19 April 2007

Reshuffle Iku Opo, Cak?


Saya biasa cangkrukan di warung kopi di pinggir Jalan Raya Bandara Juanda, kawasan Sedati, Sidoarjo. Di tengah malam yang dingin saya keluarkan beberapa koran. Jawa Pos, Radar Surabaya, Kompas, Surya [kadang-kadang]. Peserta cangkrukan pun berebut baca.

Saya suka karena ini berarti minat baca koran teman-teman masih tinggi. Mereka paling suka berita sepak bola [Jawa Pos], kejahatan, kemudian politik. Baca sebentar, lalu dibahas ramai-ramai. Suasana cangkrukan pun jadi mirip diskusi politik atau sepak bola.

"Mas, RESHUFFLE iku opo to? Panganan opo sih?" tanya Arif, pemuda asal Semambung, Sedati. Yang lain tertawa karena si Arif ini memang polos. SMP pun tidak tamat karena dia harus kerja cari uang.

"Yah, RESHUFFLE iku ya panganan kayak pudak. Koen ngerti gak pudak? Iku sing jenenge RESHUFFLE. Dipangan karo ngopi-ngopi... wuenaaak tenan," timpal Jamil, aktivis partai politik. Hehehehe.... ada-ada saja!

Begitulah.

Dalam dua bulan terakhir koran-koran memberitakan RESHUFFLE kabinet. Berita di televisi pun sama saja. RESHUFFLE, RESHUFFLE, RESHUFFLE, RESHUFFLE.... Tapi menterinya tidak diganti-ganti sehingga pembaca bosan. "Opo gak ono berita liyane, Cak," komentar teman-teman di warung kopi.

Saya merasa terpojok. Sebagai orang media, kami ikut bertanggung jawab atas mewabahnya istilah RESHUFFLE di masyarakat. Begitu pula istilah DEADLINE. CASH AND CARRY. RESETTLEMENT. RELIEF WELL. BREAKING NEWS. PUBLIC CORNER. SAVE OUR NATION. Dan banyak lagi istilah bahasa Inggris yang sudah ada padanan, atau bisa diterjemahkan, dalam bahasa Indonesia.

Kepala Pusat Bahasa Dr Dendy Sugono, seperti dikutip Jawa Pos [19 April 2007], menyebut media massa justru menjadi contoh buruk penggunaan bahasa. Media kerap menggunakan istilah asing yang sudah ada padanan dalam bahasa kita. "Selain membingungkan orang yang tidak mengerti, juga tidak menghargai bahasa pemersatu bangsa," kata Dendy Sugono.

Saya setuju. Media massa dan masyarakat Indonesia di kota-kota [umumnya] makin kehilangan kontrol dalam berbahasa. Apa saja yang asing, Inggris, dipakai. Ditelan bulat-bulat. RESHUFFLE, misalnya, artinya 'mengganti menteri', 'merombak kabinet'.

Akan lebih sederhana bila berita di koran berbunyi: "Presiden Susilo berencana mengganti beberapa menteri yang kinerjanya buruk."

Tapi, apa lacur, koran-koran menulis: "Presiden Susilo berencana melakukan RESHUFFLE kabinet. Tapi PPP menolak rencana RESHUFFLE karena momentumnya sudah lewat."

Virus bahasa Inggris yang lebih parah terlihat di televisi. Contoh di INDONESIAN IDOL. Saya kadang-kadang menyaksikan siaran pemilihan berhala-berhala pop ala Amerika ini. Tentulah semua peserta Indonesian Idol 100 persen orang Indonesia. Tapi, setiap kali usai menyanyi, para peserta berkata, "THANK YOU. THANK'S."

Saya tidak pernah mendengar ucapan: TERIMA KASIH, MATUR NUWUN, SUWUN... atau ungkapan-ungkapan khas Nusantara. Indra Lesmana, komentator Indonesian Idol, pun selalu mencampur-campur bahasa Inggris saat menilai peserta. Yah, inikah globalisasi itu? Ketika kita melebur menjadi warga masyarakat global dan kehilangan jatidiri?

Dendy Sugono, kepala Pusat Bahasa, dalam buku 'Pengindonesiaan Kata dan Ungkapan Asing' [2003] menulis, "Globalisasi dan pasar bebas tidak memasuki kawasan Indonesia saja.... Namun, masyarakat yang bahasanya bukan bahasa Inggris seperti Jerman, Prancis, Italia, Jepang, dan Cina [seharusnya Tiongkok] tidak mengalami proses penginggrisan yang memprihatinkan."

Lha, kenapa orang Indonesia masa kini kok bahasanya gado-gado, campur-campur, amburadul, seperti sekarang?

Saya pun teringat pepatah lama yang tertulis di sampul buku pelajaran bahasa Indonesia untuk SMA pada 1980-an:

"Bahasa menunjukkan bangsa."

No comments:

Post a Comment