01 May 2007

Presiden pun Sok Inggris


Program-program Metro TV hampir semuanya pakai bahasa Inggris.

Pada 2004, sebelum terpilih menjadi presiden Republik Indonesia, SUSILO BAMBANG YUDHOYONO mendapat penghargaan sebagai tokoh berbahasa Indonesia terbaik. Pusat Bahasa yang kasih penghargaan ini. Susilo dinilai piawai dan cermat berbahasa Indonesia.

Kalau pejabat-pejabat lain berbahasa kacau, bergelemak peak, bahasa Susilo dianggap bagus. Setelah jadi presiden, 20 Oktober 2004, bagaimana gaya berbahasa Susilo?

Terus terang, saya sedih. Susilo ikut larut dalam arus ‘globalisasi’. Mengutip frase atau istilah-istilah Inggris secara berlebihan.
Padahal, kata-kata itu ada padanannya dalam bahasa Indonesia atau daerah. Padahal, Susilo bicara di tengah orang Indonesia. Padahal, dia tahu banyak pendengar tak paham bahasa Inggris. Padahal.... ini yang penting, Susilo itu KEPALA NEGARA yang punya tugas menjaga harkat bahasa Indonesia sebagai bahasa negara. Ingat, pasal 36 Undang-Undang Dasar 1945.

Wisnu Nugroho membuat catatan menarik di harian KOMPAS, 27 April 2007, muka 5. Menurut Wisnu, ketika bicara di depan alumni Lembaga Ketahanan Nasional selama 45 menit, Presiden Susilo menggunakan 120 kata asing.

“Ketika berpidato, Presiden [Susilo] sangat dermawan menggunakan kata asing, sementara Wakil Presiden [Jusuf Kalla] sangat kikir,” tulis Wisnu Nugroho, wartawan yang sehari-hari meliput kegiatan presiden dan wakil presiden.

Apa Presiden Susilo tidak boleh berbahasa asing, khususnya Inggris? Boleh! Silakan! Bahkan, kalau perlu 100 persen bahasa Inggris yang baik dan benar saat berpidato di forum internasional. Persoalannya, Susilo yang presiden Indonesia ini sangat gandrung mencampuri kalimat-kalimatnya dengan English.

Ini juga lazim dilakukan mahasiswa atau dosen kita yang menulis artikel. Istilah Inggris dimasukkan ke dalam kurung. Seakan-akan pembaca tidak paham bahasa Indonesia, sehingga harus ada padanan Inggris. Kalau tidak begitu, seakan-akan artikelnya kurang bermutu. Hehe... apa tidak terbalik? Istilah Inggris yang diterjemahkan atau dijelaskan dalam bahasa kita?

Presiden SUKARNO [bukan SOEKARNO, kalau kita taat asas dengan ejaan baku] seorang poliglot. Sang proklamator itu fasih banyak bahasa. Jauh lebih banyak daripada Presiden Susilo. Bacaan Sukarno banyak. Pengetahuannya sangat luas. Nah, saat pidato, Sukarno mengutip refrensi sesuai dengan aslinya. Bukan itu saja. Sukarno juga mengupayakan agar kutipan-kutipan itu dilafalkan sesuai dengan logat asli.

Maka, pidato-pidato Presiden Sukarno penuh warna. Warna Belanda, Jerman, Italia, Inggris, Latin, Jawa, Sunda, Bali... dan entah apa lagi. Belum ada pejabat atau tokoh Indonesia yang punya kemampuan secemerlang Presiden Sukarno.

Lalu, Sukarno menerjemahkan ungkapan-ungkapan itu dalam bahasa sederhana. Bahasa yang mudah dimengerti rakyat. Konsep asing dijelentrehkan dengan pengertian lokal. Ini yang bikin pidato Bung Karno sangat hidup dan digemari masyarakat.

Lha, Presiden SUSILO, asal Pacitan, Jawa Timur, ini terbalik. Pidatonya tidak pakai konsep-konsep rumit atau kutipan-kutipan asli ala Presiden Sukarno. Pidato Susilo mirip makalah atau artikel di media massa kita yang dibacakan di depan khalayak. Agar terkesan ‘ilmiah’, seperti cendekiawan Indonesia umumnya, maka beberapa frase bahasa Inggris pun dikutip di sana sini.

Jadi, Presiden Susilo bukan mengutip bacaan atau tuturan asli dari sumber yang kebetulan berbahasa asing seperti dilakukan Presiden Sukarno.

Ada baiknya, kita perlu belajar dari negara tetangga kita, Malaysia. Saya beberapa kali menyimak pidato pejabat-pejabat di sana. Wah, ternyata bahasa pejabat negara jiran itu sangat membumi. Pakai bahasa Melayu, ungkapan-ungkapan khas, sederhana, tidak sok Inggris. Padahal, Malaysia itu bekas jajahan Inggris dan rakyatnya, apalagi pemerintahnya, sangat fasih berbahasa Inggris secara lisan dan tulisan.

Kalaupun ada istilah Inggris, biasanya sudah ‘dimelayukan’ alias diserap. Tidak ada pejabat Malaysia yang berusaha memperjelas ujarannya dengan mengutip istilah bahasa Inggris. Kesadaran berbahasa nasional orang Malaysia memang sangat tinggi.

Beberapa tahun lalu, rakyat Malaysia heboh gara-gara Perdana Menteri Datuk Seri MAHATHIR MOHAMMAD berpidato dalam bahasa Inggris saat berkunjung ke Indonesia. Bagi orang Malaysia, seperti dikutip Datuk Mahathir dalam bukunya, DILEMA MELAYU, bahasa Indonesia itu sejatinya sama saja dengan bahasa Melayu, kemudian diperkaya dengan bahasa-bahasa daerah dan bahasa asing.

Karena itu, Mahathir dituntut rakyatnya agar berbahasa Melayu [Malaysia] selama berada di Indonesia. Saya geleng-geleng kepala membaca kecaman keras rakyat Malaysia kepada pemimpinnya. Ingat, waktu itu Mahathir masih merupakan orang kuat di sana.

Di Indonesia, mana ada yang hirau? Pejabat-pejabat berbahasa ngawur, beringgris ria, mengabaikan tata bahasa... rakyat sih tenang-tenang saja. Nama-nama program acara di televisi, macam Metro TV, pun dibiarkan saja. Iklan yang 100 persen berbahasa Inggris tak dilarang. Nama-nama perumahan.... Semua serba Inggris di bumi Indonesia, sementara pejabatnya pun ikut arus.

Di Surabaya, saya beberapa kali bertemu dengan diplomat yang bahasanya bukan Inggris. Entah itu Prancis, Belanda, Jepang, Tiongkok. Saya sangat yakin, sebagai diplomat yang sudah malang-melintang ke banyak negara, mereka tentu mampu berbahasa Inggris. Nah, saat saya minta wawancara dalam bahasa Inggris, para diplomat ini menolak dengan tegas.

"Saya bicara dalam bahasa Prancis, nanti Sita [Sunaryo, staf] yang menerjemahkan,” ujar Dimitri, bekas konsul Prancis di Surabaya, kepada saya.

Diplomat [dan warga] negara beraksara kanji [Jepang, Tiongkok, Thailand, Vietnam, Taiwan] jauh lebih ‘alergi’ bahasa Inggris. Walaupun sudah bertahun-tahun hidup di Indonesia, mereka selalu bicara dalam bahasa negaranya. Kemudian diterjemahkan oleh staf bahasa Indonesia.

Negara mereka toh terbukti mampu bersaing di era pasar bebas, globalisasi. Siapa biang Tiongkok tidak maju? Jepang tidak maju? Vietnam ketinggalan? Malaysia tidak maju?

Mudah-mudahan Presiden Susilo mau menjaga martabat bahasa Indonesia sebagai bahasa negara. Bukankah itu salah satu tugas konstitusional kepala negara?

BAHASA MENUNJUKKAN BANGSA.

2 comments:

  1. Hi there,

    Just want to indrocue my self :) that i'm a one of the blogger member.

    Nice blog, i love it ;). Good job !

    Regards,

    Sri

    http://www.sriagustianihanniffy.blogspot.com

    ReplyDelete
  2. soalnya kalo sby ngomong pake bahasa indonesia sama obama , obamanya gak ngerti ...

    ReplyDelete