05 April 2007

Pekan Suci - Paskah 2007


Demam pekan suci [Paskah] tahun 2007 cukup terasa di Surabaya dan Sidoarjo. Ini tak lepas dari kerja teman-teman wartawan kota yang menulis berita dan foto minggu palem (1/4). Koran-koran utama, termasuk Jawa Pos, menulis cukup panjang, lengkap dengan wawancara bersama Romo Julius Haryanto CM, administrator Keuskupan Surabaya.

Rabu (4/4) siang, saya mampir ke Gereja Katedral, Jalan Polisi Istimewa Surabaya, untuk melihat persiapan pekan suci. Terop sudah dipasang di halaman gereja utama itu. Tempat duduk diatur rapi. Gereja ditata rias. Anak-anak muda berlatih paduan suara. Para satpam pun kerja keras.

Maklum, di acara ramai macam ini, entah Natal, pekan suci, ada saja potensi teror. Menyusul bom Natal tahun 2000, kalangan gereja trauma dan selalu waswas setiap kali perayaan Natal atau Paskah, karena misa selalu digelar setelah matahari terbenam. Misa terakhir malam Paskah di Katedral, bahkan baru usai sekitar pukul 01.30 WIB.
"Kami sudah antisipasi sejak pekan lalu. Kerja sama dengan Polwiltabes Surabaya," ujar Fransisikus Xaverius Ketut Suartana, satpam asal Bali.

Dia berharap, pekan suci tahun ini berlangsung aman, lancar, dan produktif. Umat Katolik, tidak hanya di Surabaya, bisa mengikuti liturgi panjang pekan suci ini dengan baik. "Yah, supaya perayaan Paskah memberi kebangkitan bagi kita semua," kata satpam, mirip khotbah pastor. Hehehe....

Tiap tahun umat Katolik Surabaya memilih ikut misa pekan suci di Katedral. Ini kebiasaan yang 'tidak sehat' mengingat mereka sudah punya paroki sendiri-sendiri.

"Rasanya gimana ya kalo misa di Katedral. Ada nilai tersendiri karena Katedral itu kan gerejanya uskup," kata Sisilia, pegawai bank swasta. Padahal, nona manis ini parokinya di kawasan Tanjung Perak.

Jangan heran, umat Katedral yang resminya 'hanya' 12 ribu, pada hari-hari besar Katolik, melejit hingga 15 ribu-20 ribu orang. Luar biasa. "Yang senang, ya, romonya. Sebab, kolekte bisa buanyaaaak sekali. Katedral kan paroki kaya. Hehehe," ujar Dewa Made, bekas aktivis Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia. Jujur, nilai kolekte di Katedral Surabaya paling besar di Jawa Timur, bahkan Indonesia.

Dari Katedral Surabaya, saya meluncur ke Gereja Santo Paulus, Jalan Bandara Juanda, Sidoarjo. Di gereja paling baru di Keuskupan Surabaya ini pun delapan pekerja sibuk memasang terop alias tenda di halaman gereja. Tapi tak seramai di katedral dan gereja-gereja Surabaya. Saya tentu berusaha mengikuti misa pekan suci di Gereja Paulus. Pastornya orang Flores, Romo Gabriel Dasi SVD. Petugas liturgi, dirigen kor, pembawa pasio, bisa dipastikan, orang Flores, khususnya Manggarai.

Pekan suci atau semana santa [istilah umat Katolik di Larantuka] dimulai dengan minggu palem. Umat mengangkat palem untuk memperingati Yesus Kristus masuk kota Yerusalem dengan jaya.

"Hosanna Filio David, Benedictus qui venit in nomine Domini!" Begitu lagu perarakan saat minggu palem alias minggu palma. Selepas misa, daun palma dibawa pulang dan ditaruh di salib masing-masing umat. Tahun ini saya ikut misa minggu palem di Pamekasan, Madura. Romonya Laurentius Toda OCarm, orang Flores Timur. Aha, ke mana-mana ketemu Flores, Flores, dan Flores.. di lingkungan Gereja Katolik.

Usai minggu palem, umat mengikuti perayaan KAMIS PUTIH, JUMAT AGUNG, dan SABTU PASKAH. Upacara sangat meriah. Banyak umat Katolik yang sepanjang tahun malas ke gereja berusaha mengikuti perayaan misteri Paskah nan agung ini. Akan sangat afdal bila Trihari Suci alias Triduum ini diikuti secara penuh. Tapi, kalau tak sempat karena harus kerja, menurut saya, JUMAT AGUNG dan SABTU PASKAH jangan dilewatkan.

Di Flores Timur, kampung saya, pekan suci luar biasa meriah. Warga dari berbagai desa berkumpul di gereja stasi tertentu [bergiliran tiap tahun] untuk perayaan pekan suci. Dua bulan sebelumnya umat sudah berlatih kor, pasio, lamentasi, serta berbagai persiapan liturgis dan nonliturgis. Saya ingat beberapa guru sekolah dasar di kampung saya yang fasih membawakan pasio alias kisah sengsara Yesus ala gregorian.
Tiga solis, masing-masing memerankan Yesus, Pilatus dkk, narator, bersahutan dengan paduan suara [mewakili orang banyak] dalam drama pengadilan, penyiksaan, penyaliban, hingga wafat Yesus di atas kayu salib.

Ketika masih kuliah di Jember, saya selalu dipercaya menjadi 'aktor' pasio. Karena suara saya bariton, mengarah ke tenor, saya kebagian peran Pilatus atau dalang [narator]. Saya juga ikut melatih paduan suara mahasiswa yang bertugas pada misa pekan suci. Ah, itu masa lalu. Sekarang, di Surabaya, saya jadi umat biasa, bukan aktivis, karena tidak ada waktu untuk melatih dan berlatih. Paling, ya, jadi pengamat, komentator, dan sejenisnya.

Di Kota Surabaya, demam pekan suci ini dimeriahkan pula oleh aksi teman-teman mahasiswa Katolik [umumnya aktivis PMKRI] yang bikin aksi teaterikal JALAN SALIB di sepanjang jalan protokol. Berawal dari markas PMKRI di Taman Simpang, prosesi meluncur ke Jalan Pemuda, Panglima Sudirman, belok di Basuki Rachmat, finis di Gedung Negara Grahadi.

Seorang mahasiswa memerankan Yesus yang memikul salib. Lalu, ada algojo penyiksa Yesus. Bunda Maria, Maria Magdalena, wanita-wanita Yerusalem, Simon dari Kirene, Pilatus, Herodes, serta pelaku-pelaku drama Paskah lainnya. Jalan Salib ala PMKRI ini selalu mendapat perhatian masyarakat, dan diliput luas wartawan cetak, radio, dan televisi.

"Kami ingin tunjukkan bahwa kematian Yesus itu sebuah peristiwa politik. Bagaimana penguasa saat itu bertindak sewenang-wenang, karena hasutan rakyat, menghukum mati orang yang tidak bersalah," kata Kanisius Karyadi, teman saya, bekas ketua PMKRI Surabaya, yang ikut menggagas Jalan Salib unik ini.

Menurut Karyadi, PMKRI mengangkat isu-isu sosial kemasyarakatan untuk dikomunikasikan lewat teater Jalan Salib. Apa saja yang aktual, ya, itulah yang disampaikan dalam kemasan Jalan Salib. "Memang banyak pro-kontra di kalangan gereja. Jalan Salib kok nyeleneh begitu? Ini kan melanggar tradisi. Tapi, ya, teman-teman jalan terus. Berbeda pendapat itu kan biasa," ujar Karyadi lalu tertawa lebar.

Begitulah. Macam-macam cara umat untuk mengisi pekan suci. Orang-orang kampung di Flores dengan caranya yang khas. Orang Jawa pun tak mau ketinggalan. Orang-orang muda pun demikian.

Saya pribadi menciptakan demam pekan suci di kamar dengan memutar lagu-lagu gregorian khas pekan suci. Saya diajak untuk lebih menyadari kehadiran Tuhan di dalam hidup. Inilah salah satu lagu gregorian favorit saya setiap KAMIS PUTIH. Judulnya UBI CHARITAS ET AMOR. Orang-orang Flores menyanyikan lagu ini dalam versi bahasa Indonesia: 'Jika Kita Saling Cinta, Allah pun Hadir'. Notasinya sederhana saja:

//1 1 2 3 3 2 34 32 3.2 11 12 2 .//
Ubi Charitas et amor, Deus ibi est

ANTIFON:

1. Congregavit nos in unum Christi amor.
Exultemus, et in ipso jucundemur.
Timeamus et amemus Deum vivum Et ex corde diligamus nos sincero

Ubi charitas et amor, Deus ibi est

2. Simul ergo cum in unum congregamur:
Ne nos mente dividamur caveamus
Cessent jurgia maligna, cessent lites,
Et in medio nostri sit Christus Deus.

Ubi Charitas et amor, Deus ibi est

3. Simul quoque cum beatis videamus.
Glorianter vultum tuum, Christe Deus:
Gaudium quod est immensum, Saecula per infinita saeculorum. Amen

1 comment: