15 April 2007

Pantai Wisata Dalegan Gresik


Sabtu, 14 April 1007.

Saya pesiar ke Pantai Dalegan di Kabupaten Gresik. Meskipun jaraknya hanya sekitar 50 kilometer dari Surabaya, saya sebelumnya tak pernah ke sana. Apalagi, pantai di Kecamatan Panceng, dekat Tanjungkodok dan Ujungpangkah, ini kurang terkenal. Alih-alih orang luar, warga Kabupaten Gresik sendiri pun tak banyak yang tahu.


"Di mana ya? Aku kok gak pernah dengar Dalegan," ujar seorang pria 60-an tahun di depan kantor Pariwisata Gresik. Saya mampir ke kantor itu untuk cari informasi. Ternyata, Dalegan tidak tercantum di peta wisata Gresik. Yang ada cuma objek wisata ziarah macam Makam Sunan Giri hingga Pulau Bawean. "Maaf, saya tidak tahu," ujar seorang tukang becak.

Saya pun mengontak Adi Sucipto, teman saya yang wartawan KOMPAS di Gresik. Adi menjelaskan bahwa lokasi Pantai Dalegan [Panceng] sekitar 40 kilometer dari Gresik. "Ikuti saja jalur pantura, kawasan Manyar, Bungah... hingga Ujungpangkah. Dijamin Anda sampai," papar Adi Sucipto yang asli Banyuwangi.

Begitulah. Sering kali orang luar lebih mengenal daerah kita, sementara orang awak justru tak tahu apa-apa.



Melintasi jalan raya di pantai utara memang asyik. Tambak begitu banyak. Alam pedesaan yang asri. Tapi, hati-hati, banyak truk gandeng yang sopirnya ugal-ugalan. Jalan yang tak seberapa lebar, sebagian di antaranya berlubang, memaksa kita untuk ekstrawaspada. Wajah-wajah ramah, santai, terlihat di sepanjang jalan. Orang kampung memang jarang stres kayak orang kota.

"Welcome, wisata pantai Dalegan," begitu tulisan di plang. Karcis masuk dewasa Rp 1.500, anak-anak Rp 1.000. Hari itu pantai berpasir putih itu cukup ramai. Umumnya anak-anak muda SD hingga SMA. Ada juga beberapa pasangan suami-istri bersama anak-anaknya.

Secara umum, Pantai Dalegan relatif masih perawan, belum tersentuh tangan-tangan pengusaha pariwisata. Namun, warga desa sudah menata objek rekreasi itu dengan membuat gasebo, tempat duduk, hingga menyewakan ban dalam untuk berenang. Ombaknya nyaris tidak ada, sehingga digemari anak-anak dan remaja.

Di sepanjang pantai, sekitar 300 meter, warga buka warung makanan, es, penganan kecil, suvenir, hingga kamar mandi untuk bilas. "Abang sila renang. Ombak di sini tak ganas. Tak usah dicemasi lah," ujar seorang pria berbadan kekar saat melihat saya asyik membaca koran.

Aha, logat Malaysia-nya kental. Apa ada orang Melayu yang terdampar di Gresik? Omong punya omong, lelaki ini bernama Ahmad Sonhaji, 40 tahun. Dia penjaga pantai, sekaligus menyewakan ban-ban dalam untuk renang. "Saya 22 tahun di Semenanjung [Malaysia}. KL, Johor, semua... saya sudah keliling. Anak pertama saya bahkan lahir di KL. Maklumlah, logat Malaysia belum boleh lenyap pula," tutur Sonhaji.

Saya pun menimpali dengan dialek Malaysia, sehingga kami cepat akrab. Istrinya, Eni Mafula, 30 tahun, juga bercakap ala orang Kuala Lumpur. Ramailah kedai Cik Sonhaji di pojok pantai itu. Suasana macam inilah yang selalu saya rindukan. Bertemu orang baru, sederhana, polos, langsung akrab. Kami cerita macam-macam, layaknya sahabat lama.

"Di Malaysia saya akrab dengan siapa saja. Saya tak hendak cari musuh. Saya cari teman sebanyak mungkin," kata Sonhaji.

"Abang tahu tak? Orang Desa Dalegan sini 90 peratus [persen] merantau ke Malaysia. Yang tinggal di desa sikit saja lah. Kalau dah punya modal, baliklah dia, usaha di sini. Lalu merantau lagi ajak saudara atau teman. Begitu seterusnya," jelas Sonhaji panjang lebar.

Wah, kok mirip orang-orang kampung di Flores Timur ya? Merantau ke Malaysia, khususnya Sabah-Serawak, sudah menjadi tradisi turun-temurun. Banyak kampung di Flores yang 'kehilangan' warganya karena merantau ke Malaysia atau Batam. Warga pesisir Gresik lebih memilih Malaysia Barat untuk mengadu nasib.

Menurut Ahmad Sonhaji, Pantai Dalegan sejak dulu telantar. Tidak dikemas sebagai objek wisata yang bisa mendatangkan uang. Orang desa, karena orientasinya merantau ke Malaysia, membiarkan begitu saja.

Paling-paling sejumlah nelayan memanfaatkan untuk armada ikan. Oh ya, di sini ada tempat pengolahan ubu-ubur berikut gudangnya. "Yang punya orang Tionghoa," kata Sonhaji. "Sekarang mangkrak karena ubu-ubur makin sikit. Kelak kalau ada ubur-ubur pabrik ini dibuka lagi."

Pemerintah Desa Dalegan baru mendandani pantai ini pada 2005. Dibuat dermaga sederhana yang menjorok ke laut. Ahmad Sonhaji bikin gubuk-gubuk beratap ilalang untuk tempai istirahat pengunjung. Sampah-sampah dibersihkan. Bahkan, tiap hari pada pukul 17.00 ada pekerja yang khusus membersihkan pantai. Hanya saja, saya lihat sampah-sampah laut seperti batang kayu, rerumputan, serta sampah rumah tangga dibiarkan saja di bibir pantai. Jelas ini mengganggu pemandangan.

Lalu, dimulailah bisnis objek wisata dengan menarik karcis masuk. Konternya sederhana, terbuat dari bambu. Uang tiket masuk kas desa, sebagian dipakai untuk mengembangkan Pantai Dalegan.

Sejauh ini, papar Sonhaji, Pemerintah Kabupaten Gresik belum ikut-ikut menangani Pantai Dalegan. Warga desa justru khawatir, jika diambil alih pemda, biasanya uangnya tak banyak jatuh di desa. "Kami kembangkan pelan-pelan lah. Sekarang dah dikenal orang banyak lah. Orang dari Surabaya, Malang... ya, dari mana-mana sudah pernah ke sini," kata Sonhaji, ayah dua anak ini, bangga.

Makin sore pengunjung makin banyak. Saya melihat dua rombongan anak sekolah masih berseragam sekolah. Turun dari kendaraan, pakai jilbab, anak-anak itu berlari bersama ke pantai. Byurrr!!! Langsung mencebur badan ke laut. Semuanya gembira. Di sisi lain, sekitar 15 remaja putri SMA main-main pasir, 'memaksa' salah satu temannya yang rupanya enggan mandi, untuk segera berbasah-basah ria. Suasana pun heboh.

"Pokoknya, kalau hari Sabtu, Ahad, tanggal merah, selalu ramai," tambah Eni Mafula seraya menyerahkan kelapa muda yang saya pesan. "Sering-seringlah ke sini, Bang," kata istri Ahmad Sonhaji ini, ramah.

Yang jelas, objek wisata Pantai Dalegan ini tidak punya fasilitas penginapan atau akomodasi. Naga-naganya tak bakal ada. Mau nginap, ya, harus ke Gresik. Kenapa?

Masyarakat Gresik sangat religius, santri, muslim taat. Mereka tak ingin daerahnya dicemari dengan berbagai praktik maksiat. Bagi warga, fasilitas penginapan rawan disalahgunakan untuk perbuatan tidak senonoh. Jangan heran, di pantai ini ada sejumlah aturan yang harus ditaati pengunjung, khususnya seputar etika dan moral.

18 comments:

  1. wah, apik cak tulisan sampeyan ttg pantai gresik. hitung2 bantu promosi wisata. suwun.

    arifin, gresik

    ReplyDelete
  2. hehe.. soal penginapan ga ada, takut maksiyat itu njawab alasan paling gampang, spy "yg ditanya" ga buang energi u/ mikir serius. Yah namanya juga "desa yg ga ada di peta" hihihi... Sebenarnya kalo bujang, Om tinggal kenalan dengan penduduk (disarankan pemuda2), dijamin akomodasi penginapan, mandi, makan, kalo tempat tidur "paling naas" bisa dapet di balaidesa, studio musik kampung, warung kopi (yg di perkampungan!). Jangan salah, di tempat2 itu selalu rame dengan anak2 muda nongkrong. Memang repot kalo yg bawa keluarga.

    ReplyDelete
  3. sekedar silaturahmi aja mas..semoga sesama blogger saling silaturahmi..dan menjalin persaudaraan

    ReplyDelete
  4. mas, tanks ya atas pujiannya, emangnya lu berapa kali ke pantai pasir putih dalegan ini, kok kelihatannya seringsih, jika main lagi nginap dirumah gue aja, tak jauh kok dari tempat itu. cari aja alamat gue di gue punya blog. pertama buka google. lalu cari " miftachulmaayis-myblog.blogspot" beres deh. aku juga punya budi daya lobster air tawar loh. tertarik ?

    ReplyDelete
  5. mas miftachul maayis, baru empat kali lah awak melancong ke pantai dalegan. cuma memang perlu usaha ekstra keras untuk 'menjual' tempat wisata ini. saya suka cakap bahasa melayu dg beberapa penduduk tempatan [lokal].
    terima kasih sudah mampir di blog saya.

    ReplyDelete
  6. hai.. maaf bung Lambertus saya orang dalegan.. sebenarnya saya suka dengan penyataan saudara..
    saya cuma mau tanya apa yang menarik menurut anda dari Pantai Wisata Dalegan..

    ReplyDelete
  7. Aku tetangganya DELEGAN tp gk sesering Anda ke sana. Tulisannya bagus sangat journalist sense. Btw dari UNEJ ya..

    ReplyDelete
  8. hehehehe.......
    mudah2an Wisid rame trs,please welcome temen2 dr mn aja.
    seandainya Wisid d kelola dg bener,aq yakin suatu saat bs maju. tp klo d liat kenyataan skrg,sampe kapan pun gak akn bs maju,coz banyak yg corupt.........

    ReplyDelete
  9. Urun komentar Cak !
    Saya berharap kedepan wisata pantai dalegan bisa menjadi salah satu alternatif wisata selain WBL.
    Tanjung kodok (WBL, dulu) keadaannya jauh lebih memprihatinkan ketimbang WISID sekarang ini.
    Memang kita bs menikmati kalo tidak pas hari libur, karena akan terasa lebih luas & lebih bersih.
    Apalagi kalo pas liat sunrise di sana, lumayan bisa sedikit menghibur Cak !
    Di sini banyak juga org Dalegan & sekitarnya yah ;)
    Salam kenal, mongken suatu saat kita bs ketemu klo pas saya mampir pulang ke Dalegan.
    Slurrrppppp, kangen kupat kr legen ne aku ;)

    ReplyDelete
  10. aku affandy salah satu pengelola pantai delegan,

    ReplyDelete
  11. pantai delegan dalam waktu dekat akan bagus jika pengelolahnya bisa dipertanggungjawabkan, sebab selama ini kalo aku amati managemen didalamnya masih terlihat asal-asalan dan tidak mengarah pada managemen wisata yang bagus

    ReplyDelete
  12. Terima kasih, Mas Affandy, semoga Delegan bisa lebih baik, jadi altenatif wisata di Surabaya dan sekitarnya. Salam untuk teman-teman di Delegan.

    ReplyDelete
  13. saya adalah anak orang dalegan yang berada di malaysia.komentar anda bagus sekali tentang pantai dalegan.sudah lama saya tidak pulang ke dalegan karena sekolah. (Bella)

    ReplyDelete
  14. bagus ni.... banyak sekali pengunjugnnya... daru aguspro.blogspot.com

    ReplyDelete
  15. saya orang gresik tp baru sekali ke pantai dalegan ^__^
    nanti deh saya kesana trus ditulis di blog saya juga, itung2 promosi pariwisata gresik ^___^

    see http://arekgresik.com

    ReplyDelete
  16. wah asik juga nih. saya kerja di gresik, tapi blm pernah ke sana, XD

    mampir di blog ane ya, trims :)

    ReplyDelete
  17. wah malu bgt aku' orang gresik tapi gak pernah ke delegan'

    ReplyDelete