17 April 2007

Pamekasan Berangus Hiburan




Pamekasan sejak dulu dikenal sebagai barometer musik di Pulau Madura. Konser rock, dangdut, pop, kerap digelar di sana. Saya pernah meliput festival band remaja yang menampilkan grup-grup terkemuka di Jawa Timur. Salah satunya, UNGU [Kediri], juara pertama Djarum Super Rock Festival tingkat nasional versi Log Zhelebour.

Informasi terkini, Pamekasan punya 30 band/orkes dangdut, 25 sanggar tari, tujuh sanggar lukis, tujuh grup ludruk, delapan sanggar mode, dan satu grup wayang kulit. Lumayan, kesenian cukup subur di Pamekasan.

Kini, medio 2007, Gerakan Pengembangan Syariat Islam [Gerbang Salam] menggeliat di Kabupaten Pamekasan. Kiai-kiai berpendapat bahwa industri hiburan telah mempengaruhi akhlak dan moral anak-anak muda. Orang muda lebih memilih lihat band, orkes, hiburan, daripada mengaji.

Lantas, dibuatkan terapi berasaskan Gerbang Salam. Majelis Ulama Pamekasan mengeluarkan fatwa nomor 1/Fatwa/MUI/PMK/II/2006 yang mengatur tata cara pentas hiburan di Kabupaten Pamekasan. Berdasar fatwa ini, sedang digodok Peraturan Bupati.

Andai saja peraturan ini berlaku, kata banyak pengamat, habislah riwayat industri hiburan di Pamekasan. Sebab, regulasinya sangat ketat, nyaris tidak memberi ruang untuk hiburan populer.

Berikut beberapa butir [rancangan] Peraturan Bupati Pamekasan:

1. Penonton laki-laki dan perempuan harus dipisahkan.
2. Jam pentas dibatasi hingga pukul 22.00 WIB.
3. Hiburan bersifat edukatif.
4. Alat musik harus tenang, tidak hingar-bingar. Tidak bersifat hura-hura.
5. Lirik [syair] lagu tidak bersifat fitnah, sopan.
6. Gerak tubuh atau tarian tidak membangkitkan nafsu birahi penonton.
7. Penyanyi/penari harus berpakaian sopan dengan menutup aurat.
8. Penyanyi/penari wanita tidak lebih dari 12 tahun. Kalau penyanyi/penari usianya 13 tahun ke atas, maka penontonnya perempuan semua. Intinya, artis perempuan tidak boleh tampil di depan penonton pria.

Jika sebuah ajang hiburan melanggar sebagian atau seluruh kriteria ini, maka aparat Polisi Pamong Praja berhak menghentikannya. Bahkan, sekarang pun Satpol PP sudah menghentikan pergelaran dangdut yang ditaja sebuah perusahaan rokok gara-gara busana wanita penyanyi dianggap tidak sopan.

Membaca konsep Peraturan Bupati Pamekasan ini, saya langsung geleng-geleng kepala. Apa mungkin diterapkan di zaman ini, ketika industri hiburan berkembang sangat pesat? Ketika televisi dan teknologi informasi menembus batas-batas apa pun? Ketika perangkat TI, telepon seluler, video, VCD, DVD, home theatre, dan alat-alat canggih lain sudah menjadi barang konsumsi masyarakat sehari-hari?

Okelah, pergelaran orkes dangdut, band, dan aneka hiburan 'dipersulit' [gampangnya, dilarang], bagaimana dengan televisi yang siaran 24 jam? Melarang masyarakat Pamekasan menonton Inul Daratista, Trio Macan, KDI... artis-artis di televisi? Atau, barangkali melarang sekalian internet yang menciptakan dunia tanpa batas?

"Penampilan artis di televisi kan nggak kalah norak. Bahkan, banyak yang tidak sesuai dengan agama dan kepribadian bangsa," ujar Syaifuddin Miftah, ketua Dewan Kesenian Pamekasan, seperti dikutip Surya [16/4/2007].

Miftah berpendapat, pengaturan itu seharusnya menekankan pada sterilisasi minuman keras dan senjata tajam. "Kami tidak setuju dengan pemasungan kreativitas, baik langsung maupun tidak langsung," ujar Syaifuddin Miftah.

3 comments:

  1. MUdah2han Bapak BUpati BIsa Mencerna dengan BEnar Baca An Di atas. . .

    ReplyDelete
  2. saya rasa lebih baik prturan itu di terapkan karena klo mslah hburan, hiburan tu bkan hanya dengan nonton orkes ataw semacamnya bsa cari hburan lain, tpi kl msalah ahlak klo sampai ahlak orang pamekasan tu sudah melampaui batas maka pamekasan tidak mustahil klo pamekasan brubah jdi ateis dan kalau ahlak tu ng'da sekolahannya

    ReplyDelete
  3. klo sya stju klo preturan tu di terapkan krna klo ha.a mslh hiburn tu bsa cri yg lain wlopun tdak sprti knser pi klo mslah ahklak klo smpai rusak maka pmekasan pun jga akan rsak bkan hal yang tdak mungkin pmekasan ini jdi ATEIS akibat dri rsaknya ahklak masrakat

    ReplyDelete