09 April 2007

Nyadran di Sidoarjo



Kepala kambing dilarung di perairan Selat Madura.

Minggu, 8 April 2007, saya ikut upacara nyadran di Desa Bluru Kidul, Sidoarjo Kota. Ini ritual khas nelayan tradisional Sidoarjo setiap bulan Maulud. Selain di Bluru, nelayan di Balongdowo [Candi] dan Tambakcemandi [Sedati] juga menggelar nyadran pada waktu berbeda.

Menurut Haji Waras, ketua panitia, yang juga teman baik saya, nyadran 2007 ini diikuti 104 perahu masing-masing berisi 20 hingga 30 orang. Perahu yang kami tumpangi, namanya Jokotole, bahkan memuat 40 lebih. Semua perahu dihias bagus. Banyak yang bawa sound system, putar musik. Sangat meriah.

Berangkat dari tengah kota Sidoarjo, kami meluncur ke pantai Ketingan [nama lainnya Kepetingan], sekitar 40 menit perjalanan. Agak lambat karena memang tidak buru-buru. Saya melihat semua nelayan dan keluarganya [anak-anak, ibu-ibu, lansia, remaja] bergembira. Yah, ini memang pesta syukuran keluarga nelayan. Buat apa susah, bukan?

Tiba di Ketingan, proses ke makam Dewi Sekardadu. Wanita ini dipercaya sebagai ibunda Sunan Giri [Raden Paku]. Menurut legenda, jasad Dewi Sekardadu tempo doeloe digotong oleh ribuan ikan keting ke pesisir. Lalu, jasad itu dimakamkan secara Islam. Warga kemudian menyebut kampung nelayan ini sebagai Dusun Ketingan. Ia masuk Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo.

Grup musik tradisional mengiringi prosesi sejauh sekitar 200 meter menuju kompleks makam yang diresmikan Bupati Sidoarjo Win Hendrarso pada 20 Oktober 2002. Satu per satu peziarah masuk ke ruang makam. Lalu, pengajian Alquran, disusul khotbah singkat. Warga nelayan berdoa bersama untuk korban lumpur lapindo yang sudah menderita sejak 29 Mei 2006.

"Insya Allah, bencana di Porong akan segera berakhir," kata H Syaiful Anam, pemimpin doa. "Amiiiin," jawab hadirin.

Totok Widiarto, warga Siring, korban Lapindo, tampak terharu mendengar warga korban lumpur lapindo didoakan secara khusus di makam Ibu Dewi.

Selepas pengajian, warga berebut tumpeng dan makanan lain yang dibawa dari Sidoarjo. Makan bersama di kompleks makam, lauknya daging kambing. "Semua pasti kebagian. Tenang saja," ujar Haji Waras menenangkan anak-anak yang khawatir tidak kebagian jatah. Suasana cair dan gayeng.



Makam Dewi Sekardadu, pusat tasyakuran laut alias nyadran warga Bluru Kidul.

Dari makam Dewi Sekardadu, prosesi dilanjutkan lagi di laut. Berlayar sekitar 30 menit lagi ke perairan Selat Madura. Hadiwijaya, mahasiswa antropologi Universitas Airlangga, yang lagi penelitian tentang nyadran, mencoba rasa air laut.

"Hmmm.. nggak begitu asin," kata Hadi kepada saya. Ternyata benar, setelah saya cicipi, asinnya hanya sedikit. Kalah jauh dibandingkan air laut di Flores. Yah, kadar garamnya rendah karena airnya payau.

Nyadran berpuncak di perairan Selat Madura. Perahu 'Bonex' berhenti dan melepaskan kepala kambing ke laut. Perahu kami, Jokotole, yang berisi wartawan, kamerawan, mahasiswa, pelukis, seniman, panitia... pun merapat. Klik! Gambar pelarungan kepala kambing pun diambil ramai-ramai dengan kamera digital.

"Sudah dapat gambar semua?" tanya Waras yang memang sejak dulu dekat dengan wartawan. Oke!

104 perahu nelayan pun putar balik ke Sidoarjo. Upacara nyadran alias tasyakuran laut ala teman-teman di Bluru Kidul selesai.

Muhammad Anam [52 tahun], warga setempat, mengatakan, dulu nyadran selalu dilakukan pada malam hari. Gelap, pakai lampu seadanya, membuat suasana selama perjalanan pergi-pulang sangat eksotis. Namun, sejak 2002 Pemerintah Kabupaten Sidoarjo menginstruksikan agar ritual khas warga nelayan ini dipindahkan pada siang hari.

Ini semata-mata demi keamanan dan keselamatan para peziarah. Sebab, dulu warga Balongdowo, Candi, pernah celaka saat nyadran. Nyadran malam hari pun rawan disalahgunakan untuk hura-hura, bahkan 'minum-minum'.

"Siang malam nggak masalah. Yang penting, intinya tidak berubah. Kami, masyarakat nelayan, ingin mengucapkan syukur atas hasil yang selama ini kami peroleh. Semua itu karena anugerah Allah SWT," ujar Waras, yang lahir pada 8 Desember 1971.

Bersyukur! Itulah kata kuncinya.

4 comments:

  1. wah blognya bagus mas apa boleh nih belajar ama mas Labertus,saya lagi belajar nich,kalau tidak keberatan email saya:budiantowjy@yahoo.com

    terima kasih sebelumnya
    salam
    budianto wijaya

    ReplyDelete
  2. Mas Budianto, terima kasih. Baru kali ini ada yang bilang blog saya bagus. Jadi ge-er nih hehehe...
    Ini sekadar catatan-catatan ringan saja kok. Salam.

    ReplyDelete
  3. biasanya bulan apa nyadrannya? katanya sebelum puasa.

    ReplyDelete
  4. Nyadran diadakan bulan Ruwah atau sebelum puasa di daerah Balongdowo (Candi) dan Gisikcemandi (Sedati). Kalau di Bluru Kidul biasanya bulan Februari/Maret.

    ReplyDelete