29 April 2007

Nonton Ludruk Irama Budaya


 


Malam Minggu beta lihat Ludruk Irama Budaya di kawasan Pulowonokromo, Joyoboyo. Ini grup ludruk satu-satunya yang masih bertahan di Kota Surabaya. Hebat! Ketika semua grup ludruk, juga seni tradisional lain, bubar karena digilas hiburan modern, Irama Budaya justru masih bertahan.


Irama Budaya juga menarik, karena pemainnya mayoritas waria. Mereka bikin komunitas di situ. Tiap malam waria dan pemain pria berusaha main ludruk walau kadang-kadang batal karena sepi penonton.

"Malam Minggu pasti main karena ramai. Hari-hari lain ya, lihat sikon dulu lah," ujar Renny, waria asal Kencong, jember, kepada beta.

Sabtu, 29 April 2007. Ludruk Irama Budaya memainkan lakon 'Beranak dalam Kubur'. Pergelaran dimulai pukul 22.00 lebih sedikit. Karcis Rp 4.000. Beta perkirakan penonton malam itu sekitar 250 orang. Anak-anak kecil hingga kakek-nenek ada.

Gedung Irama Budaya, yang berlokasi di dekat Terminal Joyoboyo ini, terasa gerah karena tak ada kipas angin, apalagi AC. "Silakan ambil kipas di dekat pintu. Kalau pulang, silakan dikembalikan," ujar seorang waria kepada beta. Kipas ini terbuat dari potongan kardus air mineral.

Para penonton rata-rata pegang kipas karena sudah tahu suasana gedung ludruk memang 'sumuk'. Toh, mereka menikmati tembang-tembang tradisional Jawa... sambil menggoda seniwati ludruk yang sebagian besar waria itu tadi.

Beta lihat penonton seperti berebut melemparkan kertas, yang digulung, ke atas panggung. Satimo, pembawa acara sekaligus peludruk kawakan asal Lumajang, mengambil dan membuka kertas itu. Aha, ternyata pesanan tembang dari penonton.

"Assalamualaikum... minta Caping Gunung, dibawakan Renny," baca Satimo.

Lalu, Renny, waria asal Jember ini, membawakan tembang yang diminta diiringi 15 pemusik tradisional. Tingkah polah Renny yang kemayu bikin penonton tertawa. Satimo dan beberapa laki-laki pun ikut-ikut melawak sehingga beta ikut tertawa. Adegan minta lagu, nembang ini, berlangsung satu jam lebih.

"Jujur, sebagian penonton ke sini untuk minta lagu," ujar Ahmad, penonton berusia 71 tahun, asal Ponorogo.

Tepat pukul 24.00 lakon 'Beranak dalam Kubur' dimulai. Ceritanya sederhana saja. Ronggo, pengusaha terkenal, punya istri cantik [diperankan waria], diam-diam menghamili pengemis bisu yang setiap hari minta-minta ke rumah. Si bisu minta tanggung jawab Ronggo.

Istri dan pembantu geger, tak tahu apa maksud si bisu yang bicara pakai bahasa isyarat. "Ronggo tidak mungkin melakukan itu! Ronggo itu moralnya baik," ujar Ronggo di depan istri, pembantu, dan anak buahnya.

Suatu malam, Ronggo meminta tiga anak buahnya untuk menghabisi si Bisu yang hamil tua. "Saya akan kasih bonus, berapa pun yang kalian minta," kata Ronggo. Si Bisu dibunuh, lalu rohnya gentayangan.

Tiga pembunuh si Bisu akhirnya mati secara mengerikan. Istri Ronggo pun kesurupan. Mudah ditebak, Ronggo kemudian mengakui perbuatannya di depan kiai. Si Bisu itu ternyata 'beranak di dalam kubur'.

Ludruk Irama Budaya memang selalu menampilkan cerita-cerita sederhana macam ini. Spontan. Tidak pakai skenario. Para peludruk sangat jago berimprovisasi, mengocok perut penonton. Logika dijungkir balik. Misal: pelayan seenaknya saja memarahi majikan. Kiai digoda atau dicopot kaca matanya.

"Aku senang karena lucu," ujar Rahmat, anak sekolah dasar di kawasan Wonokromo.

"Aku mesti nonton saban malam Minggu. Soale ludruk nang kampungku gak ono maneh," ujar Ahmad, kakek asal Ponorogo.

Beta kemudian menemui Zakiah, pemimpin Ludruk Irama Budaya, tokoh waria. Dia bilang apa pun yang terjadi ludruknya harus main terus agar seni tradisi ini tidak hilang.

"Nggak ono maneh ludruk nan Suroboyo iki. Opo maneh sing main saban dino kayak Irama Budaya. Tulis itu!" ujar Zakiah yang juga penjaga loket karcis Irama Budaya.

Di Joyoboyo ini Irama Budaya mengontrak selama tiga tahun. Sebelumnya, mereka sempat pindah lokasi ke kawasan Jarak dan Tandes, tapi kembali lagi ke Joyoboyo. Rupanya, komunitas ludruk di Surabaya yang bisa diandalkan, ya, di Joyoboyo.
Zakiah, yang beberapa kali menerima penghargaan dari Wali Kota Surabaya dan Taman Budaya Jawa Timur, sadar bahwa seni ludruk semakin tergilas oleh hiburan modern yang sangat digandrungi anak-anak muda.

"Tapi apakah kita menyerah? Saya bersama Irama Budaya akan berusaha menghadirkan kesenian ludruk di Kota Surabaya. Entah sampai kapan," tekad Zakiah.

"Hidup kami, ya, dari kesenian. Kalau ludruk bubar, terus kerja apa, Cak?" timpal Renny, waria yang nama aslinya Muin.

Beta salut sama Zakiah, Renny... para waria dan komunitas Irama Budaya. Terlepas dari citra miring waria, harus diakui, justr waria lah yang beristikamah melestarikan ludruk di Kota Surabaya.

4 comments:

  1. Hey there, read your blog and found it interesting.
    Hey, I am currently doing a theatrical thesis on ludruk. Just wondering whether you have more informations about ludruk, Henri Supriyanto or any contacts of ludruk practitioners? Please... please... inform me, kinda urgently need them. Hey, if you have articles on ludruk, you can also fw to me.

    Thx so much, looking forward to your reply,

    Ivan

    ReplyDelete
  2. Okay, I'd answer your question by e-mail. thanks for visiting my blog.

    ReplyDelete
  3. Terimakasih atas informasi mengenai Ludruk IRAMA BUDAYA, kami sempat memotret dan sudah kami upload di :
    http://hzspirit.multiply.com/photos/album/145/SURABAYA_Ludruk_IRAMA_BUDAYA

    Salam

    Hongky Zein

    ReplyDelete
  4. Artikel yang menarik, Budaya ludruk memang jarang ditampilkan..

    Thanks for share

    ReplyDelete