19 April 2007

Nasrullah Mudik ke Swiss


Oleh LAMBERTUS L. HUREK

Teman saya Nasrullah, pelukis asal Desa Ketapang, Tanggulangin, Sidoarjo, baru saja pamit ke Swiss.

"Bung Hurek, saya mudik ke Swiss dulu. Mungkin enam bulan di sana, persiapkan pameran di Geneva. Istri saya sudah menunggu. Sampai jumpa lagi di Sidoarjo," ujar Nasrullah via telepon.

Dan orang kampung Ketapang, yang sebagian wilayahnya terkena lumpur panas lapindo, ini cepat-cepat meluncur ke Bandara Juanda. Garuda sudah menunggu. Transit di Singapura, Frankfurt... lalu Zurich.

Belasan jam kemudian dia sampai di Swiss. "Saya sudah kangen sama Christine, istri saya. Dia yang akan jemput saya. Gak dijemput ya gak masalah, wong aku wis hapal jalane," kata Nasrullah lalu tertawa kecil.

Christine Rod guru matematika sekolah lanjutan [sejenis SMP] di Swiss. Mereka berkenalan saat Christine berlibur ke Candi Jolotundo di pegunungan Kabupaten Mojokerto. Nasrullah dan teman-temannya dari Sidoarjo mendampingi, dan mulailah benih cinta bersemi. Mereka berkomunikasi lewat pesan pendek [SMS], lalu menikah setahun kemudian.

"Kami nikah secara Islam di Sidoarjo, dilanjutkan dengan catatan sipil di Geneva. Saya tidak pernah menduga bakal mengalami kehidupan seperti ini," ujar Nasrullah yang spesialis menggambar alam dan suasana pedesaan.

Baik Nasrullah maupun Christine banyak bercerita kepada saya tentang kehidupan di negara makmur itu. Christine punya vila yang indah di pegunungan. Nah, Nasrullah alias N Roel diminta menjaga vila, melukis apa saja, di situ. Nasrullah tidak diperbolehkan bekerja.

"Dia bilang, saya itu seniman, ya, kerjanya saya, ya, melukis. Jangan kerja yang lain, toh gaji saya sudah cukup untuk hidup kita," tutur Nasrullah.

Wah, saya rasa Nasrullah sangat beruntung. Semua biaya hidup, biaya tiket pergi-pulang, biaya nikah... apa saja ditanggung Christine. Bagi kita, orang Indonesia, yang hidup di alam patriarkhi, kedengaran janggal istri malah 'menafkahi' suami. Tapi Christine sendiri merasa biasa-biasa, tak ada yang aneh.

"Jadi, saya sejak menikah dengan Christine terus belajar adaptasi," aku Nasrullah.

Proses kreatif Nasrullah selama di Swiss pun difasilitasi sang istri. Melobi Kedutaan Indonesia. Bikin jaringan. Cari ruang pameran. Cari perkakas melukis. Menurut Nasrullah, hal ini membuat dia harus benar-benar bekerja ekstrakeras. Harus menghasilkan lukisan-lukisan berkelas.

"Alhamdulillah, teman-teman asal Indonesia di Swiss banyak membantu. Ada perasaan yang sama kalau kami ini sama-sama perantau," ujar mantan santri di Sidoarjo itu.

Kini, Nasrullah sudah berbahagia bersama sang istri, Christine Rod, di Swiss. Saya pun merenung. Globalisasi telah membuat dunia tak berbatas. Nasrullah dan Christine sama-sama merasa sebagai 'warga' dua negara: Indonesia dan Swiss. Batas negara, ras, warna kulit, paham politik, budaya, tradisi, agama... mencair berkat globalisasi.

"Bung Hurek, saya lagi main-main sama ponakan di Geneva. Anaknya pinter banget dan lucu," begitu pesan pendek Nasrullah.

Wah, saya merasa seakan-akan Swiss itu dekat Stasiun Tanggulangin.

No comments:

Post a Comment