28 April 2007

Nama Orang pun Disingkat


Virus singkatan dan akronim di media massa Indonesia akhir-akhir ini makin kronis. Akronim dan singkatan sudah sangat berlebihan. Diproduksi tiap hari tanpa pakem atau pedoman. Jangan heran, banyak orang bingung membaca media-media berbahasa Indonesia kini.

"Saya seperti orang yang baru belajar bahasa Indonesia. Padahal, saya ini orang Indonesia yang kebetulan tinggal di Belanda. Masa, nama orang pun disingkat,” ujar John, tinggal di Belanda, saat chatting dengan saya.

Keluhan John juga dirasakan saudara-saudari kita di Malaysia, Brunei Darussalam, atau Singapura. Saat membaca surat kabar Indonesia, mereka mengalami kendala. Banyak istilah disingkat, nama pun disingkat.

“Sukarlah awak memahami bahasa Indonesia yang masih serumpun bahasa Melayu,” ujar Muhammad Nasaruddin bin Haji Ibrahim, pemandu wisata asal Negeri Pahang, kepada saya di Kuala Lumpur beberapa waktu lalu.

Sebagai orang media, saya sangat memahami keluhan-keluhan ini. Bahasa kita memang luwes, bahkan terlalu longgar. Tata bahasa longgar, tata kalimat, tata bunyi, tata singkatan... semua serba longgar. Nyaris tidak beraturan.

Celakanya, ketika singkatan atau akronim itu berlebihan, overdosis, maka mutu bahasa Indonesia ambruk.

“Bahasa Indonesia, cara berbahasa orang Indonesia, memang mencerminkan sikap orangnya yang kurang disiplin. Posisi subjek, predikat, objek... bisa ditukar seenaknya saja,” kritik Pater Stanislav Pikor SVD, pastor asal Polandia, yang tinggal di Surabaya.

Pater Pikor ini poliglot, menguasai banyak bahasa di dunia, termasuk bahasa Indonesia. Pater Pikor dan para misonaris Barat yang banyak bekerja di Flores, saya tahu sendiri, memang sangat tertib berbahasa. Mereka menguasai bahasa secara mendalam, termasuk filosofinya.

Saya periksa beberapa surat kabar dan media internet. Para wartawan memang akhir-akhir ini suka menyingkat nama tokoh. Alih-alih istilah khas kepolisian: curas, curwan, curat, curhat, sisdiknas, raskin, kasiba [kawasan siap bangun], rusunawa, monkasel.... Tiap hari saya menemukan puluhan singkatan frase di surat kabat terbitan Surabaya.

Susilo Bambang Yudhoyono, presiden kita, sejak dulu menjadi korban singkatan. Namanya disingkat SBY. Lalu, pola ini merembet ke nama beberapa pejabat lain. Hidayat Nur Wahid disingkat HNW. Soetrisno Bachir menjadi SB. Akbar Tandjung AT. Megawati Soekarnoputri MS.

Saya pernah membaca berita di media online begini:

“HNW meminta SBY agar berhati-hati me-reshuffle KIB. Hal senada disampaikan SB, ketua DPP PAN, dan TS dari PKS.”

Pahamkah Tuan?

Bagi orang media macam saya, singkatan-singkatan dalam berita itu gampang ‘diraba’. Sebab, dari dulu pendapat orang-orang inilah yang selalu dikutip reporter. HNW maksudnya tentu Hidayat Nur Wahid, ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat. DPP PAN = Dewan Pimpinan Pusat Partai Amanat Nasional. SB = Soetrisno Bachir. TS = Tifatul Sembiring, presiden Partai Keadilan Sejahtera. KIB = Kabinet Indonesia Bersatu.

Tapi, saya bisa bayangkan, betapa sulitnya masyarakat umum memahami nama-nama tokoh yang disingkat tersebut. Nama orang kok disingkat? Itulah watak orang Indonesia, termasuk wartawan, yang rata-rata malas mengetik secara lengkap. Bahasa pesan pendek [SMS] yang sarat singkatan, naga-naganya, akan memperparah tata bahasa baku kita.

Saya sendiri sejak dulu menolak singkatan SBY untuk Presiden SUSILO BAMBANG YUDHOYONO. Sebab, saya tahu cara menulis nama macam ini tidak lazim di media internasional. Media asing, berbahasa Inggris, lazimnya menulis Presiden YUDHOYONO. Majalah PANTAU yang diasuh Andreas Harsono [www.andreasharsono.blogspot.com] menganjurkan media-media di Indonesia untuk menggunakan sistem penulisan nama ala Barat. Menurut Andreas, nama marga atau keluarga dipakai di tubuh berita setelah nama penuh [full name] ditulis lengkap.

Sekali menulis nama lengkap, SUSILO BAMBANG YUDHOYONO, selanjutnya pakai YUDHOYONO saja. Nama-nama etnis yang pakai marga [Batak, Ambon, Flores, Manado, Sulawesi...] cukup sebut marganya. Contoh: MARSILAM SIMANJUNTAK ditulis penuh, selanjutnya SIMANJUNTAK saja. Imbauan majalah PANTAU ini ternyata tidak banyak diikuti. Majalah pemantau media itu malah gulung tikar alias tidak terbit lagi.

Bagaimana dengan nama etnis yang tidak punya marga [Jawa, Betawi, Sunda, Madura...]? Andreas Harsono tetap mengusulkan penggunaan nama belakang. Jadi, seakan-akan orang Jawa itu punya marga. Andreas HARSONO bahkan menjadikan HARSONO sebagai marganya.

Contoh: DIAH AYU WARDHANI.

Dalam tubuh berita, kata Andreas, tulis saja WARDHANI. “Menurut Wardhani, masyarakat makin pusing karena harga bahan pokok di Pasar Wonokromo naik 30 persen.”

Khusus untuk SUSILO BAMBANG YUDHOYONO, presiden Indonesia, saya sejak dulu mengusulkan disingkat SUSILO. Presiden SUSILO. Bukan Presiden SBY. Bukan Presiden YUDHOYONO.

Kenapa? Setelah saya cek di keluarga dekatnya, asal Pacitan, Jawa Timur, sejak kecil Susilo Bambang Yudhoyono biasa disapa SUSILO. Tidak pernah disapa Yudhoyono, apalagi SBY. “Biasanya, ya, disapa Pak Susilo, Mas Susilo,” kata Sutopo, kerabat dekat Susilo Bambang Yudhoyono di Sidoarjo, kepada saya.

Lha, kok tiba-tiba jadi SBY atau Yudhoyono?

“Hehehe... Itu kan karena pemberitaan media massa. Karena media terus-menerus pakai istilah SBY, ya, akhirnya terbiasa. Tidak masalah,” kata Sutopo, enteng.

Saya pun mencermati berita di BERNAMA [kantor berita Malaysia) dan surat kabar Utusan Malaysia. Eh, ternyata orang Malaysia sejak dulu sudah menggunakan istilah PRESIDEN SUSILO, BUKAN Presiden SBY. Lebih sederhana, mudah, sesuai dengan pakem Jawa. Kenapa kita tidak pakai PRESIDEN SUSILO atau Pak SUSILO? Kenapa SBY?

Menurut saya, Pusat Bahasa perlu membuat pedoman penulisan nama-nama orang untuk media massa. Kenapa? Indonesia yang terdiri dari sekian banyak etnis punya tata nama dan tradisi yang berbeda. Lagi pula, di negara-negara berbahasa Inggris pembakuan tata nama ini sudah ada. Tidak kacau-balau macam di sini.

Berikut beberapa variasi nama yang kerap membingungkan redaktur media massa:

Nama orang Jawa, Sunda, dan beberapa etnis lagi. BAMBANG SUGIARTO DANURI: disingkat BAMBANG [lazim] atau SUGIARTO atau DANURI?

Nama Jawa muslim atau Jawa serani. AHMAD BAMBANG YULIANTO: disingkat AHMAD atau BAMBANG atau YULIANTO? YOHANES BAMBANG YULIANTO: disingkat YOHANES atau BAMBANG atau YULIANTO?

Nama berlatar Timur Tengah. IMAM GAZALI disingkat IMAM atau GAZALI. AHMAD ZAMRONI: disingkat AHMAD atau ZAMRONI?

Nama orang Bali. I WAYAN SUARTANA: disingkat WAYAN atau SUARTANA? FRANSISKUS WAYAN SUARTANA bagaimana? Lalu, AHMAD WAYAN SUARTANA?

Nama etnis bermarga [Batak, Flores, Maluku, Papua, Manado...]. IGNATIUS KOPONG PAYONG: disingkat PAYONG, KOPONG, atau IGNATIUS? ROSIANNA MAGDALENA SILALAHI: disingkat ROSIANNA, MAGDALENA, atau SILALAHI?

KESIMPULAN:

Berbahagialah orang Indonesia yang namanya hanya satu kata. Sukarno. Suharto. Susilo. Suprapto. Demong. Ucok. Upit.....

5 comments:

  1. Di sini, orang mesti menggunakan nama keluarga, Mas. Jadi jika cuma punya satu nama, penyebutannya jadi dua kali. Misalnya nama Sukarman, menjadi Sukarman Sukarman.

    Ira

    ReplyDelete
  2. Hurek,

    Saya kira perlu sedikit mengintip Stylebook harian New York Times. Ada sekitar 20an halaman yang memuat aturan internal harian itu soal referensi kedua. Aturannya tak tunggal. Banyak sekali pembicaraan soal berbagai adat, etnik, bangsa, gelar dan sebagainya dalam stylebook tersebut. Kita harus memperhatikan semua kebiasaan dalam masyarakat dimana kita berada.

    Saya tak sekedar menganjurkan kebiasaan Barat (pakai nama marga) karena saya tahu di Pulau Jawa, banyak orang Jawa dan Sunda, yang tak punya nama marga. Ini beda dengan Flores. Kalau saya memakai nama marga saya, ini karena saya orang Tionghoa, yang biasa punya nama keluarga.

    Singkatan pun sebenarnya juga mencerminkan budaya suatu masyarakat. Kita tak bisa mengabaikannya. Nama "SBY" misalnya, mungkin dipakai untuk menciptakan kesan egalitarianisme. Ini lebih egaliter dari "Father Harto" atau "Pak Harto" bukan?

    Coba deh Anda kumpulkan semua kebiasaan referensi kedua di negara ini. Jangan minta Pusat Bahasa yang melakukannya. Benedict Anderson menyebut "polisi bahasa" ala Soeharto ini justru bikin bahasa Melayu kita jadi bahasa zombie!

    ReplyDelete
  3. Bang Hurek .... Horas Bang...

    Masih kenal aku ora ??? Guk Sidoarjo Doelooo... Setya

    Bang, mo minta tau nie ... kalo mo dapet data nama 2 orang yang mo berangkat haji untuk sidoarjo dimana yaaa ???... ato mungkin abang punya....

    Matur nuwun bang...

    Emailku : setyaardhianta@yahoo.co.id

    ReplyDelete