11 April 2007

Misionaris Flores Ditembak di Manila

Sebelum Paskah, saya mendapat informasi bahwa seorang pater asal Flores tewas tertembak di Filipina. Kabar itu sempat dilansir kantor berita asing, kemudian www.detiknewscom.com. Harian Kompas pun memuat sedikit di pojok kiri atas edisi Selasa, 3 April 2007.

Theophilus Bela, ketua umum Forum Komunikasi Kristiani Indonesia, lantas merilis data lebih lengkap. Pastor yang tewas itu bernama Fansiskus Madhu SVD, lahir di Wesolaci, Lengkosambi, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, Flores, 13 Mei 1976. Tahbis di Ngada, sejak 2005 romo muda ini bertugas sebagai misionaris di Paroki Santo Petrus, Lubuangan, Keuskupan Tabuk, Kalinga, Filipina Utara.

Ada apa dengan Pater Madhu? Kenapa harus dibunuh secara tragis? Theophilus tidak menjelaskan secara rinci. Namun, saya membaca dari detiknews.com bahwa imam kongregasi Serikat Sabda Allah [SVD] ini menjadi korban amuknya seorang tak dikenal yang mabuk. Karena gelap mata, meletuslah senjata api. Dorrr!

Pater Madhu tewas.

Saya coba hubungi Konsul Filipina di Surabaya, Carmelito J Sargado, lewat telepon. Dia tidak bisa menjelaskan meskipun sempat mendengar kabar ini. "Kami belum dapat konfirmasi apa-apa dari Filipina," ujarnya.

Lalu, kapan dimakamkan? Apa dibawa ke Indenesia atau tidak? Sagrado mengaku tidak tahu. "Saya belum dapat informasi dari Filipina," papar konsul yang fasih berbahasa Indonesia ini.

Syukurlah, saya kemudian menerima pesan pendek [SMS] dari Pater Maximus SVD di Manila. Bunyinya: "Jenazah dikuburkan di Manila. Misa penguburan Senin 9 April jam tiga sore. Tnx."

Oh, misionaris asal Flores itu akhirnya dimakamkan di Filipina. Setahu saya, para misionaris senantiasa dimakamkan di tempat dia menggembala. Sebab, dia sudah menjadi milik umat setempat. Orang tua, yang sejak awal telah merelakan putra terbaiknya sebagai pastor, hanya bisa berdoa dari jauh. Mati sebagai misionaris jelas bukan kematian yang sia-sia.

Saya tahu begitu banyak misionaris Barat dimakamkan di Flores. Beberapa pastor sepuh, pensiunan, saat ini pun menghabiskan hari tuanya di Jawa Timur.

Imam-imam Societas Verbi Divini [SVD] sejak dulu dikenal sebagai misionaris tangguh. Mereka punya moto: "Dunia adalah paroki kami". SVD senantiasa memilih mencari tantangan dengan merintis gereja-gereja lokal di seluruh dunia.

Sejak akhir 1970-an, lebih-lebih awal 1980-an, pater-pater SVD asal Flores pun dikirim ke berbagai negara. Filipina, Brasil, Botswana, India, Australia, Chili, dan sebagainya. Mereka pergi dengan misi: mewartakan kasih Tuhan ke seluruh dunia.

"Di Filipina ada sekitar 20 pastor asal Flores. Mereka bertugas di berbagai keuskupan," papar Carmelito J Sagrado, konsul Filipina di Surabaya, kepada saya.

Banyaknya pastor asal Flores di Filipina membuat nama Pulau Flores, Nusatenggara Timur, sangat dikenal di negara berpenduduk mayoritas Katolik itu. Orang-orang Filipina heran, kok bisa ya, Indonesia yang negara Islam punya begitu banyak misionaris. Bagaimana cara mencetak misionaris?

Karena itu, Sagrado mengaku secara khusus mengunjungi Flores untuk melihat langsung kehidupan masyarakat, bertemu para pater, melihat pendidikan di seminari, serta berwisata.

"Flores itu ternyata luar biasa," ujar Sagrado. "Mungkin seminari tinggi terbesar di seluruh dunia, ya, di Flores. Filipina saja kalah," ujar diplomat senior itu.

Sagrado bicara tentang Seminari Tinggi Santo Paulus, Ledalero, yang khusus mencetak imam-imam SVD, serta Seminari Tinggi Santo Petrus, Ritapiret, spesialis untuk calon imam-imam praja (Pr). Kedua seminari itu berlokasi di Kabupaten Sikka. Sagrado mengaku selalu menyempatkan diri jalan-jalan ke Pulau Flores kalau ada waktu.

Selamat jalan, Pater Madhu!
Resquescat in pace

No comments:

Post a Comment