02 April 2007

Minoritas Katolik di Madura

Pak Rafael dan Pak Andreas pengurus Stasi Telang, Bangkalan.

Sabtu, 31 Maret 2007. 

Saya mampir ke gereja kecil di samping jalan raya Kamal-Bangkalan, Pulau Madura. Tepatnya daerah Telang. Ada dua pria setengah baya di kompleks gereja itu. Saya pun memperkenalkan diri. Akhirnya, saya tahu kedua pria ini Rafael Sugiyo (68 tahun) dan Andreas Slamet (65 tahun).

"Koster di sini atau bersih-bersih gereja untuk persiapan Paskah?" saya bertanya.

"Dari dulu saya sama Pak Andreas yang mengurus gereja ini. Semuanya dirangkap. Tukang kebun, tukang sapu, betulkan atap, pangkas rumput, ngurus naskah misa... pokoknya serabutan," ujar Rafael, pensiunan pegawai PT Kereta Api.

"Gereja Stasi Telang ini kan sedikit orangnya. Jadi, apa-apa kami ngurus sendiri. Kebetulan hari ini ada beberapa bagian yang mau dibenahi," ujar Andreas Slamet, yang pakai kopiah mirip pak haji.

Gereja Stasi Telang, Bangkalan.

"Oh ya, besok kan Minggu Palem. Apa ada misa di stasi ini?"

Kedua pria yang sangat ramah ini bilang tidak ada misa. Sebab, seluruh umat Paroki Bangkalan untuk pekan suci ini mengikuti misa bersama-sama di pusat paroki, Bangkalan. Adapun misa di Stasi Telang [nama resminya Gereja Santa Maria Immaculata] hanya minggu pertama dan ketiga pada pukul 09.00 WIB.

Karena pekan suci, Paskah, sangat penting bagi umat Katolik, dan liturginya cukup kompleks, misa digelar di pusat paroki. "Sekaligus untuk membangun kebersamaan. Biar semua umat paroki bisa kumpul," ujar Rafel menirukan ucapan Romo Elly OCarm, kepala Paroki Bangkalan.

Menurut Andreas Slamet, Gereja Stasi Telang mulai beroperasi sejak 5 Oktober 1986. Pada awal rintisan kawasan itu sangat sunyi, jauh dari keramaian. Tetanaman liar tumbuh di mana-mana. Jalan raya yang menghubungan kawasan Kamal dengan Bangkalan, serta kota-kota lain di Madura tidak semulus sekarang.
"Wis ta, pokoke waktu itu benar-benar sunyi. Nggak kayak sekarang," ujar Rafel seraya menyilakan saya minum air mineral serta makan kue di kotak putih.

Madura, pulau garam di Jawa Timur, ini dikenal sangat islami. Boleh dikata, 99,99 persen penduduknya beragama Islam. Istimewanya lagi, kaum muslim di Madura semuanya praktis santri-santri yang tekun. "Golongan hijau tua. Sangat tua," begitu istilah teman-teman mahasiswa asal Flores dulu.

Jangan heran, di sepanjang jalan raya di Madura kita menjumpai begitu banyak tulisan-tulisan Arab serta seruan agar umat Islam menjaga akidah dan menjalankan syariat.

Nah, di tengah-tengah masyarakat muslim macam itulah, Gereja Stasi Telang, Kabupaten Bangkalan, ini hidup. "Bagaimana ceritanya kok gereja bisa berdiri di tanah yang cukup luas? Apa tidak sulit mendapat izin?" saya mencoba memancing.

Maklum, di mana-mana muncul banyak keluhan dari umat kristiani, khususnya Protestan dan Pentakosta, tentang sulitnya beroleh izin bikin gereja. Bisa sampai 10 tahun, 20 tahun... bahkan sampai batas waktu yang tidak pernah ditentukan.

Rafel dan Andreas, sahabat baru saya ini, tertawa kecil mendengar pertanyaan pancingan saya. "Oh, di sini tidak ada masalah. Mulus-mulus saja," kata Rafael. "Di sini hubungan kami dengan masyarakat dan pemerintah sangat baik. Jadi, soal izin membangun gereja itu tidak masalah," Andreas, yang punya lima anak dan enam cucu, ini menambahkan.

Saya terkejut, sekaligus kagum, mendengar cerita kedua tokoh Katolik di Kecamatan Kamal ini. Sebab, ternyata camat setempat [pada 1970-an] yang meminta Andreas, Rafael, dan umat Katolik untuk bikin gereja di Telang. Rupanya, pejabat setempat 'kasihan' melihat umat Katolik yang terpaksa menggelar kebaktian atau misa dari rumah ke rumah atau jauh di Bangkalan. Pejabat setempat merasa bahwa umat Katolik, meski sangat sedikit, butuh tempat ibadah yang layak.

Lalu, disediakanlah lahan strategis di pinggir jalan, di tengah sawah. Menurut Andreas, hubungan baik antara umat Katolik dan warga setempat serta pemerintah ikut mendorong dibangunnya gereja Katolik di Telang. Izin turun dan pembangunan gereja sederhana [kelewat sederhana, malah] berlangsung cepat sekali. "Puji Tuhan, tidak terasa usianya sudah hampir 30 tahun," kata Andreas.

"Sekarang kami hanya tinggal merawat saja. Bagaimanapun juga gereja itu rumah Tuhan sehingga harus bersih, rapi, dan nyaman dipakai umat," ujar Rafael, ayah 10 anak ini.

Per Maret 2007 jumlah jemaat di Gereja Katolik Telang mencapai 17 keluarga. Mereka berasal dari Jawa, Flores, Sumatera, serta Tionghoa. "Kalau orang Madura asli sih nggak ada. Hehehe," kata Andreas Slamet.

Selain misa rutin, warga Katolik di Telang serta Kecamatan Kamal umumnya menggelar doa lingkungan, doa wilayah, latihan paduan suara, serta doa-doa ujud khusus dari rumah ke rumah. Karena jemaatnya sangat sedikit, hubungan mereka sangat akrab. Saking akrabnya, umat di Telang ini hafal semua jemaat gereja, latar belakang pekerjaan, hingga anak istri, hingga cucu.

Saya terkesan sekali. Kenapa? Di Surabaya, misalnya, jangankan mengenal sesama jemaat, berkomunikasi dengan sesama umat beriman yang duduk bersebelahan di dalam gereja saja sulit. Gereja di kota-kota besar sudah mirip bioskop. Umat begitu banyak, datang pakai mobil, kaya, tapi komunikasi antarjemaat nyaris nol besar.

Gereja Katolik Pamekasan.

Minggu, 1 April 2007. 

Pagi-pagi saya merasa perlu ikut misa di Gereja Katolik Pamekasan. Bukankah hari ini Minggu Palma? Persiapan memasuki pekan suci yang senantiasa memberi kesan mendalam bagi saya dan orang-orang kampung Flores umumnya.

Aha, ternyata pastor yang memimpin misa orang Flores macam saya. Namanya Romo Laurentius Toda OCarm, baru bertugas sekitar delapan bulan di Pamekasan. Gereja Katolik berada di kawasan alun-alun, satu kompleks dengan masjid agung serta sejumlah bangunan penting.

Memang, sejak zaman Belanda bangunan gereja umumnya diposisikan di kawasan stretagis. Di Surabaya, Jakarta, Malang, Pasuruan... serta kota-kota tua lainnya, gereja selalu dibangun di tengah-tengah kota. Jadi semacam tetenger atau bench mark of the city. Beda sekali dengan Gereja Stasi Telang yang sepi sendiri, bersama Gereja Kristen Jawi Wetan, di tengah-tengah sawah.

Namanya juga Minggu Palem [Palma], semua umat memegang daun palma yang sudah direciki air suci oleh Romo Laurentius. Saya kebagian daun palem yang kecil dan paling buruk. Stok habis, sehingga saya terpaksa membawa pulang daun itu untuk dipasang di atas salib, di kamar saya.

Beda dengan di Surabaya, Malang, Jember, kemeriahan misa Palma sama sekali tak terasa di Pamekasan. Persis misa biasa plus membawa daun palma. Paduan suara pun ala kadarnya. Gerak tangan dirigen, musik pengiring, dan kor sering tidak sejalan. Maklumlah, kota kecil di Pulau Madura. Saya berusaha konsentrasi, tak ingin terlalu banyak menilai.

Romo Laurentius cenderung membaca teks cepat-cepat. Tiga petugas pasio (kisah sengsara), khususnya narator, pun membaca teks cepat-cepat. Efek drama, karena itu, sama sekali tidak muncul. Datar-datar saja. Padahal, kalau mau afdal, pasio Minggu Palma harus dibawakan dengan lagu layaknya pasio Jumat Agung.
Umat harus dibawa menghayati kisah sengsara Yesus Kristus.

"Lha, kalau membacanya seperti ini, ya, mendingan kita baca sendiri-sendiri dalam hati saja," saya membatin.

Usai misa, saya bertemu dengan Antonius Stefanus Suharto Atmaja. Orang Madura Tionghoa ini ketua Dewan Paroki Santa Maria Ratu Para Rasul, Pamekasan. "Kayaknya romonya masih sibuk," ujar Suharto seraya tersenyum. Saya menceritakan kenapa saya misa di Pamekasan, lalu memberikan kartu nama saya. Pak Harto cukup antusias menjawab pertanyaan saya.

Paroki yang berusia hampir 60 tahun ini punya 600-700 jemaat. Ada Tionghoa, Jawa, Flores, Sumatera, Sulawesi, Papua, dan beberapa etnis lagi. "Gereja Pamekasan ini cukup bagus. Arsitekturnya cukup unik," saya memuji dengan tulus.

"Memang sudah bagus, cuma kurang luas. Kalau ada perayaan ekaristi Paskah atau Natal, kita yang susah," kata Suharto.

Seperti di Keuskupan Malang umumnya, aktivitas menggereja di Pamekasan [Madura umumnya] sangat tinggi. Kesadaran berliturgi umat sangat bagus. Saya melihat hari itu, misalnya, delapan pelajar SD/SMP tampil sebagai misdinar misa Minggu Palem. Enam di antaranya perempuan. Anggota kor pun banyak, pakai seragam putih hitam.

Dirigen semangat. Organis lumayan bagus. Umat menyanyi dengan semangat. Lain dengan di Surabaya, banyak umat membisu saja sepanjang perayaan ekaristi.

AS Suharto Atmaja menjelaskan, di Pamekasan ada sekolah Katolik mulai taman kanak-kanak hingga SMP. Selepas SMP, para siswa melanjutkan studi ke Surabaya atau SMA negeri [sangat sedikit]. Dus, anak-anak muda Katolik Pamekasan hampir semuanya meninggalkan kampung halaman. Lulus, cari kerja atau berkarier di luar Pamekasan. Mereka hanya pulang berlibur atau sekadar lepas kangen dengan orang tua. Tradisi ini sudah belangsung sejak dulu.

"Makanya, gereja tidak bisa berkembang dengan baik di Madura," ujar Suharto.

Saya jadi ingat Jember, juga masuk Keuskupan Malang. Gereja Katolik di Jember sangat dinamis, hidup, diperkuat sekian banyak mahasiswa. Ini karena Jember punya universitas negeri dan swasta, tempat studi anak-anak muda dari seluruh Indonesia. Di Pamekasan kondisinya terbalik: anak-anak muda keluar kota, tinggallah orang tua yang kesepian.

Suharto tak ingat persis sejak kapan ada orang Katolik yang mulai menetap di Pamekasan. Tapi, bisa dipastikan, sejak zaman Belanda sudah ada penganut Katolik yang tinggal dan bekerja di sana. Orang Belanda yang kebetulan Katolik mungkin saja ada, dan bikin gereja kecil-kecilan. Lalu, berkembang menjadi gereja cukup besar di kompleks alun-alun. "Yang saya ingat, usia paroki ini mau masuk 60 tahun. Cukup tua lah," kata Suharto.

Gereja yang sekarang telah mengalami beberapa kali renovasi. Terakhir pada 21 April 1992 berdasar Izin Mendirikan Bangunan Nomor 121/1992. Seperti di Bangkalan, hubungan umat Katolik dengan kaum muslimin serta pejabat setempat sangat bagus. "Kita selalu dilibatkan, diajak diskusi," ujar Suharto.

Saya melihat umat Katolik di Pamekasan sangat guyub. Usai berkat penutup, umat tidak buru-buru pulang. Beda dengan di Surabaya atau Jakarta. Mereka bersalaman, bercakap-cakap. Wajah mereka sangat gembira.

Romo Laurentius pun berdiri di pintu gereja lalu menyalami umat satu per satu. Rupanya, dia gembala yang ingin mengenal domba-dombanya satu per satu.

23 comments:

  1. Kebersamaan, saling menghormati, hidup damai, itu indah sekali.

    ReplyDelete
  2. senang ada keguyuban kayak di madura. yg begitu itu yg kita perlukan. saling respek, saling menghargai. salut untuk liputan anda.

    alfons,
    jakarta

    ReplyDelete
  3. di mana2 minoritas selalu ada. yg penting bgm bisa menempatkan diri.

    ReplyDelete
  4. Gus Koko, Alfons, dan anonim: terima kasih atas respons anda. Salam.

    ReplyDelete
  5. Mari bersatu dalam iman tanpa memandang siapa kita di mata manusia, tapi siapa kita di mata Tuhan. www.databaseumatkatolik.blogspot.com , Jesus Bless Us All

    ReplyDelete
  6. Last week my daughter, came back from her Sunday school and ask my wife, a native Surabayanese, on whether there’s a Catholic Church on the island of Madura or not. My wife promptly answered her confidently that there are no Catholic Church on the island of Madura, later I agreed her answer when my daughter asked me the same question.
    Haa.. now that I know the truth, I couldn’t wait to tell my wife the story when she wakes up tomorrow morning. Praise the Lord!

    Baso Natawiria

    ReplyDelete
  7. Versi bahasa Inggris silakan baca di www.indonesiamatters.com/1290/catholic-churches/

    ReplyDelete
  8. http://www.imankatolik.or.id/kal_tgl_img.php

    http://www.imankatolik.or.id/kal_perayaan_img.php

    bisa share kalender liturgi harian, bisa kunjungi kami di http://www.imankatolik.or.id/share_kalender_code_WP.html

    ReplyDelete
  9. SOLUSI SEHAT BERSAMA Bp. Petrus Harry Purnomo SH.MSC

    ReplyDelete
  10. luar biasa...Puji Tuhan

    ReplyDelete
  11. di kota besar gereja2 memang byk tapi hubungan di antara jemaat kurang dekat. org sibuk sendiri2, gak sempat akrab satu sama lain. makanya, org suka cepat2 keluar begitu selesai kebaktian.

    ReplyDelete
  12. di mana2 minoritas cenderung lebih kompak dan rajin.

    salam damai

    thomy di malang

    ReplyDelete
  13. Salam Damai,

    Profisiat buat Mas Lambertus,tulisannya bagus banget,sekalian ijin numpang info bagi saudara-saudara yang ingin bersama-sama mengkaji dan mepelajari Mistery penyembuhan Illahi seperti yang telah diajarkan oleh Sang Kristus,silahkan mampir di www.kolamsiloam.com atau blog.kolamsiloam.com

    Tuhan Yesus Memberkati

    ReplyDelete
  14. Yustinus A. Yudianto2:00 PM, May 26, 2010

    Wah baru tahu ada komunitas Katolik juga di Madura. Semoga Anda tetap mengupdate berita2 dari komunitas terpencil.
    tukeran link yukkk..

    ReplyDelete
  15. Reportasenya manis tapi saya masih penasaran dengan cerita seberapa guyup toleransi umat katolik dan umat islam di madura. Saya pikir stereotipe jelek tentang orang madura harusnya segera pudar jika kita membaca tulisan anda, proficiat, selamat mencerahkan..........

    ReplyDelete
  16. apakah di sampang dan sumenep juga ada gereja/stasi katolik?

    ReplyDelete
  17. Tetap Semangat. Yesus Beserta kita Selalu. Amin

    ReplyDelete
  18. tulisan ini sudah ditulis 4 tahun yang lalu, dan saya baru membacanya sekrang. tahun 2011! saya sangat senang membacanya. apakah ada tulisan-tulisan lain tentang gereja dan kehidupan umat Kristen di Madura?

    shidiq987@yahoo.com

    ReplyDelete
  19. salam......... kunjungi blog kami ya http://mudamudikatedralmakassar.blogspot.com/

    ReplyDelete
  20. pengeen bgt kesanaa...Saya mau bawa rombongan ziarah ke Madura sklian belanja batik Madura di pasar ki Lemah Dhuwur..hehee..Semoga terlaksana, amiin !

    ReplyDelete
    Replies
    1. Barusan saya kunjung ke Sumenep .. Kesan2 saya sangat menakjubkan tentang Madura, baik orang nya maupun budaya nya.. Mudah2an saya bisa kembali bulan depan dan mampir k gereja Katolik sana.

      Delete
  21. Mas.. ijin mengkoreksi. Paroki Jember adalah dibawah naungan keuskupan malang. Bukan keuskupan surabaya. Terima kasih. Salam dr OMK paroki Santo Yusuf Jember. Berkah dalem.

    ReplyDelete
  22. Mas.. ijin mengkoreksi. Paroki Jember adalah dibawah naungan keuskupan malang. Bukan keuskupan surabaya. Terima kasih. Salam dr OMK paroki Santo Yusuf Jember. Berkah dalem.

    ReplyDelete