29 April 2007

Mana Penyanyi Maluku?



Foto Bung Harvey bersama fansnya ini beta jepret di Hotel Garden Palace Surabaya sehabis wawancara singkat.


Beta lagi dengar HARVEY MALAIHOLLO menyanyi saat bikin catatan ini. Lagunya WANITA karya Ismail Marzuki, dulu biasa dipakai untuk lomba bintang radio dan televisi. Lalu SEANDAINYA SELALU SATU, lagu jawara festival internasional di Jepang, 1986.

Wow, beta senang betul suara Nyong Ambon yang satu ini. Suara bersih, jantan, teknik vokal tinggi... pokoknya seng ada lawan! Bung Harvey, teruslah menyanyi!

Sejak dulu beta yang orang Flores Timur suka betul dengan suara orang-orang Ambon. Rata-rata agak tebal, ada vibrasi, pernafasan bagus, oke punya. Orang-orang Maluku itu dikarunia talenta nyanyi sejak lahir. Tak usah latihan, ikut kursus, belajar teori musik, dorang so bisa menyanyi. Beta rasa, ungkapan ini berlebihan, tapi bisa dipahami.

Dulu, ketika beta masih kecil, lagu-lagu Ambon selalu diputar di kampung. Orang dansa pakai lagu Ambon. Bersiul melodi Ambon. Sampai berkemah pun menyannyi lagu Ambon. NAIK-NAIK KE PUNCAK GUNUNG. OLEH SIO. WAKTU HUJAN SORE-SORE. SUDAH BERLAYAR JAUH. MANDE-MANDE. Beta juga kalau melatih paduan suara untuk lomba selalu ‘mengutamakan’ lagu-lagu daerah Maluku macam GORO-GORONE, GEPE-GEPE, BURUNG KAKATUA....

Oh ya, pemusik liturgi di Flores pun ‘meminjam’ melodi SAYANG DILALE untuk bikin lagu komuni di Gereja Katolik. Liriknya antara lain begini: BUKANLAH ROTI ANGGUR YANG MEMBAWA DAMAI MELAINKAN SABDA...

Wah, lagu ini kalau dinyanyikan anak-anak Seminari Hokeng.. luar biasa. Melodinya membuai macam alunan gelombang di Laut Banda saja. Orang Ende, Flores tengah, juga sangat senang lagu ini. Tiap kali misa di gereja, teman-teman mahasiswa Flores ‘memaksa’ dirigen untuk menggunakan lagu liturgi inkulturasi ini.

Selain Bung Harvey, beta rindu dengar suara-suara nyom Ambon macam Ade Manuhutu, Broery Marantika, Melky Goeslaw, Enteng Tanamal... dan seabrek nama lainnya. Juga trio legendaris Lex’s Trio. Meminjam istilah Frans Sartono dari harian KOMPAS, cara orang-orang Ambon menyanyi mengingatkan beta pada istilah ‘seni suara’. Menyanyi itu, ya, seni suara. Ada keindahan, teknik, talenta, dan sebagainya.

Setelah era industri, tahun 2000 ke atas, dunia rekaman kita berkembang menjadi industri yang luar biasa. Menyanyi bukan lagi seni suara, tapi seni menjual kaset/CD/VCD sebanyak-banyaknya. Urusan suara nomor sekian, yang penting dikemas dengan teknik marketing canggih agar laku sebanyak-banyaknya.

Tubuh penyanyi disulap habis-habisan agar sesuai dengan tuntutan industri. Wajah cantik, tapi palsu. Rabut dicat. Mata dibirukan. Cengar-cengir di panggung. Pemilihan berhala-berhala pop/dangdut pakai SMS. Suara buruk tak apa-apa, yang penting dukungan SMS mengalir deras.

Maka, pernah terjadi anak abang becak yang tidak bisa menyanyi terpilih sebagai ‘penyanyi terbaik’ AFI. Kini, si Veri AFI sudah hilang ditelan angin karena memang sejak awal dia bukan penyanyi.

Setiap kali melihat pemilihan berhala-berhala pop, perut beta mulas. Beta kadang tertawa sendiri melihat cara menyanyi anak-anak muda yang dibuat-buat. Melodi dirusak habis dengan alasan improvisasi atau ornamentasi. Padahal, penyanyi-penyanyi hitam di Amerika sana menyanyi dengan cara wajar. Kalaupun suaranya ‘keriting’, itu semata karena penghayatan. Beta punya banyak koleksi penyanyi jazz/blues Amerika sehingga tahu betul perbedaan improvisasi dan suara yang dibuat-buat.

Sekarang ini ke mana penyanyi-penyanyi Ambon? Beta jarang melihat ada bakat baru yang muncul ke permukaan. Yang laku di Indonesia justru band-band atau penyanyi-penyanyi yang mengabaikan seni suara. Anehnya, kaset/CD/VCD mereka laku keras hingga jutaan kopi. Mau contoh?

PETERPAN. Penyanyinya, Ariel, nyanyi pakai suara hidung atau nasal. Teknik begini jelas-jelas melawan pakem seni suara. Vokalnya juga jelas. Buruk sekali. Kok bisa laku keras? Disukai anak-anak muda Indonesia? Beta bingung.

PADI. Fadly, vokalisnya, juga nyanyi pakai suara hidung, tidak karuan. Kalau nada-nada tinggi Fadly tidak punya kemampuan tekniknis untuk mengatasi. Suara nasal Fadly mirip orang yang punya polip di hidung. Kok bisa laku? Beta bingung.

DEWA. Sama saja. Penyanyinya, Once, juga menyanyi dengan suara aneh. Melawan teknik vokal. Teman beta bilang, suara Once mirip burung kakatua. Beta bingung, band ini laku keras.

Karena band-band laris pakai suara hidung, sekarang ini band-band baru pun menyanyi dengan cara yang sama. Cara hidung. Teknik vokal dasar macam pernapasan, frasering, vokalisasi, resonansi, vibrasi, ekspresi... sulit kita temukan. Maka, benar kata harian KOMPAS (29/4/2007), kita sebenarnya masih sangat membutuhkan penyanyi-penyanyi yang tahu SENI SUARA.

Kalau sekadar laris thok, ya, buat apa?

Wahai orang-orang Ambon yang bersuara merdu, bakat alam... ke manakah kalian? Beta rindu dengar suara kalian. Beta juga yakin Indonesia yang selalu resah, kacau, prihatin... ini perlu suara-suara indah dari orang Maluku.

Di industri musik sekarang ada nama Glenn Fredly, keturunan Ambon. Tapi beta kurang suka suara Glenn karena kurang jantan layaknya suara orang-orang Maluku. Glenn nyanyi macam perempuan saja. Glenn juga pakai suara hidung. Lucu sekali!

Oh ya, beta selalu terharu saat mendengar atau memainkan lagu ini:

BETA BELUM BALAS MAMA
MAMA PU CAPEK SIOH DULU E
....
SIOH TETE MANISE
JAGA BETA PU MAMA E

17 comments:

  1. Salut untuk Bung... memang sekarang ini susah sekali untuk dapat dengar suara penyanyi bagus... kalau kita lihat Indonesian Idol rasa Hati Panas karena liat dorang yang punya wajah lebih diutamakan dari yang punya suara kualitas bagus... Rasa kasihan juga dikedepankan contoh lainya itu si juara Idol 3... benar2 hanya tontonan yang tidak berkualitas... Sampai saat ini beta masih salut untuk penyanyi2 Maluku yang masih exist seperti Harvey dan Glenn... mudah2an di taon2 berikut kita bisa liat Penyanyi2 Maluku atau dari Timur kembali menunjukkan kualitas suaranya... Sekali lagi Salut

    ReplyDelete
  2. Terima kasih Bung Lambertus untuk ulasan yang menarik ini. Beta jadi ingat sama si Kia, finalis AFI 1 yang tidak lolos masuk Grand Final AFI karena kalah dalam perolehan sms bukan karena kualitas vokal. Jelas-jelas dia (Kia) penyanyi terbaik dalam AFI waktu itu. Sekarang ini penyanyi muda Indonesia yang beta anggap cukup bagus adalah Rio Febrian (juara Asia Bagus) dan Mike Mohede (juara Indonesian Idol)mereka mengawali karier tarik vokalnya dengan ngamen di cafe-cafe di Jakarta sebelum ikut kontes nyanyi.
    Benar kata Simon Cowell, juri American Idol waktu dia bilang,
    "This is not a singing contest, this is a popularity contest"

    Touche...

    ReplyDelete
  3. hei tukang hakim seenaknya saja menilai karya orang lain, kita tuh berkarya sama-sama, maju sama-sama dan dengan prinsip kita sendiri-sendiri kita gak bisa berdebat diatas prinsip bung, hargai dunx hasil karya orang lain, Kalo kita suruh orang lain nyanyi kaya orang maluku semua itu namanya kita paksaiin semua umat indonesia ini nyanyi satu aliran musik atau ibaratnya kita paksa orang lain makan makanan kesukaan kita yang belum tentu disukai orang itu. Renungkan bung,diatas manusia masih ada manusia (jangan sombong)

    ReplyDelete
  4. hehe.. musik pop itu soal selera dan pasar. apa saja dijual pokoknya laku. nggak pake pertimbangan seni suara dan sebagainya.

    salam kenal.

    ReplyDelete
  5. Saya takut jangan-jangan kita larut dalam euforia dan melupakan kenyataan bahwa ada perkembangan yang terjadi terus-menerus. Siapa yang sanggup mengikuti perkembangan zaman, dialah yang akan mendapat tempat dalam sejarah zaman itu. Orang Maluku (yang Kristen umumnya) memang harus bersuara indah karena kegiatan-kegiatan di Gereja sejak masih anak-anak sampai orang tua, bernyanyi adalah salah satu hal pokok. Kembali lagi kepada perkembangan, teknik bernyanyi sebenarnya itu-itu saja, tetapi teknologi pendukung itu yang patut dipertimbangkan. Sebagai Orang Maluku, saya akui bahwa di Ambon dan Maluku umumnya, teknologi pendukung kalah jauh dengan yang ada di Jawa. Semua orang Maluku yang ingin terkenal harus ke Jawa. Mungkinkah ada gagasan Rekonstruksi Kesenian?... Boleh-boleh saja sih, tetapi apa pendukungnya...? Jadi, siapa yang kuasai teknologi pendukung mutakhir di bidang seni, dialah yang bisa terkenal. Walaupun demikian, orang Maluku tetap akan bernyanyi dan bernyanyi sampai kami tidak bisa bernyanyi lagi karena bernyanyi adalah hidup dan identitas kami.
    Bravo bung

    ReplyDelete
  6. Terima kasih atas komentar teman-teman. Ini bagus untuk memperkaya wawasan kita bersama.

    Namanya juga blog, ibarat ngobrol di kamar sendiri, ya, saya tulis apa adanya gagasan saya. Bahwa kemudian ada kawan yang marah karena penyanyi ata band idolanya tersentil, ya, maaf lahir dan batin. Itu soal selera lah. Subjektif sekali memang.

    Bung Jusuf Nikolas, musik pop memang musik niaga mengabdi 100 persen pada pasar, tren mutakhir. Teknologi musik, sistem recording, marketing, kemasan, etc harus disesuaikan dengan tuntutan pasar. Kenapa band-band itu terkenal, sementara yang lain tidak, ya, kembali lagi ke pasar.

    Barangkali teman-teman penyanyi Maluku kurang bisa mengikuti irama industri [pasar] musik pop yang melaju demikian pesat, dengan cita rasa, selera, dan segala yang serba baru. Kalau saya ungkit penyanyi masa lalu, ya, anggaplah sebagai referensi bahwa pada suatu ketika orang-orang Maluku pernah mewarnai musik pop Indonesia.

    Salam sejahtera untuk semua!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurut saya ini berkaitan langsung dengan perkembangan kondisi bangsa indonesia saat ini. Dimana kehidupan berjalan kacau balau, diluar jalur kehidupan yang normal sehingga semakin mempengaruhi perkembangan jiwa masyarakat, akibatnya yang berkembang selaras dengan emosional yang berkembang di masyarakat indonesia. Kalau dulu orang sekolah Akademi Pemerintahan Dalam Negeri dengan tujuan kelak akan menjadi Camat, Bupati, Walikota, dsbnya. Namun kenyataannya saat ini yakni tukang garong bisa jadi walikota, tukang sayur bisa jadi walikota, preman bisa jadi walikota. Ijasa tinggal beli, semua orang menggunakan segala cara. Maka dengan ini perkembangan nyanyi pun berkembang sesuai kondisi jiwa bangsa saat ini. Saat ini orang tidak punya waktu untuk menikmati musik atau lagu yang baik. Yang penting kedengaran lagu bunyi. Soal jelek/bagus tidak bisa dinilai lagi. Bagaimana orang yang sedang mabuk bisa menilai musik bagus?.
      Melihat kondisi negara saat ini, saya himbau kepada penyanyi-penyanyi Ambon agar kembangkan kariernya di lagu-lagu rohani kristen yang memang membutuhkan suara yang bagus dengan penjiwaan yang dalam Kepada Tuhan Yesus Kristus.
      Untuk yang ingin mengembangkan karier di lagu pop, saya himbau agar pergi luar negeri (Australia, Belanda, dan Amerika) kembangkan karier anda disana. Dan bisa pulang ke Indonesia setelah negara ini teratur aman dan masyarakatnya hidup tenang.
      Kondisi saat ini semua orang sedang mabuk kepayang. Orang mabuk tidak bisa membedakan musik bagus dan jelek, mereka dengar bebek ribut dianggap bagus, melihat cewek jelek dianggap cantik, diberi racun dianggap coklat. Kehidupan bangsa sedang berjalan dengan tidak sebagaimana mestinya.
      Sekilan pandangan saya.

      Delete
  7. bung, memang soal musik itu katong su bicara dalam sistem yang sangat luas. Band-band juga ada yang bagus. Tapi kalo masyarakat suka sama band-band yang nggak karuan yang bung sebutkan itu, memang karena masyarakat kita memang sudah nggak karuan. Beta malas bicara soal Indonesian Idol, karena tdk punya kualitas setelah Joy Tobing. Sekarang hanya jadi ajang kapitalisme tanpa batas. Komentar asal-asalan bikin beta muak. tapi, itulah musik kan? soal selera nomor 1. Pakem? nant dulu! Beta tuh paleng suka Rio Febrian karena suaranya cool and laki-laki banget. Trus, lagu2nya bermutu n gak murahan. Beta orang Ambon dan suka nyanyi, jadi penyanyi daerah saja. hehehe.. beta kemaren ikut Bintang Radio Nasional 2007 di Sby n mak Grandfinal dapat juara3. Soal kualitas, mungkin BRTV yang paling menjanjikan, cuma masalah manajemen yang perlu diperbaharui... thx bung sudah bisa numpang lewat... SETUJU!!!!
    (www.falantinoeryk.blogspot.com)

    ReplyDelete
  8. Hi kak Lambertus !!! Nama saya Raihan kadmaer.. beta anak ambon n oya kak komentar kakak tentang musik khususnya di indonesia memang benar... saat ini suara biar kayak kaleng pecah asalkan muka keren tetap di pake di negara kita... apa kata dunia kalo mereka tau beginikah indonesia itu.. n kakak bakal lihat penyanyi asal indonesia timur di tahun ini bakal bermunculan dan menggeser popularitas band-band seperti ungu,peterpan apalagi changchutters. salut buat penyanyi Indonesia timur

    ReplyDelete
  9. Ketika The Beatless lom ada, udah ada :

    THE TIMOR RHYTHM BROTHERS –THE FOUR TIELMAN BROTHER

    http://indorock.pmouse.nl/tielmanbrothers1.htm

    ReplyDelete
  10. Kak Lambertus, industri musik Indonesia saat ini mmg sngat merosot... tidak ada penyanyi yang kompetn di bidangnya. Penyanyi wanita Indonesia yang benar2 mampu bersaing di Internasional ad/ JOY TOBING n Anggun... U/ malenya kykx Marcell deh n MIKE MOHEDE.....
    band yang ada skrang hanya jual tampang, tidak ada teknikx sama skali dlm brnyanyi...
    Saya yakin klw JOY TOBING mendapat ksmpatan Rekaman diluar negeri dengan Mayor Sony BMG... CD nya pasti bakal laku abis...
    Betapa bodohnya Label di Indonesia yang melepas JOY tobing....
    Pastinya labelnya yang akn merugi...

    ReplyDelete
  11. JOy tobing the best singer in indonesia

    ReplyDelete
  12. banyak terdapat penyanyi ygberbakat dari daerah indonesia timur,,,,hanya saja akses buat menjadi terkenal ato pun mengikuti kontes2 laennya sangat susah,,,kalu saja terdapat jalan yg bisa menyalurkan bakat yg terpendam dari daerah indonesia timur

    ReplyDelete
  13. hlo kak Lambertus....nama saya enjel lefteuw...saya jg orang Ambon, bernyanyi sd menjadi bagian dari hidup kami, di Ambon/Maluku pada umumnya hampir semua orang bisa bernyayi dengan baik. Tetapi untuk menjadi seorang penyanyi (artist) butuh dukungan yang sangat besar, itu jg tdk cukup klo dengan alat musik yang seadanya. Jjr di jaman sekarang yang serba berteknologi canggih ini suara bukanlah menjadi faktor utama, orang yang bersuara jelekpun bisa dibuat bagus. Kt tdk bisa samakan dengan orang barat yang mengandalkan teknik vokal sebagai nilai jual, asal punya tampang artis (alias keren) alat band lengkap....mimpi dapat terwujut....sy tidak bilang klo band indonesia jelek, sy jg suka dengan beberapa grp band indonesia apalagi krispatih....muda2han kedepannya muncul penyanyi dan band2 baru yang lebih baik...intinya "roda sll berputar" kita ikut perkembangan saja...Bung Jusuf Nikolas Anamofa sy salut sama kata2 kamu...Orang Maluku tetap akan bernyanyi dan bernyanyi sampai kami tidak bisa bernyanyi lagi karena bernyanyi adalah hidup dan identitas kami.
    Bravo bung

    ReplyDelete
  14. bung..... batul samua yang ale tulis...

    beta berharap akan ada yang baru .... vor indonesia

    ReplyDelete
  15. Menurut saya ini berkaitan langsung dengan perkembangan kondisi bangsa indonesia saat ini. Dimana kehidupan berjalan kacau balau, diluar jalur kehidupan yang normal sehingga semakin mempengaruhi perkembangan jiwa masyarakat, akibatnya yang berkembang selaras dengan emosional yang berkembang di masyarakat indonesia.

    Kalau dulu orang sekolah Akademi Pemerintahan Dalam Negeri dengan tujuan kelak akan menjadi Camat, Bupati, Walikota, dsbnya. Namun kenyataannya saat ini yakni tukang garong bisa jadi walikota, tukang sayur bisa jadi walikota, preman bisa jadi walikota.

    Ijasa tinggal beli, semua orang menggunakan segala cara. Maka dengan ini perkembangan nyanyi pun berkembang sesuai kondisi jiwa bangsa saat ini.

    Saat ini orang tidak punya waktu untuk menikmati musik atau lagu yang baik. Yang penting kedengaran lagu bunyi. Soal jelek/bagus tidak bisa dinilai lagi. Bagaimana orang yang sedang mabuk bisa menilai musik bagus?.

    ReplyDelete
  16. Cuma mau tanya aja, saya punya koleksi lagu rohani, beberapa penyanyi ambon, koq saya nggak suka ya....suara seperti dibuat-buat. Seperti 'orang bule' belajar bahasa Indonesia. Ejaan ..T.. nggak jelas gitu seperti bunyi ..tthh..Kata Allah, dinyanyikan/diucap dengan jarak antar suku kata yang panjang ...All....lah..Kata "ku" menjadi "Qyu". Seperti Brury menyanyi dulu. Suaranya sih sangat bagus, cuma saya merasa tidak natural. Mungkin saya salah, atau pendengaran saya kurang baik. Maaf..!

    ReplyDelete