20 April 2007

Mama Nafsiah Mboi




Baru-baru ini NAFSIAH MBOI PhD datang ke Surabaya. Sebagai sekretaris Komisi Nasional Penanggulangan AIDS, istri ALOYSIUS BENEDIKTUS MBOI [akrab disapa BEN MBOI] ini bicara panjang lebar tentang HIV/AIDS. Juga memperkenalkan kondom perempuan. Perempuan kelahiran Sengkang, Sulawesi Selatan, 14 Juli 1940, ini tetap memikat. Murah senyum, ramah, cerdas, penuh empati.

Aha, saya pun teringat masa kecil di Flores Timur, pada 1980-an. Waktu itu Nafsiah ‘mendampingi’ suami, Gubernur Ben Mboi memimpin provinsi termiskin di Indonesia itu. Selama 10 tahun, dua periode, 1978-1988, Ben Mboi menjabat gubernur NTT. Meski masih sangat belia, saya mengikuti kiprah Ben Mboi bersama sang istri, Mama Nafsiah [sapaan akrab Nafsiah Mboi di NTT], lewat surat kabar DIAN dan RRI Kupang.

Saya berani mengatakan, Ben Mboi yang didukung penuh Nafsiah, menjadi gubernur terbaik yang pernah dimiliki NTT sejak menjadi provinsi pada 20 Desember 1958. Banyak kebijakan strategis dibuat. Operasi nusa makmur. Operasi nusa hijau. Keluarga berencana alamiah. Mengurangi perantauan. Pemberdayaan perempuan. Dialog dengan rakyat kecil. Ben dan Nafsiah tak hanya bicara, tebar pesona, tapi bekerja sangat keras.

Saya yang tinggal di pelosok Lembata, untuk kali pertama melihat sosok gubernur NTT, ya, Ben Mboi ini. Gubernur-gubernur lain, ya, hanya kedengaran namanya saja. Jangankan gubernur, bupati sekalipun tidak pernah berkunjung ke kampung-kampung... pada 1980-an. Di NTT, pejabat itu ibarat raja-raja kecil yang kurang peduli pada rakyat. Nah, Ben Mboi plus istri ini lain.

“Kenapa harus merantau? Kenapa mau jadi budak di Malaysia, padahal bapa-bapa bisa jadi tuan di kampung halaman sendiri,” begitu pesan Gubernur Ben Mboi di hadapan ribuan warga Lembata saat berkunjung di Lewoleba, 1980-an.

Nafsiah Mboi, di pihak lain, ikut memotivasi perempuan-perempuan di kampung agar punya pendidikan, ketrampilan, wawasan. Maka, pada 1980-an itu, berbagai kursus diadakan secara masif di NTT. Tata boga, tata busana, table manner, manajemen keuangan, keluarga berencana. Nah, sumbangan Mama Nafsiah dalam bidang ini benar-benar dahsyat dan berasa di Bumi Flobamora.

Kiprah orang-orang hebat di pelosok macam Ben Mboi dan Nafsiah Mboi ternyata dicatat dan diperhatikan orang luar. Padahal, saya tahu Bapa Ben dan Mama Nafsiah tidak suka publikasi. Mau publikasi pakai apa di tahun seperti itu? Pada 1985, kalau tidak salah, Ben dan Nafsiah beroleh RAMON MAGSAYSAY AWARD, penghargaan bergengsi di Asia Tenggara. Keduanya dinilai sukses meningkatkan kualitas pembangunan di NTT.

Saya terharu. Sejak itulah untuk pertama kali NTT banyak dibicarakan di kancah nasional internasional dari sudut lain. Kalau sebelumnya hanya bencana alam, kelaparan, kemiskinan, kebodohan... yang dibahas, Ben-Nafsiah memunculkan prestasi. “Selamat ya, gubernur NTT memang hebat,” kata Muhammad Chotib [alm], kepala sekolah saya di SMAN 1 Malang, kepada saya.

Orang NTT memang sangat bangga dengan prestasi ini. Sampai-sampai ada wacana agar Ben Mboi dipilih lagi sebagai gubernur untuk periode ketiga. Namun, tentu saja tidak gol karena undang-undang membatasi jabatan gubernur hanya dua periode. Kecuali, tentu saja, Presiden Suharto yang boleh menjabat sampai kapan saja.

Sebelum wacana feminisme dan gender mencuat ramai seperti sekarang, Nafsiah Mboi sudah membuktikan diri sebagai istri gubernur yang tidak sekadar mendampingi suami. Saya teringat Hillary Clinton yang juga berperan penting saat suaminya, Bill Clinton, menjadi presiden Amerika Serikat.

Kenapa Mama Nafsiah mampu?

Ini tak lepas dari latar belakang keluarga dan pendidikan Nafsiah. Dia putri sulung HA WALINONO, tokoh masyarakat dan intelektual di Sulawes Selatan. Nafsiah punya saudara kandung Prof Dr ANDI HASAN WALINONO, direktur jenderal dan sekjen Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada era 1980-an. Saudari Nafsiah yang lain, Dr ERNA WITOELAR, aktivis lingkungan yang juga mantan menteri era Presiden Abdurrahman Wahid.

Nafsiah pada 1958-1964 studi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Kebetulan Ben Mboi kakak kelas Nafsiah di FK UI. Setelah berpacaran selama empat tahun, mereka menikah pada 1964. “Ben sangat pintar, aktif berorganisasi, tapi orangnya sederhana. Itu yang membuat aku tertarik,” ujar Nafsiah seperti dikutip majalah TEMPO edisi 1 April 2007.

Sempat menjadi dokter relawan Dwikora di Ende, Nafsiah memperdalam pediatrik sosial di Amsterdam, Belanda, serta pediatrik klinik di Belgia pada 1971-1972. Sang suami, sementara itu, menempuh master of public health (MPH) di Belgia. "Saya tidak bisa kalau hanya diam di rumah. Saya harus menambah ilmu,” tutur ibu tiga anak dan nenek empat cucu ini.

Ben Mboi berhenti menjabat gubernur NTT pada 1988. lalu, bagaimana dengan Nafsiah? Istirahat juga menikmati pensiun? Oh, tidak. Nafsiah Mboi justru kian mantap menekuni bidang baru sesuai dengan minat dan bakatnya.

Pada 1997-1999 Nafsiah dipercaya sebagai ketua Komite Hak Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). "Saya satu-satunya orang Asia yang pernah menjadi ketua di situ,” ujar Nafsiah, bangga.

Selepas berkarier di Komite Anak PBB, Nafsiah dipercaya lagi menjadi direktur bidang gender dan kesehatan perempuan World Health Organisation (WHO) di Jenewa, 1997-2002. Lalu, balik ke Indonesia sebagai wakil ketua Komnas Perempuan.

Nafsiah tak berhenti belajar. Kali ini dia pigi ke Harvard University, Amerika Serikat, untuk mendalami HIV/AIDS. Nafsiah melihat HIV/AIDS bakal menjadi ancaman global karena virus menyebar sangat cepat. HIV/AIDS itu macam puncak gunung es. Kelihatan sedikit di puncak, tapi sebenarnya prevalensinya sangat luar biasa.

Pada 2005-2006 Nafsiah dipercaya sebagai konsultan Family Health International alias Aksi Stop AIDS. Pada Agustus 2006 Nafsiah akhirnya menjabat Sekretaris KPA Nasional. Sejak itulah dia berkeliling Indonesia untuk mengingatkan masyarakat akan bahaya HIV/AIDS.

Terkini, yang saya ingat, dia bicara panjang lebar di Hotel Shangri-La Surabaya, tentang HIV/AIDS, kemudian memperkenalkan kondom perempuan. Kondom ini lima kali lebih besar daripada kondom laki-laki. Garis tengah tujuh sentimeter, panjang 17 sentimeter.

Menurut Nafsiah, dengan kondom perempuan yang kali pertama diperkenalkan di Surabaya ini, maka perempuan biasa mengontrol nasibnya sendiri. Tidak lagi dikendalikan laki-laki yang, kata aktivis peduli HIV/AIDS, kurang suka pakai kondom saat bersebadan. Orang boleh protes, mencibir... tapi Nafsiah masih percaya bahwa kondom merupakan senjata ampuh dalam mencegah HIV/AIDS.

Orang NTT layak bangga punya Nafsiah Mboi. Di alam patriarki [ekstrem] ala NTT, sulit dipercaya muncul seorang tokoh perempuan nasional sekaliber Nafsiah Mboi. Dia tak jemu-jemu belajar, mengembangkan diri, berusaha menjadi orang yang berguna bagi bangsanya.

Di sisi lain, Nafsiah mampu memosisiskan diri sebagai seorang istri, mama bagi anak-anak, nenek bagi cucu-cucu, dan sahabat bagi siapa saja.

Profisiat, Mama Nafsiah!

11 comments:

  1. bernie, jadi ingat kampung nih.

    ReplyDelete
  2. suwun cak hurek...
    tulisan2mu ttg NTT cukup inspiratif. Salam.

    wenny
    jakarta

    ReplyDelete
  3. She is great. Saya pernah mengikuti ceramah beliau ttg HIV/Aids di Jayapura, Papua. salah satu anekdot dalam seminar hari itu: "pakai kondom sama dgn pakai kaos kaki" awalnya kurang nyaman; semakin sering dipakai lama2 jadi kebutuhan", so why not to try?

    Sabon Payon
    Melbourne

    ReplyDelete
  4. Terima kasih atas respons kawan2. Salam.

    ReplyDelete
  5. "Dia tak jemu-jemu belajar, mengembangkan diri, berusaha menjadi orang yang berguna bagi bangsanya. "
    Kutipan ini inspiratif sekali, dan aku menanamkan pada jiwaku : "Aku tak akan jemu-jemu belajar, mengembangkan diri, berusaha menjadi orang yang berguna bagi bangsaku, bangsa Indonesia"

    ReplyDelete
  6. wah... menarik mas lambertus. banyak rahasia di ntt dibahas habis hehehe. salam flobamora

    ReplyDelete
  7. hallo bang hurek...

    sebenarnya aku menemukan blog abang secara tidak sengaja. aku sedang mencari informasi tentang ibu Nafsiah Mboi lewat google. dan salah satu artikel yang muncul dari blog abang. pengennya sih, mau dapat email atau no yang bisa dihubungi dengan ibu Nafsiah. tapi toh akhirnya belum dapat juga.
    ibu Nafsiah dan pak Ben itu temen papaku. aku juga dari NTT, besar di Kupang. papaku dulu kerja di dinas kesehatan kupang juga, jadi dulu sering melakukan kegiatan penyuluhan kesehatan bersama ibu Nafsiah. aku sekarang ini benernya pengen ikut terlibat dalam kegiatan sosial gitu. dan tertarik dengan program AIDS dari ibu Naf. walaupun belum banyak yang aku tahu tentang program2 itu.
    setelah baca artikel abang di blog, aku rasa abang dah pernah ketemu, paling enggak ada email yang bisa aku hubungi. boleh berbagi ga?
    sejak SMP aku pndah ke malang juga. tapi tinggalnya di singosari. sekarang kuliah di muhammadiyah malang-komunikasi jurnalistik. abang temannya mbak susi, wartawan berita hukum kriminal radar surabaya ya? aku kenal mbak susi waktu magang di RCTI surabaya.
    seneng banget kalo bisa email2an sama abang. biar bisa menurunkan ilmu jurnalistik ya...
    aku tunggu kabar dari abang ya....

    Kamelia A samana
    nengkho@yahoo.com

    ReplyDelete
  8. bu naf emang perempuan smart, langka, luar biasa.

    ReplyDelete
  9. Dear Pak Hurek,

    Saya Ria, asisten Ibu Naf. Kami sedang menyusun berbagai tulisan, comments dan ucapan untuk Ibu Naf dalam sebuah buku utk kado ulang tahun beliau yg ke 70.
    Hari ini saya baca blog Bapak, dan tertarik untuk memasukannya kedalam buku yg sedang kami susun.
    Untuk itu, melalui email ini kami mohon ijin untuk memesukkan tulisan Bapak ke dalam buku tersebut.
    Tulisan ini tidak akan dipublikasikan secara luas, namun semoga tulisan2 berharga ini bisa menjadi penambah semangat Ibu Naf dalam berkarya di usianya yg ke 70.

    Terima kasih
    Ria

    ReplyDelete
  10. Pak Lambertus, saya dr. Made, kebetulan di institusi kami akan diadakan seminar sehari tentang pencegahan dan penanggulangan AIDS di kesatuan TNI, senior kami pernah mendapatkan ceramah dari Ibu Nafsiah, beliau kalau bicara di lingkungan prajurit sangat mengena sekali, karena sudah tahu kehidupan prajurit. Kalau tidak keberatan mohon di infokan alamat email atau telpon dari Ibu Nafsiah, mungkin beliau berkenan untuk bicara pada seminar sehari tersebut. Atas bantuannya terima kasih.

    dr. Made Putra Yukti
    putra_yukti@yahoo.com

    ReplyDelete
  11. sangat bermanffat bagi ana2 ntt...salam..
    plis kunjung baliknya

    ReplyDelete