02 April 2007

Malam Anggoro Kasih, Tumpengan


Di Sidoarjo ada kebiasaan berkumpul tiap malam SELASA KLIWON untuk sarasehan budaya. Namanya MALAM ANGGORO KASIH. Saya, meski bukan orang Jawa, selalu diundang karena dianggap peduli budaya. Hehehe....

Rata-rata setiap pertemuan dihadiri 80-100 orang. Latar belakang peserta macam-macam: pelukis, pemusik, penari, guru, pegawai negara, kiai kampung, pemangku adat, penghayat budaya Jawa, wartawan, hingga politisi. Menjelang pilkada, para tim sukses pun ikut menyusup ke sarasehan ini.

"Saya sendiri kaget karena peminatnya sangat banyak," kata ADEANTO SENJAYA, koordinator MALAM ANGGORO KASIH, kepada saya.

Topik yang dibahas kebanyakan seputar budaya atau tradisi Jawa. Orang-orang tua rupanya resah melihat generasi muda di Sidoarjo yang makin kehilangan akar budaya. Istilahnya, orang Jawa kehilangan Jawa-nya. Nah, sarasehan rutin ini salah satu maksudnya, ya, berupaya melestarikan budaya Jawa. "Nguri-uri budaya," kata Hartono, bekas ketua Dewan Kesenian Sidoarjo.

Belum lama ini MALAM ANGGORO KASIH membahas soal tumpeng. Aha, ternyata tumpeng itu punya filosofi. Tidak asal jadi. Tidak asal dimakan dan kenyang. Bahan-bahan untuk membuat tumpeng sedikitnya 24 macam. Komponen-komponen harus dipehatikan: tampah, kukusan, centong, kipas, nasi, ikan, ayam, sayur, telur, pala kependem, sirih ayu, pisang ayu, hingga bunga setaman.

"Dalam budaya Jawa ada dua prinsip: KERUKUNAN dan HORMAT," kata OTTO BAMBANG WAHYUDI, budayawan Sidoarjo yang bekerja di kantor Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Pancingan Otto Bambang disambut peserta lain yang memenuhi aula Museum Mpu Tantular di Desa Sidokerto, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo.

Pendapat-pendapat ini saling melengkapi. Saya, karena tidak tahu, ya, diam saja. Menjadi pendengar yang baik. Sekali-sekali saya mencatat agar tidak lupa.

Makan ketupat, kata para sesepuh, tidak boleh diurai, tapi dibelah menjadi empat bagian. Disigar mrapatan. Kenapa? Empat bagian ini menggambarkan catur budi: LUWAR (keluar/bebas), LEBUR (menghapus dosa), LABUR (suci seperti labur), LUBER (melimpah, lebih).

Tumpeng itu ada 16 macam. Antara lain, tumpeng lanang, tumpeng wadon, tumpeng sri, tumpeng kitri, tumpeng golong, tumpeng lima, tumpeng pitu, tumpeng sewu, tumpeng robyong, tumpeng kuat. Begitulah, tumpeng yang kelihatannya 'makanan biasa' ternyata diurai panjang lebar oleh para budayawan Sidoarjo.

"Kami-kami ini sudah tidak asing lagi. Lain dengan anak-anak muda zaman sekarang yang asing dengan budaya sendiri. Mereka malah lebih hafal budaya-budaya lain yang tidak ada hubungan dengan Jawa," kata BAMBANG SUBAGYO, pria 60-an tahun, berjenggot putih-panjang.

Bambang Haryadi, pelukis senior yang getol melestarikan tradisi Jawa, menyebutkan, sekarang ini sudah banyak budaya Jawa yang mengalami penyesuaian. Sebab, budaya itu hidup. Dinamis. Masyarakat senantiasa berubah. Karena itu, tumpeng ideal ala Jawa era Majapahit pun sudah mengalami modifikasi.

"Yang penting, intinya kita hayati," ujar Bambang kepada saya.

No comments:

Post a Comment