15 April 2007

Lagu Mengisahkan Kehidupan

Oleh FRANS SARTONO
Sumber: Kompas 15 April 2007

Lagu pop yang kadang dianggap "cengeng" itu diam-diam merupakan rekaman drama kehidupan. Penggubah lagu dari masa ke masa mencatat lakon manusia di sekitarnya. Lagu-lagu itu menjadi hiburan, nyanyian kehidupan.

Mari kita dendangkan Hati Yang Luka. Itu adalah lagu gubahan Obbie Messakh yang dipopulerkan penyanyi Betharia Sonata pada tahun 1988:

"Lihatlah tanda merah di pipi bekas gambar tanganmu
Sering kau lakukan bila kau marah menutupi salahmu...
Pulangkan saja aku pada ibuku atau ayahmu..."


Lagu itu sempat dilarang diperdengarkan di TVRI karena liriknya dianggap cengeng. Harmoko yang menjadi menteri penerangan saat itu menyebut lagu semacam itu sebagai "ratapan patah semangat berselera rendah". Aah....

Thobias Messakh alias si Obbie, saat itu—di zaman berkuasanya menteri yang suka mendapat petunjuk itu—mana bisa membela diri. Baru belakangan ia bertutur tentang inspirasi penulisan Hati Yang Luka.

"Itu true story, kisah nyata. Saya melihat tetangga menonjok istrinya. Bekas merah di pipi itu memang ada. Dan orangnya sampai sekarang juga masih hidup," kata Obbie yang saat itu tinggal di Lorong E Barat, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Melihat perempuan dihajar suaminya, Obbie trenyuh. Lahirlah kemudian lagu yang secara tema kini disebut-sebut sebagai kekerasan dalam rumah tangga, KDRT. "Dulu belum populer istilah KDRT itu. Sekarang orang rame-rame membicarakannya," kata Obbie.

Meski dilarang dan dianggap "berselera rendah", Hati Yang Luka laku keras. Hasilnya, lagu yang direkam oleh JK Records [yang benar Musica Studio - Bernie] itu terjual di atas satu juta kopi. Obbie pun menerima bonus berupa sedan Honda Grand LX. Sebagai tanda gembira, Obbie memberi hadiah kepada tetangga yang main tonjok istri dengan sebuah lemari es.

"Tapi, yang membuat saya senang, mereka kemudian rukun kembali," tutur Obbie.

Begitulah Obbie mencatat drama kehidupan lewat lagu. Simak catatan Titiek Puspa tentang drama kehidupan negeri ini.

Lagu Minah Gadis Dusun yang ditulis dan dinyanyikan Titiek Puspa pada tahun 1965 lahir pada masa perjuangan sekitar tahun 1949. Saat itu Titiek yang masih duduk di Sekolah Rakyat mengungsi ke Desa Nggreges di lereng Gunung Sumbing, Temanggung, Jawa Tengah.

"Setiap pagi aku ke sekolah bareng ibu-ibu yang berangkat ke sawah. Setelah dewasa dan tinggal di kota aku teringat. Aku mikir, orang kota tinggal makan saja. Yang ngerjain orang dusun," tutur Titiek tentang inspirasi lagu Minah Gadis Dusun.

Simak sepotong liriknya:

"Tunggu saja kiriman hasil panenku
daku orang dusun pandai bertani
hanya pesanku kawan jaga negerimu
sampai berjumpa lagu salam manisku".

Pada kesempatan lain di tahun 1963, ketika Bung Karno menggelorakan semangat Trikora, Titiek melihat pasukan yang akan diterjunkan ke Irian Barat. Mereka berkumpul di Lapangan Banteng.

"Aku melihat seorang ibu muda yang sedang mengandung. Dia melepas suaminya yang akan dikirim ke Irian. Aku terharu banget. Kan belum tentu suaminya bisa pulang dengan selamat. Aku pulang naik becak sambil nangis ngguguk (tersedu-sedu)," kenang Titiek.
Peristiwa itu melahirkan lagu Maju Terus Pantang Mundur. Berikut lirik awalnya:

"Kulepas dikau pahlawan
Kurelakan dikau berjuang."

Dan berikut penggalan lirik lain:

"Putera pertama lahir sudah
Kupintakan nama padamu pahlawan".

Banyak lagu Titiek yang diinspirasi oleh lakon kehidupan sehari-hari. Ia berbicara tentang pekerja seks yang dihinakan dalam Kupu-kupu Malam. "Dia bercerita ada pria yang suka melempar uang ke mukanya."

Titiek mencatat drama kehidupan urban dalam Bimbi, gadis kampung yang sederhana tapi manis, yang pergi ke kota dan langsung ngetop namanya, tapi pulang kampung dan menangis di jalan sepi. Lagu itu dipopulerkan Rollies tahun 1978.

Ia berkisah tentang sahabat masa kecil dalam Si Hitam. Lagu yang dinyanyikan Titiek pada tahun 1966 itu lahir dari rasa simpati Titiek pada kawan masa kecil yang berbadan bongkok. Kawan itu dikenang Titik sebagai seseorang yang berbudi baik (karena budimu baik seperti seniman) juga penuh humor dan banyak kawan.

"Dia pergi lama sekali. Aku bayangkan kawanku yang baik hati itu telah jadi kiai," kenang Titiek, yang dalam lirik menuliskan:

"Kabarnya dia telah lama pergi
dan kini menjadi kiyaiii...."

Mengapa berjudul Si Hitam? Titik tak ingin menyebut karakter fisik seseorang. Ia memilih kata Si Hitam sebagai personifikasi atas kondisi fisik yang sering diberi stigma sebagai cacat.

Sebuah lagu juga merupakan catatan pribadi. Jika Anda mendengar lagu Mengapa Tiada Maaf yang dipopulerkan Bob Tutupoli tahun 1969 atau versi Yuni Shara, maka itu adalah catatan kegalauan hati Yessy Wenas yang ditinggal kekasih dan tidak diberi maaf pula.

Simak bait awalnya yang nelangsa:

"Katakan salahku padamu
Hingga dikau pergi
Hanyalah ku ingin dikau sadar
Sampai hari ini ku tetap menunggu".

"Itu masa-masa saya mau bentuk rumah tangga. Kami ada perbedaan konsep, lalu enggak jadi," kenang Yessy yang kini berusia 68 tahun.
Dan simak pula refrain-nya:

"Mengapa tidak kau maafkan
Mengapa ku bertanya
Mengapa tiada maaf dari mu..."

Mengapa tiada maaf?
"Saya minta maaf karena dia sudah oke untuk berumah tangga, tapi saya minta ditunda. Dia lalu pergi ha-ha..." kenang Yessy.

Mengapa ditunda?

"Secara jiwa dan ekonomi saya belum stabil. Waktu itu cari kerja masih kacau. Saya baru diberhentikan dari ITB," kata Yessy yang kuliah di jurusan seni rupa Institut Teknologi Bandung, seangkatan dengan Sam Bimbo.

Belakangan setelah nganggur itu, Yessy sukses sebagai penulis lagu, seperti Semau Gue yang dibawakan Ernie Djohan juga Si Boncel dan Si Jago Mogok yang menjadi lagu debut Titik Sandhora pada tahun 1969.

Catatan lakon manusia dengan segala pahit getirnya itu menjadi manis dalam lagu.

No comments:

Post a Comment