15 April 2007

Jogja, Yogya... atau?


Di Indonesia, ada satu kota [provinsi] yang namanya simpang-siur. Bikin bingung masyarakat, termasuk wartawan dan redaktur media massa. Daerah itu istimewa karena dipimpin oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX secara turun-temurun. Mirip monarki konstitusional.

Ada delapan varian:

1. JOGJAKARTA
2. JOGJA
3. YOGYAKARTA
4. YOGYA
5. JOGYAKARTA
6. JOGYA
7. YOGJAKARTA
8. YOGJA

Luar biasa, satu kota punya delapan nama, bahkan mungkin lebih. Dan kedelapan nama ini dipakai di berbagai media massa. Koran Jawa Pos dan grupnya pakai istilah JOGJA. Turunannya: Daerah Istimewa Jogja disingkat DIJ.

Koran lain macam KOMPAS atau TEMPO sejak dulu pakai YOGYAKARTA disingkat DIY. Kadang-kadang ditulis YOGYA. Repotnya, dalam sebuah koran [atau televisi dan radio] penggunaan istilah tidak taat asas. Ada halaman yang pakai JOGJA, YOGYA, JOGYA.... dan seterusnya.

Lha, sing benar yang mana? Masa, satu daerah punya delapan nama? Karena ikut Grup Jawa Pos, selama ini saya dan teman-teman pakai JOGJA, atau kadang-kadang JOGJAKARTA. Koran anak perusahaan Jawa Pos di sana bernama RADAR JOGJA.

"Mas, yang benar itu DIY. Daerah Istimewa Yogyakarta, bukan Daerah Istimewa Jogjakarta," protes seorang pembaca berusia 70-an tahun via telepon.

Saya jelas tak bisa berdebat karena tidak tahu sejarah nama-nama itu. Saya hanya bilang bahwa ini soal pakem masing-masing media. Silakan sampeyan pakai YOGYAKARTA, kami pakai JOGJA. Yang penting kan maksudnya provinsi yang dipimpin Sri Sultan," saya berkilah.

"Nggak bisa begitu. Koran harus pakai istilah yang benar. Nggak boleh bikin istilah sendiri. Nanti masyarakat bingung," protesnya. Telepon ditutup.

Anehnya, orang Jogja [Yogya] sendiri terkesan acuh tak acuh. Gubernurnya pun, saya lihat, tidak berusaha 'meluruskan' delapan istilah yang beredar di media massa dan masyarakat luas tersebut. Mana yang benar dan baku? Apa delapan istilah ini benar? Atau ikut kebijakan Grup Jawa Pos: pakai JOGJA saja? Atau ikut Kompas: YOGYAKARTA?

Saya kira, pemerintah provinsi yang dipimpin Sri Sultan itu perlu membuat keputusan final tentang nama daerahnya. Jangan-jangan delapan nama itu juga termasuk salah satu 'keistimewaan' daerah Jogja, eh, Yogya, eh, Jogya, eh Yogja, eh Jogjakarta....

Wah, wah... tambah bingung!

Seingat saya, komponis Ismail Marzuki pernah menciptakan lagu bagus berjudul 'Sepasang Mata Bola' pada era perang kemerdekaan tempo doeloe. Syair awalnya berbunyi:

HAMPIR MALAM DI JOGJA [bukan Yogya]
KETIKA KERETAKU TIBA
REMANG-REMANG CUACA
TERKEJUT AKU TIBA-TIBA
................

4 comments:

  1. Tentang Yogya atau Jogja..?

    Saya pernah membaca buku 30 tahun Indonesia Merdeka, dibuku itu dijelaskan provinsi (atau propinsi?) awal dari Republik Indonesia; yaitu:
    Propinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Sumatera. Pada tanggal .........(ma'af lupa mas..) Kerajaan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat bergabung ke dalam Republik Indonesia.
    Terima kasih, dan maaf kalau ada kesalahan.

    ReplyDelete
  2. ruwet memang, potret bangsa kita yg juga ruwet gak karuan.

    ReplyDelete
  3. lhoo bukanya lebih asik too banyak sebutanyaa aheheh

    ReplyDelete
  4. mau jogja...mau yogya...yg penting...hidup jogja... jadi kangen sm jogja nih..

    ReplyDelete