16 April 2007

Gesang Bengawan Solo


Oleh: HELEN SONYA SINOMBOR/AGUSTINA LILIASARI
Sumber: Kompas, 16 April 2007

Tanggal 1 Oktober nanti, penggubah lagu "Bengawan Solo" ini genap 90 tahun. Di usianya yang senja, ia memang sering sakit-sakitan, jarang bepergian, dan lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah bersama dua adiknya yang juga sudah berusia senja.

"Mohon doa restu. Tolong doakan saya, biar cepat sehat." Berulangkali kalimat itu terucap dari mulut Gesang Martohartono (89) pencipta lagu Bengawan Solo ketika kami temui, Sabtu (14/4) petang. Saat ditemui di rumah yang beralamat di Jalan Bedoyo Nomor 5 Kelurahan Kemlayan, Serengan, Solo, Gesang dalam kondisi belum pulih benar.
Selama hampir sepekan (7-13 April 2007), Gesang dirawat di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Solo karena gejala penyakit tifus. Selain gangguan usus, jantung Gesang sempat melemah karena kondisinya yang drop. Menurut keluarga, sebelum dibawa ke RS Gesang sempat tiga hari berturut-turut tidak bisa makan.

Setelah dirawat, Jumat pekan lalu, Gesang diperbolehkan dokter pulang rumah di Kampung Kemlayan. Rumah yang selama enam tahun terakhir ini ditinggali Gesang merupakan rumah keluarga, peninggalan orangtua Gesang.

Di tempat ini Gesang tinggal bersama dua adik kandungnya yakni Ny Kayati (75) dan Thoyib (73). Suami Kayati telah meninggal. Sedangkan Thoyib seperti Gesang selama ini hidup sendiri. Di rumah warisan orangtua mereka lah kini tiga kakak beradik tinggal bersama anak dan cucu Kayati.

Meski telah diperbolehkan pulang ke rumah, namun mungkin karena usianya yang sudah senja, Gesang yang dilahirkan 1 Oktober 1917 mendatang genap berusia 90 hanya bisa beristirahat di tempat tidur. Untuk duduk pun ia belum kuat. Bahkan meski telah keluar dari RS, namun Gesang masih menggunakan kateter untuk pembuangan urinenya.

Saat ditemui, Gesang tampak senang. Ketika ditanya tentang keadaannya, Gesang hanya bilang mohon doa restu, biar cepat sehat. "Hari Rabu saya disuruh kontrol," katanya.
Yang lebih mengharukan lagi, walau suaranya tidak begitu jelas dan agak bergetar, Gesang sempat menjawab beberapa pertanyaan. Dengan suara terbata-bata, Gesang berusaha mengungkapkan kebanggaannya terhadap lagu Bengawan Solo yang melegendaris.

"Saya bangga. Lagu Bengawan Solo jadi lagu Indonesia," paparnya.

Ia kemudian menyatakan karena lagu Bengawan Solo, ia bisa ke luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Cina dan Jepang. "Tetapi sekarang enggak bisa pergi jauh-jauh," katanya.

Ketika ditanya apakah ia masih ingin mencipta lagu, Gesang menjawab, "Kalau istilah seniman, ya tentu masih ingin melangkah lagi dan membuat lagu. Tetapi apa daya, badan saya sudah kurus kering, kempeng. Ingatan tak kuat lagi," ujar Gesang.

Kendati Gesang mengaku ingatannya tak kuat lagi, namun dari percakapan dengan Gesang sekitar 10 menit, sebenarnya ingatan Gesang masih bagus. Buktinya ia masih ingat bagaimana pada masa penjajahan Jepang, lagu-lagu keroncong sangat digandrungi masyarakat.

"Dulu keroncong pernah hebat. Pada waktu itu di mana-mana ada radio siaran lagu keroncong. Di jaman Jepang, cuma lagu keroncong atau lagu daerah yang boleh. Tapi setelah merdeka, kita sudah bebas dengan lagu," ujarnya.

Sebelum tinggal kembali di rumah tempat kelahirannya, Gesang pernah tinggal di Perumnas-Palur, Karanganyar. Rumah yang merupakan satu-satunya aset yang dimiliki Gesang adalah pemberian Gubernur Jawa Tengah Soepardjo Rustam itu, saat di berusia 62 tahun.

Karena usia Gesang yang makin tua dan kondisi kesehatannya sering terganggu, sejak tahun 2001 Gesang memang diminta pindah tinggal bersama kedua adiknya di Kemlayan. Rumahnya di Palur dijaga Hasanudin Santoso, anak dari Kayati. "Tahun 2000-an Pak Dhe kena penyakit batu ginjal," papar Hasanudin Santoso.

Ruang tamu di rumahnya di Kemlayan penuh dengan piagam penghargaan dari pemerintah dan lembaga-lembaga swasta serta foto-foto Gesang bersama pejabat dan teman-temannya. Bahkan ada foto Gesang dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Gubernur Jawa Tengah Mardiyanto. Ada pula foto Gesang dengan pencipta lagu Koesbini.

Kecuali jalan pagi di sekitar rumahnya, selama enam tahun terakhir tidak banyak aktivitas Gesang. Sesekali ia menghadiri undangan, namun hanya sebatas di Kota Solo saja. Acara yang cukup besar yang dihadiri Gesang antara lain "Temu Kangen dengan Gesang" di awal bulan September 2006 di nDalem Wuryaningratan Solo.

Acara ini menyambut delegasi pengagum Gesang dari Jepang digelar Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kota Solo, Yayasan Karya Cipta Indonesia dan Perhimpunan Indonesia-Jepang.
Pada awal September 2006 Gesang sempat hadir dalam malam pembukaan Festival Keraton Nusantara di Pura Mangkoenegaraan. "Setelah itu, Pak Dhe nggak bisa kemana-mana," ujar Yani Efendi (40) keponakan Gesang yang selama ini mendampingi Gesang kalau menghadiri acara.

Di usianya yang senja ini, Gesang yang tidak pernah absen mengikuti acara keroncong di salah satu televisi swasta di Solo, hanya bisa berharap musik keroncong yang sangat dibanggakannya akan terus mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia, terutama generasi muda saat ini.

"Keroncong jangan sampai mati sama sekali," ujar Gesang terbata. Semoga.

No comments:

Post a Comment