04 April 2007

Bertandang ke STT Efrata Sidoarjo





Kampus Sekolah Tinggi Teologia (STT) Efrata di Jalan Jeruk 67 Wage, Sidoarjo, sudah tak asing lagi bagi masyarakat Desa Wage, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Namun, tak banyak yang tahu kalau pusat pendidikan para calon pendeta itu punya sistem pendidikan yang khas, dihuni oleh mahasiswa dari hampir semua kota di Indonesia.

"Dari Sumatera Utara sampai Papua ada wakilnya di STT Efrata ini," ujar Pendeta SAPTO HARSOYO MTh, rektor STT Efrata, kepada saya.

Warga Wage dan sekitarnya dulu lebih mengenal STT Efrata sebagai 'Pusbinroh', pusat pembinaan rohani Kristen. Semacam lembaga diklat untuk kalangan Kristen Protestan yang mendapat izin resmi dari Departemen Agama Republik Indonesia. Sejak tahun 1970-an, kata Sapto, lembaga ini sudah eksis. Hanya saja, karena letaknya yang cukup terpencil di pelosok Wage, banyak orang tidak tahu.

Memang, suasana pelosok dan cenderung sepi ini memang cocok untuk menggodok para calon rohaniwan. "Kami memang membutuhkan banyak waktu untuk meditasi dan berdoa," papar Eko Junianto, mahasiswa asal Kediri.

Bermula dari 'Pusbinroh', pengelola lembaga ini merasa perlu untuk menjadikan kompleks ini sebagai sekolah tinggi untuk calon pendeta alias sekolah tinggi teologia. Tidak sulit, karena Institut Injili Indonesia--pimpinan Pendeta Dr Petrus Octovianus yang terkenal itu--siap mem-back up. Maka, jadilah STT Efrata sekarang ini.

Menurut Sapto Harsoyo, kampusnya bersifat interdenominasi, sehingga terbuka untuk gereja Kristen dari aliran mana pun. "Penekanan kami adalah kesaksian di masyarakat," papar pendeta kelahiran Madiun, 24 Juli 1962 ini.

Seperti seminari umumnya, sistem pendidikan ala STT Efrata sangat ketat dibandingkan kampus-kampus biasa. Hampir semua mahasiswa tinggal di asrama dengan jadwal kegiatan yang sangat padat dan teratur. Praktis, tak ada waktu bagi mahasiswa untuk ongkang-ongkang, apalagi ngelencer ke tempat hiburan. Sejak usia muda--semuanya lulusan SMA yang berprestasi--dididik menjadi ‘gembala’ yang baik. Gembala yang mampu menuntun ratusan hingga ribuan domba (baca: jemaat) dengan aneka macam karakter.

Bangun pagi pukul 04.00, para mahasiswa (laki-laki dan wanita) harus sudah siap-siap mengikuti meditasi di ruangan khusus. Ketika umat Islam mendirikan salat subuh, mahasiswa STT Efrata dilatih untuk merasakan kehadiran Tuhan dan keheningan. Meditasi juga bagus untuk mengasah kepekaan hati nurani. Pukul 05.45, masih di ruangan yang sama, mereka menggelar doa pagi, termasuk membaca dan menelaah Alkitab.

Sehabis meditasi dan doa, "Mereka bekerja praktis sampai jam 06.00," papar Sapto Harsoyo, yang tinggal di dalam kompleks STT Efrata.

Kerja praktis di sini misalnya menyapu kamar, halaman, membersihkan tempat tidur, cuci piring, cuci pakaian, menyetrika pakaian, menyambit rumput. Para calon pendeta ini tidak mengenal pelayan atau pembantu rumah tangga yang mengurus segala kebutuhan mereka. Siapa pun dia, anak orang kaya sekalipun, harus 'berdikari'.

Pukul 07.15 sarapan pagi sebelum melangsungkan perkuliahan hingga pukul 1.15. Petang
hingga malam hari masih ada seabrek kegiatan lain yang harus mereka jalani.

Menurut Sapto Harsoyo, hari kuliah 50 mahasiswa STT Efrata (15 di antaranya perempuan) ini hanya berlangsung Senin sampai Jumat. Bagaimana dengan Sabtu dan Minggu? Libur?

Ternyata kegiatan akhir pekan lebih padat lagi. Sejak semester satu, para mahasiswa harus mengadakan kunjungan ke gereja-gereja di Sidoarjo, Surabaya, dan sekitarnya. "Kalau mahasiswa semester awal, ya, magang pada seniornya,” tutur Sapto.

Dalam kunjungan itu, para mahasiswa tidak sekadar mampir ngombe di gereja atau rumah jemaat, tetapi diharuskan membaur. Ia tinggal selama dua malam di luar kampus STT.

Maka, jika Anda berkunjung ke kampus STT Efrata pada Sabtu dan Minggu, bisa dipastikan penghuninya kosong-melompong. 'Thanks God it's Friday!', seruan khas orang Amerika, rupanya berlaku di kampus STT Efrata. Setiap hari Jumat tiba, wajah para mahasiswa berseri-seri karena mereka boleh menikmati kehidupan di 'masyarakat biasa' setelah lima hari terpaku pada jadwal kuliah dan asrama yang sangat padat.

Untuk menyelesaikan kuliah strata 1 (S-1), rata-rata mahasiswa STT Efrata membutuhkan waktu 4,5 tahun. SKS minimal yang harus diselesaikan pun sangat banyak, yakni 162 SKS. [Di perguruan tinggi biasa, 150 SKS sudah cukup untuk beroleh gelar S-1.] Dengan gelar sarjana teologia alias STh, para alumnus STT Efrata siap bertugas di gereja-gereja di seluruh Indonesia.

Alumnus yang tersebar ini sekaligus menjadi agen promosi gratis bagi STT Efrata. Jangan heran, kampus unik di Desa Wage, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, ini sangat dikenal di Indonesia meski tidak pernah mempromosikan diri.

DALAM banyak hal, sistem perkuliahan di Sekolah Tinggi Teologia Efrata, Wage, Taman, Sidoarjo, sangat berbeda dengan perguruan tinggi biasa. Pendidikan di STT sangat menekankan praktik lapangan. Learning by doing!

Praktis, selama 4,5 tahun kuliah di STT Efrata (waktu studi bisa lebih lama bagi mahasiswa yang mengalami kendala) mahasiswa menjalani berbagai macam praktik lapangan. Menurut Rektor STT Efrata Pendeta SAPTO HARSOYO MTh, ada tiga jenis praktik lapangan yang harus dilakoni mahasiswa, yang juga calon pendeta ini.

PERTAMA, praktik lapangan atau kunjungan ke gereja-gereja setiap Sabtu dan Minggu. Kegiatan ekstrakurikuler begini dilakukan nonstop selama mahasiswa belajar di Wage. Kunjungan weekend baru ditiadakan ketika mahasiswa liburan atau, katakanlah pulang kampung atau melakukan studi banding di kota lain.

KEDUA, praktik akhir semester selama. Mahasiswa dikirim ke gereja-gereja yang membutuhkan bantuan tenaga (calon) pendeta. Ini hampir sama dengan praktik weekend, namun lebih intensif karena mereka harus stand by di lokasi. Bersama pendeta resmi di gereja, mahasiswa STT Efrata melakukan kegiatan pastoral atau penggembalaan jemaat.
Selepas praktik akhir semester, tentu saja, mahasiswa harus membuat laporan. Dosen-dosen pembimbing, yang umumnya juga pendeta atau 'gembala sidang', akan memberikan bantuan kepada mahasiswa yang merasa kesulitan.

Jenis praktik KETIGA adalah pelayanan akhir. Pada saat itu, mahasiswa praktis sudah menyelesaikan seluruh mata kuliah teorinya. Dari segi pengetahuan, wawasan Alkitab, penguasaan emosi, dan seterusnya, para mahasiswa sudah cukup matang. Praktik terakhir sebelum wisuda ini, kata Sapto Harsoyo, hampir sama dengan kuliah kerja nyata di kampus biasa. Hanya, KKN versi STT Efrata tidak cukup dua atau tiga bulan, melainkan 12 bulan penuh.

Setelah lulus dari STT, para alumnus kembali lagi ke masyarakat. Bagi alumni yang dikirim oleh gereja atau lembaga Kristiani tertentu akan pulang untuk berkarya di gereja atau lembaga tersebut. Tentu saja, ia harus menjalani ikatan dinas mengingat biaya studi dan biaya hidup di asrama ditanggung penuh oleh sponsor. Sebaliknya, mahasiswa yang tidak terikat bisa berkarya di mana saja, sesuai dengan kebutuhan.

Masa praktik atau magang selama sekian tahun di gereja-gereja membuat alumni STT Efrata sangat 'siap pakai'. Mereka bisa ditahbiskan sebagai pendeta di gereja-gereja asalnya.

Siapa berminat?

No comments:

Post a Comment