02 April 2007

Berlian Hutauruk - Badai Pasti Berlalu


Awan hitam
di hati yang sedang gelisah
Daun-daun berguguran
Satu-satu jatuh ke pangkuan
Kutenggelam sudah ke dalam dekapan
Semusim yang lalu
Sebelum kumencapai
Langkahku yang jauh

REFREIN
Kini semua bukan milikku
Musim itu telah berlalu
Matahari segera berganti
Badai pasti berlalu... 4x

Gelisah kumenanti tetes embun pagi
Tak kuasa kumemandang datangmu matahari


[Syair BADAI PASTI BERLALU, karya Eros Djarot. Vokal: Berlian Hutauruk, 1977]

*******

Usia Berlian Hutauruk baru 18 tahun pada suatu hari di 1977. Masih sangat muda. Tapi, sebagai keturunan Tapanuli yang sangat musikal, kemampuan menyanyi Berlian sungguh luar biasa. Apalagi, ia aktif di paduan suara gereja, kemudian berguru pada pemusik-pemusik Batak yang berada di Jakarta.

Maka, sekali lagi di usia belasan tahun itu, suara Berlian Hutauruk sudah benar-benar JADI. Jenis soprano liris. Dan, ketika Eros Djarot [pemusik, wartawan, politikus] hendak bikin album Badai Pasti Berlalu pada 1977, dia ingat gadis Batak nan manis ini. Apalagi, struktur melodi, lirik, 11 lagu yang dipersiapkannya untuk musik film Badai Pasti Berlalu memang berbau klasik. Berlian pilihan tepat untuk mengisi vokal di album Badai Pasti Berlalu.

Tidak salah. Waktu, sang pengadil agung, telah memutuskan bahwa Badai Pasti Berlalu tahan zaman, menjadi album sepanjang masa di Indonesia. Dan, Berlian Hutauruk yang waktu itu 18 tahun turut memberi karakter pada album ini. Persada musik Indonesia tentu berterima kasih banyak. Kepada Eros Djarot yang bikin karya bagus, Chrisye, Yockie Suryo Prayogo, dan teman-teman yang memungkinkan album Badai ini lahir di Indonesia.

Pada 1977 teknologi musik masih sangat sederhana. Akses informasi tak sebanjir sekarang. Toh, anak-anak bangsa bisa bikin karya besar.

"Puji Tuhan, saya diberi kesempatan untuk terlibat di Badai Pasti Berlalu," ujar Berlian Hutauruk kepada saya di Surabaya beberapa waktu lalu.

Senyumnya tetap manis di usia matang. Kebetulan [tante] Berlian diundang untuk mengisi sebuah acara kebaktian kebangunan rohani. Dia nyanyi lagu-lagu gospel, praise and worship songs, di kebaktian sekitar 500 jemaat pentakosta plus karismatik.

Dia tidak bicara Badai Pasti Berlalu karena forumnya memang lain. Tapi, saya dekati dia, saya minta komentar sedikit tentang debutnya di album Badai. "Saya suka sekali dengan suara Mbak Berlian Hutauruk di Badai Pasti Berlalu," ujar saya memulai percakapan.

"Oh, ya? Terima kasih," ujar Berlian Hutauruk, ramah. Lalu, usai acara itu saya ingin dengar langsung cerita singkat seputar kenangan Berlian Hutauruk sebagai penyanyi kunci, di samping Chrisye [almarhum], Badai Pasti Berlalu.

"Saya percaya, ini semua karena rencana Tuhan. Tuhan kasih karunia suara kepada saya. Saya pakai suara itu menyanyi, memuji Tuhan, mengajak orang untuk mencintai keindahan. Mencintai kesenian dan karya besar Tuhan. Saya juga menyanyi untuk menyampaikan rasa syukur saya kepada Tuhan atas anugerah-Nya," urai Berlian Hutauruk. Kata-katanya berbau 'pendeta', mirip kesaksian di kebaktian kebangunan rohani.

Dan itu tidak salah karena Berlian Hutauruk, selepas Badai Pasti Berlalu, lebih dikenal sebagai artis gospel alias lebih sering menyanyi di lingkungan jemaat kristiani. Dia juga pernah bikin album rohani. Lalu, album pop biasa dengan penata musik Ian Antono.

Saya singgung bahwa beberapa lagu di Badai juga dinyanyikan ulang oleh Broery Marantika [almarhum], kemudian Yuni Shara. Tata musik, cara nyanyi, penghayatan, greget... lain sekali dengan album Badai versi 1977. "Saya meskipun masih kanak-kanak tahun 1977 masih merasakan dahsyatnya vokal Berlian Hutauruk," ujar saya, yang memang pengagum vokal klasik ala Berlian.

"Terima kasih, terima kasih. Tapi sah-sah saja lagu itu dibawakan dengan tafsir si penyanyi itu sendiri. Apalagi, zaman saya itu kan beda banget dengan sekarang," ujar Berlian Hutauruk yang kini berusia 48 tahun.

Oh ya, pada 28 Maret 2007 Berlian Hutauruk ikut tampil dalam Konser Badai Pasti Berlalu bersama artis-artis beliau dalam rangka promosi album Badai versi 2007 di Jakarta. Saya tidak nonton langsung, tapi beberapa kawan bercerita, penampilan Berlian Hutauruk masih yahud. Harian Kompas edisi 1-2 April 2007 bahkan menulis reportase dan catatan khusus tentang Badai versi 1977 plus Berlian Hutauruk.

"Ketika saya diminta menyanyikan lagu dalam album itu, saya langsung memberikan yang terbaik yang bisa saya berikan," ujar Berlian Hutauruk seperti dikutip Kompas (2/4/2007). Kata-kata ini sama persis dengan ketika Berlian omong-omong dengan saya di Surabaya beberapa tahun sebelumnya.

Selain Berlian Hutauruk, ada lagi dua wanita penyanyi dari marga Hutauruk yang suaranya dahsyat. Bornok Hutauruk dan Tarida Hutauruk. Suara Hutauruk Bersaudara ini sama-sama soprano, tinggi, melengking, liris. Orang akan terkagum-kagum menyangka Berlian, Bornok, Tarida, menyanyi dengan suara kepala alias falsetto. Sama sekali tidak ngoyo. Mereka sering tampil sebagai solis paduan suara, salah satunya yang dipimpin Bonar Sihombing. Mereka bertiga juga kerap nyanyi di konser-konser musik seni, klasik Barat, di Jakarta.

Jadi, memang beda dengan Chrisye yang tetap bertahan di musik industri hingga wafatnya. "Saya menikmati hidup ini. Anugerah Tuhan, apa pun, harus kita syukuri. Bersyukurlah kepada Tuhan sebab Ia baik...," papar Berlian Hutauruk sambi mengutip Mazmur 136 yang terkenal itu.

Pertemuan saya dengan Berlian Hutauruk hanya satu kali itu saja. Pun tidak sengaja karena saya tidak hendak ikut kebaktian. Saya kebetulan baca brosur bahwa Berlian Hutauruk mengisi sebuah acara di Surabaya. Tapi, pertemuan singkat itu, kurang dari 30 menit, meninggalkan bekas mendalam di benak saya.

Lalu, setelah album Badai Pasti Berlalu dibahas kembali setelah Chrisye merekam lagi album itu, bersama penata musik Erwin Gutawa [versi 2001], saya mesti ingat Berlian Hutauruk. Begitu pula tatkala terbit kaset/CD Badai Pasti Berlalu versi 2007 saya ingat tante Berlian. Bukan penyanyi-penyanyi muda lagi yang ngetop di industri musik kita.

Bagi saya, Berlian Hutauruk lah penyanyi terbaik yang pernah membawakan karya-karya terbaik Eros Djarot. Kini, muncul ribuan penyanyi baru, tapi yang punya karakter, ya, Berlian Hutauruk. "Seng ada lawan," kata orang Ambon.

Saat menulis catatan ini, saya pun menikmati album Badai [2007] yang tata musiknya digarap Andi Rianto. Mengutip koran-koran, album ini dibuat modern, disesuaikan dengan bahasa ungkap musik pop mutakhir. Cara menyanyi pun gaya anak gaul sekarang. Agar bisa diterima generasi muda, menjadi referensi bersama.

Yah, sah-sah saja. Sebab, Berlian Hutauruk pun tidak pernah menyoal perubahan gaya aransemen, gaya nyanyi, dan sebagainya. "Dulu, saya memberikan apa yang terbaik yang saya miliki. Saya percaya, pemusik-pemusik sekarang pun memberikan yang terbaik," ujar Berlian Hutauruk, bijak.

Maka, saya pun berusaha 'masuk' ke cara ungkap Badai [2007]. Astrid [Merpati Putih], Pelangi [Glenn Fredly], Raihaanun [Semusim], Marshanda [Baju Pengantin], Lucky Octavian [Cintaku], Nindi [Matahari], Audy [Merepih Alam], Serasa [Ello], Andy [Angin Malam]. Gayanya lain sekali dengan tante Berlian.

Semakin lama menyimak lagu-lagu di album Badai Pasti Berlalu [2007], saya semakin mengagumi kehebatan Berlian Hutauruk. Bayangkan, di usia 18 tahun Berlian Hutauruk sudah memperlihatkan kualitas vokal yang luar biasa, ekspresi prima, dan mampu membawa pendengarnya larut dalam Badai. Sulit dipercaya, pada tahun 1997 ada penyanyi Indonesia yang baru berusia 18 tahun sudah mencapai kematangan seperti Berlian Hutauruk. Bandingkan dengan penyanyi belia sekarang macam Marshanda, Nindi... atau Audy di album sekarang.

Kok jauh sekali ya? Begitulah. Sering kali karya-karya besar justru lahir di masa prihatin. Di zaman instan, bergelimang fasilitas sekarang, rupanya manusia Indonesia baru bisa mendaur ulang karya-karya legendaris masa lalu. Apa boleh buat!

DAFTAR LAGU 'BADAI PASTI BERLALU'

1. Badai Pasti Berlalu [Eros Djarot]
2. Merpati Putih [Eros Djarot]
3. Pelangi [Eros Djarot]
4. Semusim [Eros Djarot]
5. Khayalku [Eros Djarot/Debby Nasution]
6. Baju Pengantin [Eros Djarot]
7. Cintaku [Eros Djarot/Debby Nasution]
8. Matahari [Eros Djarot]
9. Angin Malam [Eros Djarot/Debby Nasution]
10. Merepih Alam [Chrisye/Eros Djarot]
11. Serasa [Eros Djarot/Chrisye]

8 comments:

  1. Bener banget mas dari film maupun soundtrack, yang 2007 kalah jauh sama yang 1975

    ReplyDelete
  2. almbum BPB 2007 ini memang kalah jauh.... dari yang asli. memalukan sekali ada satu album remake dari album no 1 terbaik versi ROlling Stone Indonesia, tapi kualitasnya jauh.
    album remake, atau tribute, yang bagus, misalnya Fox Lies Down untuk Genesis, yang benar-benar keren. The FLower Kings membawakan CInema SHow lebih bagus dari Genesis sendiri

    ReplyDelete
  3. Terima kasih atas respons Devina dan Agam. Ini sekadar catatan ringan, kesan subjektif saya. Tapi sangat menyenangkan dengan kabar bahwa BPB versi asli menjadi album the best, nomor satu, versi Rolling Stones edisi Indonesia.

    Salam musik.

    ReplyDelete
  4. Saya lagi nyari2 tuh kaset asli BPB yang 1975 atau 1977 boleh. Tolong email ke: limmann@hotmail.com.

    ReplyDelete
  5. setuju banget badai pasti berlalu yg 2007 jd kehilangan makna. lagunya terdengar kosong, hampa n gk ad perjuangn hidup.

    yg jaman dulu punya jauh lebuh bagus. tiap kata terdengar n kerasa maknanya

    ReplyDelete
  6. Bahkan Erwin Gutawa pun tak berdaya menandingi kharisma BPB Erros Djarot 1977.

    ReplyDelete
  7. sy salah satu orang yg sampe skrang masih merinding bila mendengar berlian menyanyikan bpb, tak tertandingi. penghayatannya seolah menarik kita terbang ke alam alam lain

    ReplyDelete
  8. ya emang ga bisa diremake sih album itu. emang cocoknya sama penyanyi yg dasarnya seriosa spt hutahuruk bersaudara.

    ReplyDelete