14 April 2007

Belut Sakti di Flores

Oleh SAMUEL OKTORA
Sumber: Kompas 14 April 2007

Di Pulau Jawa, kerupuk belut sebagaimana layaknya kerupuk udang atau penganan dari tepung seperti rempeyek kacang lumrah dijajakan di mana-mana. Belut yang digoreng pun dikenal sebagai santapan yang gurih.

Namun, jangan sekali-kali menyajikan makanan dari belut kepada warga Desa Wolotolo di Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Seenak atau selezat apa pun hidangan olahan dari daging belut yang Anda sajikan kepada mereka, pasti tak akan disentuh, bahkan mungkin ditolak.

Bukan karena mereka tidak doyan, atau merasa geli, atau mungkin alergi. Penolakan semata mata karena belut dipercaya sebagai leluhur mereka. Warga meyakini, jika sampai mereka makan daging belut, apakah secara sengaja atau tidak, itu akan mendatangkan semacam kutukan. Kutukan itu bisa muncul dalam bentuk serangan penyakit, kecelakaan, atau malapetaka lainnya.

"Bukan hanya warga yang tinggal di Wolotolo yang tak makan belut. Saudara maupun kerabat yang ada hubungan keluarga, di mana pun mereka tinggal, di luar Ende atau di luar NTT, niscaya tak berani makan belut. Dari kota Ende, Wolotolo berjarak sekitar 20 kilometer, bisa dicapai melalui jalan negara Ende-Maumere.

Keberadaan belut di Sungai Lowomamo yang mengalir di Dusun Ae Kewu, Wolotolo Tengah, sampai kini amat dikeramatkan. Tak ada warga yang berani berbuat sembarangan terhadap belut yang ada di sungai tersebut. Kalau cuma menangkap, tak soal. Namun, makan dagingnya merupakan pantangan keras.

Di Dusun Ae Kewu yang berpenduduk sekitar 200 jiwa, belut dijadikan obyek wisata budaya dan dikelola oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Ende. Belut di daerah itu dikenal sebagai belut sakti Wolotolo.

Untuk dapat melihat belut sakti itu harus melalui pawang khusus. Pawang yang ditunjuk adalah Stefanus Lau, yang sehari-hari sebagai Kepala Dusun Ae Kewu. Kompas pun yang hendak melihat secara langsung keberadaan belut itu, awal Februari lalu, harus menemui Stefanus Lau untuk mengetahui persyaratan yang harus dipenuhi.

Ditemani dua bocah setempat, setiba di rumah Stefanus Lau, saya disambut istri Stefanus Lau, Ny Rosalia Dao, karena Lau sedang berada di kebun. Ketika saya menyebut soal belut sakti, nada bicara Ny Rosalia Dao pun terkesan hati-hati. Apalagi ketika saya menyampaikan maksud akan memotret belut, dia terkejut.

"Kalau ada orang yang berniat jelek terhadap belut, apalagi warga di sini sampai makan daging belut, itu pemali (pantang). Sebaiknya jangan salah omong. Seperti apa yang sedang kita bicarakan saat ini nenek moyang atau belut itu mendengar," tuturnya.

Setelah menunggu sekitar satu jam, Stefanus Lau tiba di rumah. Lau juga menanyakan maksud kedatangan saya. "Kalau hanya untuk melihat belut, cukup dengan memotong ayam saja, serta sedikit uang rokok kepada mereka yang membantu," ujarnya menjelaskan.

Ia menambahkan, kalau datang karena sakit atau ada maksud lain karena memiliki masalah berat, syaratnya perlu memotong ayam berbulu merah, serta dilakukan upacara adat.

Menurut Lau, pengunjung yang datang dari luar Ende tak hanya ingin melihat belut, tetapi juga ada yang karena sakit, atau sakit jiwa. "Kalau ada permintaan, mereka datang ke sini dengan cara memberi makan belut," tutur Lau.

Ny Rosalia Dao masuk ke dalam rumah dengan membawa seekor anak ayam untuk dipotong. Katanya, darah ayam itu dimanfaatkan untuk mengundang belut. Kemudian saya bersama Lau berjalan menuju sungai yang berjarak sekitar 100 meter. Lau membawa seorang bocah yang ditugaskan memotong ayam. Di tepi sungai, Lau berseru memanggil belut, "Mai mamo…, mai mamo…!"

Sebelumnya, anak ayam telah dipotong dan darahnya dikucurkan ke sungai untuk mengundang belut. Setelah itu, dagingnya disayat kecil-kecil untuk diberikan kepada belut. Potongan kecil daging ayam segar itu diletakkan di ujung ranting kayu, lalu disodorkan ke air dekat bebatuan besar. Namun, setelah ditunggu dan ditilik di sejumlah tempat, belut itu belum juga tampak.

"Kalau belut tak keluar, berarti memang belum rezeki. Mungkin juga belut itu marah. Belut yang keluar pun kadang tak tentu, bisa satu atau dua ekor, bisa pula belut warna hitam atau yang merah. Tergantung rezeki atau makna bagi masing-masing yang datang," tutur Lau.

Ia menambahkan, kalau yang muncul ke permukaan sampai dua belut, itu berarti pertanda baik. Rezeki bagi orang yang melihatnya.

Setelah bergeser sekitar delapan meter, kami menampak dua belut hitam di bawah bebatuan besar. Lau kemudian menyapa belut tersebut dalam bahasa Lio.

Dia menyodorkan ranting kayu dengan daging ayam segar di ujungnya. Namun, belut
sepanjang setengah meteran itu justru mengibaskan bagian ekornya. Lau terkejut, meski belut tersebut masih di tempatnya, tak segera menghilang ke dalam bebatuan.

"Rupanya belut ini marah sehingga tak mau makan," kata Lau.

Menurut dia, belut itu marah karena beberapa hari lalu, saat dia memberi makan, ranting bambu jatuh ke kali. Ketika ranting bambu itu diangkat, katanya, belut tersebut tampak marah. Beberapa saat kemudian, bocah yang ditugaskan memotong anak ayam tadi diminta terjun ke sungai dan membelai-belai tubuh belut tersebut. Akhirnya kedua belut itu pun mau memakan daging ayam yang diberikan.

Menurut Lau, jika musim hujan tiba sedang arus sungai deras, belut-belut itu akan menuju ke darat, tepatnya di rerumpunan bambu di pinggir kali. Keyakinan masyarakat setempat, belut sebagai leluhur mereka terkait dengan mitos nenek moyang mereka dari Dusun Detuwira yang bernama Sare Ngole.

"Dari cerita turun-temurun, Sare Ngole mengalami sakit kulit yang buruk. Orang Lio menyebutnya una atau menderita kulit dua. Karena malu, Sare Ngole lalu pergi dari kampungnya ke Sikka," ujar Lau.

Di Sikka, Sare Ngole bertapa di dalam goa. Dari proses pertapaannya tersebut Sare Ngole mendapatkan londa, kalung emas. Kalung emas tersebut lalu diletakkan di dalam peti di kampungnya.

Pada suatu siang, kalung sakti tersebut berseru-seru karena kepanasan. Kalung tersebut berbicara kepada Sare Ngole dan meminta agar ia menaruhnya di air. Sare Ngole lalu menaruh kalung tersebut di Kali Lowomamo.

Keesokan harinya Sare Ngole berniat kembali ke kali untuk mengambil kalungnya tadi. Untuk memberi tanda di lokasi, Sare Ngole menancapkan bambu di sekitar kali. Akan tetapi, keesokan harinya, ketika Sare Ngole kembali ke kali, kalung tersebut sudah tidak ada. Sare Ngole justru mendapatkan belut.

Sejak saat itulah, secara turun-temurun warga menjalankan ritual atau upacara adat untuk memberi makan belut.

2 comments:

  1. Hallo Pak Hurek, salam kenal dari Jerman. Artikel Bapak ttg "Belut Sakti di Flores" sangat menarik.
    Saya pribadi keturunan Flores (Ende-Lio). Apakah saya bisa minta artikel ini utk memperkenalkan salah satu kebudayaan dari Flores kpd orang asing atau WNI di LN ?
    Terima kasih sebelumnya.
    Indri

    ReplyDelete