09 April 2007

Ambruknya Surabaya Teater

Oleh LAMBERTUS L. HUREK

Saya melintas di kawasan Tugu Pahlawan, siang tadi. Banyak gedung tua di situ. Salah satunya Surabaya Teater. Ini bioskop yang pernah sangat terkenal di Surabaya pada 1970-an.

Sekarang, April 2007, bioskop itu tidak ada lagi. Gedungnya masih ada, tapi rasanya tidak akan bertahan lama. Mungkin, dalam hitungan pekan atau bulan, bangunan eks Surabaya Teater, itu bakal dirata tanah, lalu dibikin gedung baru.

Dulu, saya suka pelanggan Surabaya Teater. Film apa saja, khususnya yang jadi bahan pembahasan di media massa, saya lihat. Meski film-film yang diputar di situ pasti telat, lumayanlah daripada tidak pernah nonton. Suasana di Surabaya Teater khas: orang datang ke situ pasti dengan niat lihat film.

Kenapa tidak nonton saja di bioskop-bioskop Grup 21 yang lain? Aha, saya malas ke plasa, mal, atau pusat belanja modern. Sejak Plasa Royal dibuka di Jalan Ahmad Yani Surabaya, pertengahan 2006, saya belum pernah sekalipun mampir ke sana. Padahal, di Royal ada bioskop bagus, jaringan 21, dekat Gedung Graha Pena-Jawa Pos.

Melintas di depan plasa saja sebenarnya saya malas. Apalagi harus berlama-lama di sana, lihat manusia-manusia canggih dengan rupa-rupa gaya. Sejak dimutasi ke Sidoarjo, Oktober 2003, kemudian balik lagi ke Surabaya, 1 Januari 2006, saya memang lebih suka menikmati alam. Ini karena saya lebih intens bergaul dengan penyuka-penyuka alam, yang juga pelukis, pemusik, penggiat budaya, pejabat.... Umumnya, manusia-manusia model ini sudah bosan dengan plasa, mal, dan sejenisnya.

"Jiwa saya terasa kering kalau masuk ke pusat belanja modern," kata Bambang Haryadjie, pelukis dan penggiat budaya di Sidoarjo. Dia belasan tahun tinggal di Frankfurt, Jerman, pada 1970-an. "Dulu saya kerja di pabrik mobil paling mewah di Eropa. Jadi, saya sudah bosan dengan semua yang berbau modern, mewah, hedonis," kata Bambang.

"Barangkali takut uang sampeyan habis kalau ke plasa?"

"Bukan juga. Rata-rata orang yang sudah lama tinggal di Eropa malas ke plasa atau tempat hiburan modern. Semangat kembali ke alam tinggi sekali."

"Kurang gaul dong?"

"Busyet! Mau dibilang apa saja, terserah. Indonesia ini kan baru kenal plasa, mal, gaya hidup modern. Di belahan dunia lain, hal-hal begitu sudah lalu sejak 1960-an. Hehehehe...."

Kembali ke Surabaya Teater. Saat bertugas di Sidoarjo, saya masih sempat-sempatnya meluncur ke Surabaya Teater, nonton film. Film apa saja, khususnya Barat. Selama ini saya selalu menemukan joke-joke segar di film Barat yang mampu merangsang saraf tawa saya. Mereka melucu tanpa harus cekakan. Kalimat-kalimat dalam bahasa Inggris memang sangat efektif dalam menghasilkan guyonan cerdas. Beda dengan guyonan ala Warkop, Ateng-Iskak, Tukul Arwana, atau pelawak ketoprak.

Pertengahan 2006 saya menonton di Surabaya Teater bersama beberapa wartawan senior.
Eit... sedang asyik menonton, beberapa tikus berkejaran. Ada penonton menjerit, takut, banyak yang malah tertawa. Tempat duduk bioskop itu pun jelek. Tidak terurus. "Kayaknya tidak akan panjang usia bioskop ini. Sebentar lagi juga tutup," kata Abdul Wachid, eks wartawan Suara Indonesia, yang kini mengelola tabloid di kawasan Tanjungperak.

Benar saja. Awal tahun ini Surabaya Teater benar-benar tutup untuk seterusnya. Bioskop elite pada 1970-an itu kalah bersaing dengan bioskop-bioskop di plasa, mal, supermal, junction, dan sejenisnya. Zaman yang kian memuji kemewahan, hedonisme, tak mampu dihadapi pengelola Surabaya Teater. Ini juga dialami Mitra Teater [Theatre] di Balai Pemuda, Surabaya. Tahun depan, bioskop ini dipastikan tutup selamanya.

Mengutip Soerabaia Tempo Doeloe, Radar Surabaya 23 Mei 2001, Surabaya Teater diresmikan pada 6 Agustus 1971. Saat itu gedung ini punya 981 kursi, terdiri dari 757 kelas satu, sisanya [224] kelas umum. Setiap bulan Surabaya Teater memutar 6-7 film, dua di antaranya film Indonesia.

Karena kapasitasnya hampir 1.000 penonton, dan selalu ramai, menonton film di situ mirip nonton bola. Meriah banget!

"Nonton film zaman itu asyik sekali. Penonton puas," ujar Sugeng Irianto, wartawan hiburan Jawa Pos, pada era 1980-an.

Bioskop-bioskop di tanah air waktu itu belum dikapling-kapling menjadi 'anaknya bioskop' alias sinepleks ala Grup 21 versi Keluarga Cendana. Suasana ini hilang ketika teater itu dipecah menjadi empat studio yang memutar film berbeda.

Ambruknya Surabaya Teater, kemudian akan disusul Mitra Teater, 'sangat wajar' karena masyarakat punya begitu banyak alternatif hiburan. VCD [plus bajakannya] berjibun. Televisi 24 jam. Sinetron marak. Apa lagi yang harus dicari di bioskop? "Ndelok nang omah opo'o?" ujar orang Surabaya.

Kalau bisa nonton gratis di rumah, komputer/laptop pribadi, kenapa harus ke bioskop? "Tapi yang jelas, suasana di bioskop tidak bisa digantikan oleh televisi atau VCD di rumah," ujar Sugeng Irianto, yang getol menulis berita-berita hiburan di Jawa Pos, pada era 1980-an.

Tapi, kenapa bioskop-bioskop 21 di plasa masih ramai? Bahkan, menolak penonton kalau ada film remaja yang 'heboh' macam 'Ada Apa dengan Cinta'?

Saya membaca ini ada kaitan dengan perilaku multitasking yang dikondisikan di tanah air sejak pertengahan 1980-an.

One stopping centre! One stopping entertainment! Bikinlah tempat hiburan dengan seribu satu gerai: plasa, toko buku, salon, perhiasan, busana, bioskop, kafe, warnet, resto, pijat, hotel... apa sajalah. Semua jadi satu! Bila perlu gereja atau masjid di situ juga.

Maka, manusia-manusia modern yang gaul itu tidak akan puas kalau hanya datang untuk melihat bioskop. Dia harus belanja, nongkong di kafe, makan-makan, cek email, merawat wajah dan rambut... ya, semua di satu tempat.

Lha, kalau engkau hanya bikin bioskop thok, ya, habislah kau. Sebab, itu tadi, manusia-manusia sekarang itu, ya, multitasker person. Melakukan banyak pekerjaan pada saat sama. Chatting dengan tujuh orang pada saat sama. Mungkin engkau ngobrol dengan temanmu, tapi di saat sama engkau harus kirim SMS atau terima panggilan masuk di ponsel. Manusia modern semakin sulit fokus.

Yah, saya kira, revolusi budaya manusia Indonesia inilah yang telah mengubur secara sempurna pusat-pusat hiburan masa lalu macam Surabaya Teater. Mau apa lagi?

No comments:

Post a Comment